Projek Cerpen Bag. 1
Juli ke 3- Meratapi Nasib Perusahaan
Pagi kuawali dengan pikiran kacau.
Berangkat menuju kantor dengan meninggalkan hardikan sarkas pada Mia, istriku.
“Tagihan! Tagihan! Saja kau ini,
wanita jalang. Teruskan saja hobimu shopping
sama geng-mu. Mikirlah kalau perusahaan mau kolaps. Ha?” Kataku memaki-maki
Mia, sambil melempar selembaran kertas berisi
tagihan yang barusan disodorkan Mia, nyaris tanganku melayang ke wajah wanita
itu.
Persetan dengan sumpah serapah yang
tercecar dari mulut wanita itu, buru-buru aku bergegas menjauhinya. Menenteng
koper laptop keluar rumah, meloncat kedalam jeep, lalu tancap gas menuju
kantor. Pikiran yang menggumpal dikepalaku saat ini hanyalah; Rugi, kolaps,
hancur. Oh, karirku. Hartaku.
Aku terus memacu jeep, menekan gas
sedalam mungkin agar secepatnya sampai ke kantor. Satu-dua pengendara motor
nyelonong ke tengah jalan, memaksa kakiku menekan rem dalam-dalam, memukul klason
kuat-kuat. Sial. Dasar orang Indonesia, semua udik, semua gak tertib.
“Selamat pagi, Bapak.” Sapa Siska,
sekretaris ku, menebar senyuman setelah menutup pintu ruangan, menyodorkan
berkas-berkas di atas meja. Aku yang baru saja mengempaskan punggunggku ke atas
kursi menatap telak ke arah wanita itu. Tidak ada kata-kata genit pagi ini.
“Ehm. SMS saya sudah dibaca tadi
pagi?” Lanjut Siska tanpa mengurangi senyum manis yang seolah-olah dibuatnya
sedemikian hingga. SOP sekretaris kantoran.
“Ah. Ya! Belum. Langsung saja
beritahu saya sekarang, mumpung saya belum meeting
sama klien.” Aku menyingkirkan kertas kasar. Siska tetap tersenyum.
“Em. Itu sebenarnya isi SMS-nya ke
Bapak. Jadi klien kita membatalkan kontrak. Perusahaan gagal memenangkan
tender, Bapak. Karyawan banyak yang resign, minta tunjangan.”
(***)
Sejak sebulan lalu masalah kantor
yang tak kunjung usai semakin membuatku frustasi.Kelebihan karyawan yang tak
pernah ku antisipasi membuat pengeluaran semakin membengkak, ditambah 90% karyawan yang bekerja
tidak punya kompetensi. Oh, mengapa aku terlambat mengetahuinya? Kemana saja aku
selama ini.
Pagi ini,hampir menjadi akhir dari
semuanya. Saat kubuka mata disambut berita turunya harga saham, kalah tender,
dan kerugian-kerugian yang membuat kantorku bermasalah dengan Bank. Semua
berita itu dan kenyataannya, menjatuhkanku ke jurang nestapa, aku terperosok pada
lumpur yang menenggelamkan selama-lamanya. Aku kalah.
Istri yang tidak bijaksana,
karyawan yag takut hanya ketika di depan muka, lingkungan yang tidak sehat, dan
semua kurasa tidak ada yang memberiku ruang untuk berkreasi, mematikan
imainasi.
03 Agustus 2017
Ditulis unntuk memenuhi program kemandirian "one day one article".


Comments
Post a Comment