Cerita Horor- Malam Jumat di Rumah Baru
Cerita Horor- Malam Jumat di Rumah
Baru
Ini malam pertama aku menempati
rumah baru. Gedung bercorak bangunan tempo dulu, seluruh cat dinding sudah
mulai kuyu, sebagian lagi retak. Dari keterangan si penjual, rumah ini selalu
meminta korban pembeli. Sudah banyak pembeli yang baru menempati semalam saja,
paginya sudah kabur dan meminta ganti rugi. Itulah penyebab penjualnya- yang kebetulan adik keluarga
pemilik rumah,- menjualnya dengan harga murah. Pemilik rumah yang asli,-
menurut sang adik- mati bunuh diri bersama istri dan kedua anaknya. Peristiwa
bunuh diri satu keluarga ini pun sempat terbit beberapa kali di media massa.
Tanpa memperdulikan berita horror itu,
aku bersemangat membeli rumah untuk segera kutempati. Tak masalah dengan cerita
seram, bunuh diri, atau penghuni yang kabur, ada pula yang mati, yang penting
aku dapat rumah murah, besar dan di pinggiran kota.
(***)
Bunyi kriet pintu dibuka. Aku tergeragab sejenak, lalu meraih remote control yang sejak tadi
tergeletak sembarangan disamping telapak kaki, mengecilkan suara.
Ah, tiada orang pula di rumah.
Benarkah setan penunggu rumah yang membuka? Pikirku sesaat. Kini degub jantung
mulai terpompa. Masih ketika aku bertanya-tanya, tiba-tiba saja pintu tertutup dengan cepat, menciptakan
bunyi gedor kayu beradu. Aku hampir meloncat, disusul remote
control yang terlepas dari genggaman. “Setan
-Wewe Gombel –Gendruwo- Kuntilanak -Pocong -eh pocong. Sopo Kowe?”
“He! Setan apa itu?” Teriak ku
memberanikan diri, masih saat posisi duduk bersiaga. Jemariku aktif meremas
selimut yang kini tak lagi membalut tubuhku.
Tak ada tanda-tanda. Suasana kembali
lengang sekian lama.
Aku melepas sisa selimut yang
tersangkut di kaki, menjejaki lantai kemudian dengan mengendap memaksa
keberanianku mengintip yang terjadi di ruang tengah. Maka saat pintu kamar
sedikit terbuka, kujulurkan pandanganku menjamah seisi ruangan, menyisir setiap
sudutnya mencari hal-hal aneh tadi. Astaga!
Dua puluh lima tahun semasa
hidupku, baru kali ini melihat penampakan yang begitu mengerikan: Tampak olehku
sosok wanita bergaun putih panjang, rambut menjuntai ke tanah,- remang-remang
kulihat dari balik pintu, sosok itu berdiri menghadap ke halaman depan. Mataku
kaku menatapnya, meski suasana remang, jelas kulihat wanita itu dari samping,
melayang-layang, sebentar pudar, lalu menampak lagi.
Lama sekali aku tak mampu bergerak,
terhipnotis oleh kosong suasana dan mencekam, lalu untuk sesaat, mataku
berkunang-kunang, tak jelas memandang, kemudian hilang.
(***)
Aku masih tak bergerak. Berbaring
tak beralas, kurasakan dingin menempel di lantai- seperti semen, ataukah batu
besar?
Sekian lama kembang kempis napasku
tersengal, susah bernapas. Ruangan yang remang, nyaris gelap. Hanya yang
kurasa, seperti di bawah tanah; Bau tanah yang membuat susah benapas, tiada
suara, beku. Hanya yang kudengar suara tarikan napasku sendiri yang mulai tak
teratur, detak jantung pun mulai
melemah. Aku dimana?
“Dia masih tak sadarkan.”
“Oh. Haruskah kita mulai sekarang?”
“Sabar sebentar. Baiknya kita tunggu Pak Kepala.” Sayup-sayup terdengar percakapan dua orang, lalu langkah
kaki berderab mantap mendekati.
Aku masih terbaring, sungguh tak
mampu menggerakkan bibirku sedikit saja, memendam seribu pertanyaan yang
menggumpal di rongga. Maka aku pasrah saja, saat dua orang itu mengangkat tubuhku,
membawanya pergi.
Tubuhku masih kaku, membeku seperti
bongkahan es yang siap pecah kapan saja. Dari sudut mataku terlihat dua orang
berpakaian serba hitam; Jubah, tutup kepala, dan penutup muka,- berjalan mendekati dengan golok yang siap
menerkam di tangan masing-masing. Aku
meronta, namun sia-sia. Tubuhku masih terbujur kaku.
Kali ini sebilah golok teracung
tepat di atas kepala. Sepersekian detik kulihat golok itu terbang lurus menuju pangkal leher
dengan adegan melambat, menggores kulit lalu menekan pangkal leher dalam-dalam,
nyaris putus. Darah tercecar memenuhi seluruh ruangan.
(***)
Seluruh koper siap di dalam mobil,
aku mendorong pintu belakang. Meloncat kedalam mobil lalu menekan gas
dalam-dalam. Sepagi ini, semoga Pak Martin masih di rumah.
Seperti yang kuprediksi, Pak Martin
membuka pintu tak lama setelah ku ketuk.
“Bagaimana Tuan Roger? Jadi lanjut
membeli rumah?” Katanya menyambutku sambil menebar senyum kemenangan.
“Jadi.” Jawabku pasti.
Pak Martin mengendorkan senyum
lebarnya. Kali ini wajahnya penuh antusias, penasaran, seolah tak percaya
dengan ucapanku.
“Oh. Tunggu. Maksutku, aku jadi
semalam saja tingal di sana. Baru kali ini aku semalaman terus-terusan tidur
dengan posisi tertindih.”
Pak Martin terkekeh, sambil menepuk-nepuk
pundakku ia berujar, “sudah kuduga Nak Roger, semua orang pasti takut dengan
gangguan setan. Kita memang punya nyali kecil, sedang ekspektasi kita terlalu besar.
Ini yang sering aku sebut gambling.”
10 Agustus 2017
Ditulis untuk memenuhi program kemandirian
“one day one article”. Nantikan karanganku selanjutnya, kamu juga bisa baca
tulisanku yang lain.


Comments
Post a Comment