AMPURA : Benih yang Sedang Merekah Di Desa Gemenggeng
Asosiasi Mahasiswa dan Pemuda
Nusantara yang menginspirasi semangat juang
di kalangan anak muda, juga hasrat menanam sayur sehat hari ini.
![]() |
Ahmad Muklisin, pemuda asal bengkulu, menanam selada keriting di media vertikulture. (mada web) |
Kring... Kringg... “Halo?” “
Halo, Posisi”? Muklisin, peserta bhakti sosial, terdengar bersemangat menelpon.
Pagi ini sepertinya dia sudah siap mengikuti kegiatan sosial di desa
Gemenggeng. “Di kamar, gimana”? “Ayo
jadi gak ? Aku udah ready, bang
Deva juga mau gabung”.
Pomosda ragi masyarakat, hari ini
akan dilaksanakan di rumah mertua Amam Baharudin. Menurut Amam, selaku koordinator kegiatan, di
desa mertuanya tak sedikit pekarangan yang tidak dimanfaatkan
dengan baik oleh pemiliknya. Dia berharap, dari kegiatan Ampura (Asosiasi
Mahasiswa dan Pemuda Nusantara) menanam
sayur sehat di pekarangan mertuanya, dapat memotifasi masyarakat bahwa kebutuhan
pokok seperti cabai, kangkung, padi, bawang merah, dan lain-lain bisa di penuhi
secara mandiri. Lalu, dia berkelakar “ Asalkan jangan kaget kalau disana, di
belakang rumah masih banyak jamban !”
Sekitar pukul 07.00 kami
berangkat. Menyusuri jalan yang membelah desa Jetis, sebelum sampai ke desa Getas, motor kami
arahkan kekiri, menyusuri jalan setapak hingga terlihat gapura bertuliskan desa
Gemenggeng, sampai dirumah tujuan, amam mendahului memarkir motor.
Program tanaman sela-lahan sela,
sebagai langkah menuju kemandirian pangan.
Praktik mewujudkan kemandirian pangan dilakukan dengan memanfaatkan
lahan-lahan sekitar rumah dengan metode Pola Tatanan Sehat dan Amanah (PTSA) mulai dari persiapan media, perawatan dan panen.
Amam Baharudin, mencoba mengenalkan program Bapak Kyai Tanjung tersebut kepada masyarakat. Sejak tiga tahun
lalu, ikhtiarnya adalah mengelola lahan rimbun nan penuh kadar asam tersebut
sebagai penyedia kebutuhan pokok rumah tangga .
Lahannya terletak di belakang
rumah, memanjang hingga bertemu persawahan penduduk. Memiliki diameter sekitar 15x30 meter.” Sistem
perairan sawah yang kurang baik, menyebabkan air merembes ke lahan tersebut. Sehingga pekarangan rumah
terlihat lebih mirip seperti rawa-rawa. Tumbuhan yang dapat bertahan hidup pun
berupa rumput jenis teki dan beberpa pohon turi.” Ujar amam menceritakan kondisi lahan tiga tahun lalu.
Dalam seminggu amam hanya bisa
terjun ke lahan selama dua hari. Dalihnya, kerena rumahnya jauh dari mertua, selain itu
kesibukan jadwal pekerjaan juga menuntut. Kendati demikian, wajah pekarangan
yang kami lihat saat ini jauh berbeda dari apa yang diriwayatkannya tiga tahun
lalu. Terdapat dua kolam ikan, di sampingnya berjajar vertikultur lengkap
dengan sayuran. Parit-parit kecil untuk mengalirkan air ke sawah, disampingnya
dibuat gulutan-gulutan yang ditanami sayuran kangkung, sawi, cabai, terong, dan
sejenisnya. Sebagian tanah yang masih banyak mengandung kadar air di tumbuhi
pohon turi, bagian paling belakang
ditanami empon-empon sampai ke perbatasan persawahan. Saya kagum dengan
konsep lahan yang dirancang Amam, dan bersemangat memanen kangkung di
vertikulture.
Sumpah! Khasanah biodiversitas
yang tercipta di lahan ini mampu membangkitkan semangat liburan kali ini untuk terus
bertani. Selintas memandang lahan itu mengingatkan saya pada maklumat Bapak
Kyai Tanjung yang berjudul “ Islam itu Entrepreneur sekali”. Bahwa, memakmurkan
bumi-Nya, berkomunikasi dengan alam, berjiwa mandiri.Bahwa, kita berasal dari tanah,
makan, minum, tidur tidak bisa tanpa tanah, tentu potensi yang kita miliki
harus dikembangkan guna mengelola garapan dunia. Islam pada penekanan bahwa
setiap insan dianjurkan untuk kreatif dan inovatif.
“Tanaman sela ini sebagai jawaban
mahalnya cabai saat ini,” Ujar Amam. “Semua orang panik saat dipermainkan harga
cabai.” Coba saja jika semua masyarakat memiliki tanaman vertikultur di depan
rumahnya dan ditanami cabai, tentu tidak ada lagi orang yang merasa
dipermainkan dan saling menyalahkan gegara cabai. “Semoga dengan ini semakin
banyak aplikator tanaman sela program kemandirian.” Amam berkata dengan mata
berbinar, “ Saya menanam ini juga untuk memberikan solusi kepada masyarakat.”
Kring... Kring.. Kring...
Dering telepon berbunyi kembali. “Halo?” “ Halo, posisi?” Dicky Sulaiman,
koordinator marketing sayur sehat, juga koordinator Ampura. “Sekitar tujuh
orang, empat pria dan tiga wanita, sepuluh menit lagi kami sampai ke desa
Gemenggeng. Siap membantu!” Teriakan Dicky memberi informasi, suaranya
terdengar terputus-putus dan terlalu bising oleh kendaraan dijalan.
Mereka baru saja menyelesaikan
tugasnya . setiap hari minggu, Dicky dan tim menjual sayur sehat dan
mengedukasi masyarakat. Berangkat menggunakan kolbak hitam, sekitar lima sampai
tujuh orang berseragam kaos putih, bergambar sayur, bagian depan terdapat
tulisan Respon, Respek, Peduli. Berangkat setiap bakda subuh. Sasaran mereka
adalah para peserta Car Free Day. Jika anda punya sedikit waktu, anda bisa
bertemu mereka setiap hari minggu di alun-alun kab. Nganjuk.
“Kami tidak berjualan sayur
semata,” kata Dicky sembari menata box sayur di gerobak pickup. “Selama ini,
proses produksi sayur masih jauh dari kata sehat. Banyak produsen menanam sayur
menggunakan pestisida berlebihan. Sedang tak sedikit juga konsumen yang kurang
memperhatikan kesehatan..” Pada kenyataannya, masyarakat Indonesia masih banyak
yang memilih sayur murah daripada sayur sehat.
Pada pertengahan 2016 lalu, tim
ini terbentuk. Visi mereka adalah menjual edukasi tentang pentingnya makanan
sehat, tentang perang pangan di negeri ini (banyaknya makanan yang mengandung
bahan-bahan kimia berbahaya), dan pola hidup sehat. Edukasi yang dijual adalah
bagaimana masyarakat bisa menyediakan sayur sehat tanpa membeli. Caranya dengan
penanaman sayur dipekarangan menggunakan media vertikulture.
Singkat cerita, tim marketing
menjadi media penyalur edukasi program kemandirian pangan. Para aplikator
menanam di masing-masing daerahnya dengan Standar Operasional Prosedur (SOP)
yang dibuat oleh Ampura. Setiap sabtu sore, mereka menyetor ke Ampura pusat di Tanjunganom,
Nganjuk, Jawa Timur. Untuk selanjutnya, sayur sehat di packing oleh tim
marketing dan keesokan harinya di distribusikan ke pelanggan.
Tak sedikit khalayak yang minat
bergabung dan diberdayakan oleh Ampura. Diawal Januari 2017, terdapat beberapa
tempat di Jawa timur yang digunakan sebagai pos-pos marketing. Diantaranya
Kediri dan Malang. Visi mereka sama, yaitu mengedukasi masyarakat tentang
pentingnya pola hidup sehat dan mandiri. Sedang metode pemberdayaan
masyarakatpun juga terlihat sama, masing-masing aplikator menyetor ke marketing
dan di distribusikan ke pelanggan.
Sekelompok anak muda berdiri berkacak pinggang, berjajar ditepian
lahan vertikultur. Sudah hampir dua jam tak terasa lahan Amam selesai dipanen, selada yang awalnya
terlihat menghijau kini pun sudah masuk dalam box sayur.
“Ayo kita bergegas membagikan
hasil panen ke masyarakat sekitar.” Ujar Sobih, salah
satu tim marketing membuka diskusi. Dia duduk di kran yang terletak di samping
rumah, tangannya terlihat sibuk mencuci slada hasil panen, beberapa yang lain
juga membantu mencuci. Sepakat, semua tim memutuskan membagikan hasil panen
hari ini ke masyarakat sekitar.
Siang itu, kami memutari desa
Gemenggeng, menyambangi masyarakat sekitar sembari membagikan hasil panen. Amam berjalan paling depan, muklisin
berhuyung-huyung mengiringi langkah amam di belakang. Dibelakang muklisin, dua
orang memikul bok sayur, dua orang lagi bersiap menggantikan memikul box sayur
, kami berjalan menyusuri rumah-rumah warga, masuk ke gang pemukiman dan
terkadang berkelakar dengan ibu-ibu yang sedang menjemur jagung.
“ Ini ada sayur sehat, mohon diterima.
Program dari Bapak Kyai Tanjung” Ujar Amam pada setiap masyarakat yang menerima
selada. Sepertinya dia sudah menghafal kalimat itu sebelum bergegas membagikan
sayur. “Bisa di jus, di sop juga pasti nikmat”. “Sehat tanpa pestisida,
langsung dimakan dibuat lalapan juga enak.” Kelakar Sobih menambahi, disusul gelak tama
semua tim.
Perjalanan pun kami lanjutkan,
satu persatu rumah penduduk kami singgahi, satu dua ibu-ibu yang sedang
menjemur jagung di halaman rumah saling curi pandang. Bahkan, ada yang tak
sabar ingin tahu, berteriak menanyakan bingkisan apa yang telah kami bagikan.
Anak-anak kecil berlarian mendekat, meramaikan anggota kami dan menonton.
Bersama Amam, kami berkeliling
membagikan sayur. Di desa kecil ini, saya melihat potensi pertanian yang masih
begitu luas belum dimanfaatkan dengan
baik oleh pemiliknya. Di Pomosda, tak
ada sedikitpun tanah yang kosong tanpa sayuran. Saya salut pada tim Ampura,
kebersamaan dan saling mendukung sesama tim yang saya rasakan. Visi mereka
mengajak masyarakat hidup kreatif dan mandiri begitu terorganisir dengan baik,
menularkan cara mereka menanam sayur yang sudah mereka lakukkan di pesantren
Pomosda.
Saya bertanya kepada Amam, kenapa
dirinya gemar menanam sayur diwaktu liburnya, sekalipun hanya dua hari dalam
seminggu. “ Namanya juga program sela, dua hari saja sudah bisa mencukupi
kebutuhan pokok keluarga, daripada tidak sama sekali dan ikut-ikutan panik saat cabai mahal.” Ujar
Amam. Kring... Kring... Kring... !!! “Makan siang sudah siap.” Istrinya menelpon.
Ah, sudah siang juga kami berkeliling, pantas saja perut sudah mulai
keroncongan!!!
Comments
Post a Comment