Catatan kegiatanku minggu ini: Pendidikan Manajemen Pemberdayaan

Agustus ke 06- Catatan kegiatanku minggu ini: Pendidikan Manajemen Pemberdayaan


Bagaimana konsep  pendidikan manajemen pemberdayaan seperti judul diatas?

Akhir-akhir ini banyak sekali anak-anak SMA yang datang pada saya hanya sekedar meminta pendapat: Bagaimana ide-ide mereka secepatnya dapat terealisai dan bisa menjadi sesuatu yang berharga bagi mereka. Ada juga yang masih bingung dengan rencananya kedepan. Semuanya mengarah pada kesimpulan ; Anak-anak setingkat SMA membutuhkan seseorang yang bisa mendorong mereka mencapai kesuksesannya (mentor).

Sebelum saya melanjutkan pembahasan, terlebih dulu saya ingin mengapresiaisi keterbukaan adik-adik saya ini, yang mau berkeluh kesah kepada saya , membeberkan unek-uneknya, mencari solusi. Satu diantaranya yang sangat membekas, ketika kami sampai  terdiam lama, karena saya juga bingung memberikan solusi kepada adik saya yang satu ini.

Ya. Saya tidak memberikan solusi kepada mereka, yang saya lakukan hanya mendengarkan rencana-rencana mereka, tentang sebuah inovasi, pencapaian, atau sekedar motivasi yang perlu dibangun dalam menggapai semacam impian. Hasilnya luar biasa. Saya sendiri agak sedikit tertutup dengan usulan inovasi yang mereka utarakan, karena  selama ini tidak pernah terbersit pemikiran inovasi semacam ini. Namun yang perlu saya garis bawahi di sini adalah tentang sebuah keresahan.

Sampai di sini, saya akan bercerita tentang pengalaman saya sendiri, mengajar di kelas formal (meski hanya diajak).

Pengalaman saya saat masuk kelas formal, begitu susahnya saya membuat fokus para murid, atau tidak adanya antusias yang menyeluruh dari mereka. Mengapa demikian?

Rata-rata siswa mudah menguap,  mengantuk, dan terpusingkan pelajaran.  Jika pagi harinya banyak yang malas-malasan, apalagi siangnya. Malah banyak alasan yang diutarakan, mulai dari kelelahan, pusing dengan hitung-menghitung, dan seterusnya.

Baiklah, di sini saya benar-benar tidak bisa menyalahkan mereka, karena bisa jadi beberapa diantara para siswa memang tidak menyukai pelajaran yang saya ajarkan. Bisa jadi saya yang tidak bisa membawa suasana lebih nyaman untuk belajar. Bisa jadi juga, pendidikan formal memang tidak diperlukan. Yang terakhir ini tentu membutuhkan kajian yang luas (hubungan sebab-akibat, visi-misi, metode).

Kemudian saya akan menutup cerita kesan saya minggu ini, dengan tayangan video yang tersebar di media sosial, pagi tadi. Dalam video tersebut memberikan pesan tentang ideologi masyarakat, yang cenderung mengikuti  pola yang sudah ada. Orang lebih memilih mengikuti pola yang sudah dilakukan banyak orang dari pada berpikir  kritis, apa tujuan, dan mengapa? 5 W 1 H. Dan akhirnya, perbuatan yang berbeda dianggap salah oleh masyarakat. Dan bagaimana mau berbeda jikalau  semuanya sudah mengikuti pola yang sudah dilakukan turun temurun?

Tulisan ini akan merangkum seluruh cerita pengalaman saya di atas. Mencari benang merah, mengapa adik-adik SMA saya banyak yang mengadu kepada saya. Apa penyebab sebenarnya siswa di sekolah malas-malasan diajar ketika di kelas. Dan apa pendapat saya tentang  video diatas. Selamat menikmati.

Kreatifitas

Sudahkah kita berfikir kreatif?

Oh. Inilah yang sering terlupakan oleh kita. Bagaimana pentingnya menumbuhkan kreaifitas bagi diri sendiri. Apa hubungannya pemikiran kreatif dengan permasalahan diatas? Pertanyaan ini saya buat untuk anda. Ya. Benar. Semua pengalaman yang saya rasakan selama minggu ini belum terasa pada proses menumbuhkan kreatifitas seseorang. Akhirnya pikiran kita mati untuk melakukan sebuah inovasi, maka saya sangat mengapresiasi adik-adik  SMA yang sudah memiliki pemikiran yang mengarah ke sana.  (Yang saya tahu tentang rumus kretifitas adalah tidak adanya larangan dan perintah).

Berarti kita harus mengkreatifi adik-adik yang malas belajar? Mengajar dengan kreatif agar tidak membosankan di kelas? Ya. Jawaban dari saya tentu berbeda. Karena ini ada hubungan dengan synopsis video di atas.

Saya akan mengambil sebuah analogi tentang pembelajaran di kelas. “ Saya suka menulis. Saya juga bekerja di konter hape, selain Bapak saya mewajibkan saya  setiap pagi mengantarnya bekerja. Bapak saya seorang pilot. Ibu seorang dosen. Kakak buruh pabrik. Ah, mengapa bapak menyuruh saya menjadi dosen, tadi pagi. Sialnya, sore hari sudah menyuruh saya ikut kakak menjadi buruh pabrik. Gila.”

Jika sudah membaca analogi di atas, benar saja sejak awal saya tidak berani menyalahkan adik-adik yang  frustasi di kelas. Karena mereka akan terbebani dengan banyaknya pelajaran yang harus di pahami, diujikan, lalu dengan sesuka hati kita menghakimi mereka bodoh, malas, dan lain-lain. Aih. (Sambil melihat gambaran video diatas, bagaimana menurut anda?)

Saya berfikir. Benarnya, peran saya di sini untuk mendorong adik-adik saya yang sedang kebingungan di atas. Menemaninya berjalan pada proses pembelajaran, memberi fasilitas yang layak, sambil terus mendorong mereka pada pencapaian. Ini akan lebih efektif jika diterapkan. Kelas formal tetap diperlukan , dengan catatan, siswa sudah tahu apa yang dibutuhkan.

Jika sudah terindentifikasi  seperti ini, semua berjalan efektif dan efisien. Quisioner permasalahan sudah bukan saatnya menggali tentang kendala-kendala yang bersifat personal (malas, tidak aktif, dan lain-lain!!), melainkan usulan inovasi-inovasi yang membuat kita tercengang. Selamat berjuang!

06 Agustus 2017


Ditulis untuk memenuhi program kemandirian “one day one article”. Sudah sekian saja, karena keterbatasan waktu (Ini sudah setengah satu malam), lain waktu saya akan membuat tulisan semacam ini yang lebih banyak dan lengkap. Biarkan uneg-uneg saya terbuka secara frontal.

"Tuhan akan Murka jika manusia tidak menggunakan akalnya" Bapak Kiai Tanjung.

Comments

Popular Posts