Kamis Legi di Kota Angin

Agustus ke 04- Kamis Legi di Kota Angin

Kulepaskan pandanganku jauh menuju cakrawala. Menyusuri dedaunan yang menari riang, sepoi angin memasukkan hawa dingin ke seluruh tubuh, mentari pagi tersipu menampakkan kilau kemerahannya. Di ujung sana, kegelapan terkikis cahaya,menciptakan kehangatan yang merasuk ke dalam jiwa.

Kamis legi menyambut, siap menjadi saksi kisah-kisah manusia, mimpi, maupun asa. Memberikan detik demi detik, berganti menit, jam, hingga terkumpul menjadi hari. Waktu yang cukup lama bagi perasan ini, untuk sekedar mengarungi pengalaman menjejaki perjalanan kehidupan, hingga saatnya, ketika tidak ada lagi penerang dari sang surya, muram, gelap. Gelap gulita.

Saban hari aku mengawalinya, pagi-pagi dengan berdiri telak seolah mengajak bicara sang surya. Kututup kelakuanku ini saat ujung mataku menerkam arloji di pergelangan. Jarum jam memberi isyarat untuk segera bergegas membersihkan diri. Dalam perasaan ini, kukagumi makhluk spesial semacam sang surya yang terus rela menjadi penerang manusia. Kehangatan cahayanya, terang benerang  bagai kunci utama adanya cerita. Ke ajekan-nya tak perlu ku ragu, mengarungi waktu secara mandiri, tanpa motifasi, apalagi dipedulikan. Terus bergerak yakin dengan jalan hidupnya.
Ah, biarkan saja. Setidaknya untuk pagi ini  biarlah angin membalut rasa kecewa yang mendalam, kebencian yang siap meletup menjadi teriakan murka. Maka, sembari bergetar seluruh badanku menahan kemarahan yang mendalam, menggenggam kuat-kuat pagar teras, sembari mataku tak bergeming menatap tajam sang surya. Pagi dengan kemarahan membuncah dada.

Masih saat berdiri, kali ini bersamaan dengan lamunan. Mengingati kelakuanku malam tadi, saat berlarut-larut aku menertawai tayangan yang kuputar di laptop. Ah, ya. Hampir semalaman aku tertawa riang melihati tayangan-tayangan lawakan; Mulai dari video vlog, comedy talk show, hingga karikatur malam. Semuanya menghibur hati, hingga tak sadar malam begitu larut dan menjebakku pada waktu yang kelewat batas. Saat kusadari kokok ayam jantan sahut menyahut di kejauhan sana. Hari akan berubah menjadi terang.

Dari lamunan berubah menjadi kesadaran. Kelewat waktu  yang baru saja kusadari menciptakan rasa tak terima, mengadu kepada Tuhan agar waktu bisa terulang kembali. Tapi musykil. Maka secepat kilat tanganku menyambar selimut, tangkas menutupi seluruh tubuhku dengan kain tebal berbahan dasar kapas itu. Memaksa mata terpejam, sedangkan dada terus bergejolak. “Mungkinkah aku bangun tepat waktu?”

Kamis legi tak semanis gula-gula, indahnya mentari pagi tak mungkin bisa menyembuhkan duka. Segarnya hembusan angin tak lagi lega kurasa. Dan cakrawala yang membentang luas, dengan seisinya tak mampu membujukku untuk ikhlas menerimanya, gerangan kekalutan yang semakin membat luka.

Masih segar kuciumi aroma kebencian, menyesap pahitnya kenyataan memori yang terekam. Saat perlahan aku terhuyung  menuju tempat pembersihan diri yang seharusnya sudah kulakukan sejak tadi. Dengan bergaya gontai aku pun menapaki anak tangga menuju kamar mandi, membiarkan handuk tersampir sekenanya di pundak, sikat gigi terselip diantara jari jemari. Membuang ketakukan atas hardikan para pelanggan Foto Copi yang menunggu sejak tadi.

04Agustus 2017


Ditulis untuk  memenuhi program kemandirian “one day one article”. Indahnya menggambarkan sesuatu kisah kepada orang lain, semoga hari anda menyenangkan.
Tulisan ini merupakan hasil latihan membuat deskripsi.

Comments

Popular Posts