Refleksi Malam, Pulang dari Gramedia
Agustus ke 05- Refleksi Malam,
Pulang dari Gramedia
Aku menggenggam
erat dua buah buku yang keduanya sama-sama
memiliki hubungan dengan cerpen. Mataku melirik ragu pada buku Kumpulan Cerpen
Kompas 1995, lalu tak yakin menjamah buku yang terpajang di sebelahnya , Menulis dan
Berfikir Kreatif karya Ayu Utami. Lama
kubiarkan diri ini kalut dalam kebimbangan, terombang- ambing dalam menentukan
pilihan, sebelum aku benar-benar yakin ingin mengadopsi salah satunya kemudian.
Hari ini aku
memuaskan dahaga yang tertahan hampir satu bulan; Bercengkrama dengan buku-buku
baru yang terpajang menggoda di barisan rak toko buku Gramedia, halusnya sampul
plastik yang masih melekat erat, warna cerah tanda baru, pilihan yang beraneka macam, yang semua
begitu menggoda untuk ku bawa pulang lalu kubaca satu persatu, kurawat dengan
baik untuk seterusnya kutata rapi dalam lemari buku kamar. Kepuasanku memilih
buku seolah menciptakan pujaan yang terlisan seperti ini, “Gramedia, aku datang
hari ini.”
Hari yang cerah,
ku tancap gas sepeda motor Supra milik abangku. Aku menyusuri jalanan kota Nganjuk bersama puluhan
pengendara lain. Saat yang bersamaan, angin kencang mengempaskan
hawa dingin nan beku, padahal hari masih sore. Sontak secara bersamaan
para pengendara merapatkan kedua tangan dan jaket yang dikenakan, menutup
rapat-rapat kaca helm, dan menahan laju kendaraan kisaran 20-60 km per jam,
merayap teratur di sepanjang jalanan.
Aku terus
mengendalikan gas. Perjalanan sekitar tiga puluh menit menuju kota Kediri,
membuatku sesekali bernyanyi lantang di dalam helm, sementara tangan kiriku ku
buat masuk ke dalam saku jaket, agar hawa dingin tak terlalu membuat kaku
seluruh tubuhku.
Aku mulai
merenggangkan gas saat memasuki parkiran Gramedia. Seorang gadis tersenyum standar SOP karyawan Gramedia, berdiri
menyambutku. Sebentar kemudian tangannya cekatan mencatat nomor plat kendaraan,
menyebut angka dua ribu rupiah. Aku segera menjulurkan recehan sebanyak yang ia
sebut, dan mendarat anggun di parkiran yang sudah berjejal berbagai jenis
sepeda motor di sana.
Kau pernah menyuruh
adikmu memilih jajanan beraneka warna?
Ya! Mungkin begitulah aku. Saat kumulai
menjejakkan kaki di depan toko Gramedia,
mataku liar menyapu seluruh ruangan berisi buku-buku baru, menjamah sampul buku
sekenanya, lalu meletakkannya lagi sembarangan. Satu- dua buku yang terbuka
dari kulitnya kuambil, lalu menyempatkan membuka isinya lekas, membacanya.
Tak mau mencintai
sau buku saja, kali ini aku ingin melanjutkan petualangan mencari buku.
Bergeser sedikit demi sedikit mencari buku yang mampu membuatku jatuh cinta,
lalu kubawa pulang. Fiksi, history, hukum, manajemen, masakan, hingga majalah,
adalah deretan genre yang kukunjungi sampai ber jam-jam membacanya, hal ini
kulakukan karena tarif yang kutetapkan cukup membawa satu buku saja.( Jika saja
aku masih kecil, dan kamu yang mengajaknya, kupastikan kau akan menyesal. Aku
akan terus-terusan merengek meminta
seluruh buku kau bawa pulang).
Ah. Ya! Kali ini
aku teringat tujuanku kesini, mencari buku Kumpulan Cerpen.
Buku kumpulan
cerpen sepertinya menjadi rencana daftar koleksiku tahun ini. Hal ini bukan
karena aku sekedar mencintai tulisan cerpen, lebih dari itu, aku mengoleksi
kumpulan cerpen khususnya, agar aku tahu perkembangan cerpen yang ada di
Indonesia. Hal ini kurasa sangat penting dengan impianku yang hendak
menerbitkan buku perdanaku, buku Kumpulan Cerpen.
(***)
Setelah sekian
lama berjibaku dengan pilihan satu buku saja, dengan berat hati kuletakkan buku
Kumpulan Cerpen Kompas 1995, meletakkan kembali pada tempatnya. Ah, inilah saatnya aku mengambil sikap
sewajarnya laki-laki, berani memutuskan. Maka, dengan menebar senyum sumringah yang mulai kubuat terpancar diwajah,
aku beringsut mendekati karyawati yang masih sibuk melayani pelanggan, ikut
mengantri di barisan belakang.
Buku Menulis dan
Belajar Kreatif karya Ayu Utami pun menjadi pilihan. Ku genggam erat-erat
sambil megancam mempelarinya hingga tuntas. Aku tak peduli dengan statusku saat
ini,- seorang pemuda yang belum mempunyai karya sama sekali. Sial.
Tapi biarlah,
biarkan impianku meledekku sepuasnya, mencemooh dan kadang menciptakan suasana
dementor yang membuatku ogah-ogahan memperjuangkan impian. Persetan dengan
umur, status, latar belakang, yang jika kupikir malah tak membuatku berbuat
apa-apa. Karya tetaplah karya, impian yang tak mungkin pernah kuhentikan
mengejarnya.
Maka mala mini,
mataku sudah mengantuk sekali. Tapi hatiku masih menggebu-gebu ingin menorehkan
kata-kata yang bermanfaat hingga tembus 1000 kata. Jujur dalam hatiku masih
sering malu pada diriku sendiri yang belum pernah berbuat apa-apa demi Guruku,
Bapak Kiai Tanjung. Aku malu saat memandangi wajah beliau, yang tak lelahnya
menyadarkan kami agar tetap terjaga, dari nyamannya hidup yang melenakan.
05 Agustus 2017
Ditulis untuk
memenuhi program kemandirian “one day one article”.
Comments
Post a Comment