Cerpen | Kisah klasik ( Cerpen Remaja)

http://dutanada.com

      Aku lupa kapan pertama kali aku mengenalnya, bahkan kurasa aku ditakdirkan tidak perlu berkenalan dengannya. Lama sekali aku tak melihatnya, sampai saat tadi siang, saat kami bertemu dalam waktu yang singkat, kami bertemu saat dia sedang membeli empek-empek selam mang Bahar. Parasnya tidak pernah kulupa, wajahnya agak terlalu bulat, matanya agak sedikit lebar terlihat selalu ceria, bibirnya balance dengan matanya, jika tersenyum menjadi agak lebar dan matanya terlihat lebih bersinar. Aura senyumnya seakan meruntuhkan plafon hatiku yang memang selalu keropos saat melihatnya. Tubuhnya juga tidak terlalu tinggi, tidak kurus dan tidak gemuk, sangat ideal, namun sayang, aku belum pernah melihat urai rambutnya, karena dia selalu memakai jilbab saat keluar rumah, apalagi saat pertemuanku tadi, di menggunakan hijab berwarna biru tua, kurang tahu model apa itu, setahu ku itu model hijaber jaman sekarang, sangat pas dengan wajahnya. 
Dede panggilanya, padahal yang ku tahu, gadis yang selisih lebih pendek sekitar 10 cm dariku ini mempunyai nama lengkap Diah Susanti. Mungkin dulu orang tuanya memanggil dede karena dia anak ke tiga, dedek atau adek,  dilanjutkan orang-orang terdekat menjadi Dede sampai saat ini.
Ah, ya sudahlah. Yang penting aku tadi sudah disapa dia duluan, itu artinya dia tidak lupa denganku, dan itu artinya, dia masih ingat dengan perhatianku dulu, dan itu artinya dia juga masih ingat dengan kelompok Paskibraka dulu, aku yang slalu mencari perhatiannya setiap hari. 
Hal yang paling aku suka dulu, ketia dia di ledekin berpacaran denganku, meski dia selalu marah dan tidak suka dengan teman-teman yang  selalu meledek berpacaran denganku, namun berbeda denganku. Betapa senangnya jika itu benar-benar terjadi, beruntungnya aku dalam angan, sampai aku pernah berjanji dalam hati jika bersamanya, aku tidak pernah selingkuh sampai tujuh turunan.
 ***
 "Sam, dari dulu kamu selalu perhatian denganku. Aku selalu ingat kamu tidak pernah menolak saat ku ajak ke rumah, nganter aku bolos. Aku juga inget kamu sering mengajari aku matematika waktu kelas dua SMP, setiap ulangan kamu rela memberi kunci jawabannya. Dan jikalau boleh aku menafsirkan, benarkah kamu mencintaiku?". " A, aku.... Kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu de?" jawabku gugup. Wajahnya yang ceria, membuatku tak berani lama-lama menatapnya, tanganku mulai aktif menggaruk-garuk kepala belakang, kadang pindah menggaruk tangan, pandanganku selalu berpindah-pindah, seolah sedang mencari-cari teman yang terpisah di acara orkesan.
"Sam, aku serius, kamu tidak berubah sama sekali dari dulu, kukira setelah kita tidak bertemu selama tiga tahun, kamu akan berani mengakui kalau kamu memang suka sama aku". Sial, perasaan ini semakin tak menentu, seakan suara detak jantungku terdengar sampai ke telinga. "Em,m,m, sudahlah de, maksutmu apa? aku benar-benar tidak mengerti yang kau bicarakan." "Maukah kamu jadi cinta pertama dan terakhirku Sam?" Ucap dede menyela pembicaraan. Sekilas kumelirik wajahnya yang serius memandangku, menunggu jawaban keseriusanku.
"Mau". Jawabku lirih dan singkat. "Mau, aku mau jadi pacarmu de," Ku ulangi kata-kataku dengan nada yang lebih tegas.  "Iya, aku yakin. Aku mau jadi pacarmu". Ah, kacau, hanya itu yang bisa ku ucapkan padanya, aku hanya bisa mengulang dan mengulang kata-kata itu. Tiap kali aku merangkai kata, namun saat mulutku mulai berbicara, hanya kata-kata itu yang keluar.
***
"Pak, dengarkan anak lanangmu, itu oleh-olehnya kalo kerjaannya tidur dan malas-malasan. Dari tadi siang dia tidur samapai sore ini, dari tadi ngelindur  Sumini yang sedang merajut di ruang tamu geram mendengar suara anaknya ngelindur.


Comments

Popular Posts