Cerpen | Cerita Tentang Marni
Juli ke 17- Cerita
Tentang Marni
Aku tahu, ibuku seseorang yang selalu punya
cerita pada kami.
Malam ini- setelah
shalat isa’ usai-, dan seperti biasa.
Aku menunggu cerita darinya. Cerita yang malam kemarin terpotong sebab rasa
kantuk menyerangnya. “Maka kemarilah Ndu. Kaki Ibumu pegal-pegal. Kamu ingin
tahu kelanjutan kisah Marni juga kan?” Katanya sembari memasang posisi
tengkurap. Minta dipijat.
Marni terus
mempercepat langkahnya. Ia tak memerdulikan duri-duri semak belukar dan
rerumputan yang ganas menggores kulit kakinya. Perempuan itu terus berjalan .
Napasnya tersengal-sengal sambil sesekali mengencangkan balutan selendang yang
mengikat bocah berusia dua tahunan di punggungnya. “Aku habis melihat Surau di
hutan seberang kampung Pak. Ayo pindah di kampung yang baru babat. Biar bocah-bocah kenal tulisan alip bak tak.”
Lima tahun
berselang sudah Marni dan suami menapakkan kaki di hutan belantara Sumatera.
Masih terkenang ketika suku adat
sumatera berjejal menyambut. Marni dan
suami berada dalam rombongan bus. Lima tahun berlalu, ia masih teringat saat
rombongan dari Jawa Timur bergotong royong membuat perkampungan baru. Mencari
kayu untuk keperluan rumah, alang-alang untuk atap, dan bambu-bambu sebagai
penutup dinding.
“Ada apa to Bu Ne?
Datang-datang sudah kayak tukang burung gak laku saja. Sana bikinin kopi!”
Jawab Solikin sambil membanting beberapa kartu di atas meja. “ Ceki. Mana uang mu. Haha. Bandar lagi-bandar
lagi…”
“Jiancuk! Solikin
lagi. Ngutang dulu Man!” Jawab Wakidi sambil membanting kartu. Ia
menggosok-gosok kopiah kumal yang menempel di kepalanya.
“He... Eh orang
laki-laki ada istri di sawah malah maen saja. Sadar Pak, sadar. Mau jadi apa
kelak si Dul?” Teriak Marni sambil menurunkan bocah itu di pangkuan Solikin
kasar, bergegas munuju dapur.
“Njaran ya Nak!” Jawab solikin sambil
mendekap bocah itu. Membanting kartu lagi.
Lima tahun pula
Marni selalu mengeluhkan pergaulan suaminya di tempat baru. Ia tidak
mempermasalahakan jika ia harus bekerja di sawah, sementara suaminya yang
katanya mantan penunggang kuda di kota Ngawi, tak bisa mencangkul. Maka, setip
hari ia ikhlas bekerja di sawah;Menanam padi, ketela, mencari lauk ikan di
kali, dan kadang menumbuk singkong untuk
dimakan. Marni juga tak peduli jika suaminya kecanduan Remi, istilah yang ia kenal dari teman-teman suaminya yang setiap
hari bermain kartu di rumahnya.
Seminggu yang lalu
saat petugas menggerebek rumahnya, Marni malah berharap agar Solikin di tangkap
dan dibawa ke penjara. Perempuan itu sudah muak dengan ulah Solikin dan
teman-temannya yang setiap hari kerjaannya berjudi, entah di rumahnya maupun di
warung Supi. Namun ia menjadi lebih
jengkel saat tahu Solikin bersembunyi di lumbung gabah dan aman dari
pemeriksaan petugas.
Marni hanya
khawatir dengan masa depan anak-anaknya kelak. Bagaimanapun juga, tekatnya
merubah nasib sudah bulat. Sedangkan satu-satunya cara adalah pindah ke
perkmpungan baru, dimana disana terdapat surau yang setiap sore ramai anak-anak
belajar mengaji.
Marni bersiap
dengan tumpukan kain yang terbungkus di karung. Badar, anak sulungnya memikul
karung mengikuti langkah Marni yang
seolah tak kenal lelah. Ia tak menghiraukan rengekan Badar yang mengaduh
kesakitan saat kakinya tertancap duri-duri tajam. Dul, asik bermain dengan
sebotol dot yang berisi air tajin di gendongan belakang.
“Pokoknya jangan
sekali-kali kau seperti Bapakmu. Aku ndak rela kamu nanti jadi tukang Njaran, tukang mendem. Biar saja Nakalnya di bawa bapakmu semua. Susahnya diambil
ibu semua. Kau dan adikmu jadi orang yang bener,pinter ngaji, bisa baca doa. Ya
Dar?”
Badar hanya nyengir, merasakan kaki yang penuh luka
tertancap duri.
Sejak hari itu
Marni bertekat memperbaiki budi pekerti anak-anaknya. Ia berniat menyerahkan
kedua anaknya ke pemilik surau. Maka sejak hari itu, perempuan itu menjadi abdi
pemilik surau. Ia bersedia bekerja keras membantu membersihkan rumah, jika
siang menanam sayuran di ladang, terkadang juga menjadi juru masak di
acara-acara surau.
Dan berkat
kegigihannya, kepasrahannya kepada
Gusti, keberkahan selalu dekat dengannya. Adalah Solikin, meski datang dengan
pakaian yang compang-camping, rambut botak, dan luka-luka di sekujur tubuhnya.
Marni dengan ikhlas menerima laki-laki yang doyan judi itu di hadapannya. “Saya
sih terserah. Karena semua demi masa depan anak-anak.” Ujar Marni saat menjawab
rengekan Solikin.
Sejak hari itu
pula. Gusti Allah mengembalikan Solikin ke pelukan Marni. Mereka hidup bersama
dan di karuniai dua anak lagi. Mereka
hidup bersama meski Solikin masih suka berjudi hingga ajalnya menjemput . Saat
usia Solikin memasuki umur tujuh puluhan.
“Ibu tidur lagi
kayak kemarin?” Tegurku. Tanganku keras memijit telapak kaki perempuan tua itu.
“Eh. Enggak Ndu.
Pijitanmu gak terasa. Coba pakai kaki saja”
“Hah, ngerepotin!”
“Bocah di suruh
mijitin gitu saja mengeluhnya minta ampun. Mau jadi kayak Bapakmu juga. Ha?
Lelaki pemalas.”
17 Juli 2017
Ditulis untuk memenuhi program kemandirian "one day one article". Sebuah cerpen yang dibuat secara ringkas. Semoga bermanfaat!



Comments
Post a Comment