Cerpen | Sore ini, Resah Datang Lagi
Cerpen,- Sore ini, Resah Datang Lagi
Namanya Resah, setiap
kali datang hanya mengobral keluh kesah.
Sore ini Resah datang lagi, mengadukan masalah keluarga yang sering
terjadi. Kemarin sore, Resah datang sambil menyumpah-nyumpah. Hari ini ia
datang meletupkan rasa tidak senangnya
pada Wiji, perempuan yang karena punya paras cantik, kakaknya nekat membawa
pulang untuk diperistri.
Kata Resah, Wiji istri tak tahu diri. Wiji juga tak mau
mengerti, kalau Resah juga ingin dihargai. Maka kata Resah padaku, harusnya
Wiji mengajak Mas Diki pulang ke rumah orang tuanya, bukan nebeng di rumah
mertuanya.
Namaku lusi, biasa dipanggil Kak Si. Kalu sudah seperti itu
kejadiannya, aku tak bicara, hanya diam memperhatikan Resah yang mondar-mandir
menyunggi gelisah.
“Bagaimanalah, kok bisa-bisanya Wiji tak mau pindah. Apa dia
tidak ada keinginan hidup mandiri? Punya rumah sendiri? Atau hidup bahagia
fokus pada suami. Kok Seenaknya makan minum dirumah kami. Siapa wanita itu, cuma bermodal paras bersih,
takutkah kulitnya berubah kusam lalu tak ada laki-laki kepincut lagi?”
Begitulah Resah, selalu meracau yang tidak-tidak. Aku belum
kenal Kak Diki, apalagi Wiji. Namun perempuan itu tak ambil peduli, seolah aku
pernah berjabat tangan lalu akrab dengan kedua saudaranya yang sudah menjadi
suami istri.
Jika sudah seperti itu, aku hanya diam tak menanggapi.
Mengabaikan Resah yang terus mengigau tiada henti. Toh,- biasanya nanti, Resah
pun akan capek sendiri.
Sore-sore duduk sendiri, di teras rumah termangu melamun pada
sesuatu yang belum pernah terjadi. Begitu biasanya Resah tiba-tiba datang
menghampiri. Lalu dengan seenaknya pula, nyinyir tiada henti. Dia tidak tahu,
kalau masalahnya sama denganku. Dia juga tak mengerti, persoalan keluarganya
pun juga terjadi padaku. Akhirnya aku pun jadi ragu, mengapa dulu orang tuaku memberi
nama Lusi, kepanjangan dari Solusi.
Mentari condong di ufuk. Sebentar lagi tenggelam bersamaan
burung-burung kembali ke sarang. Entah apa yang terjadi, Resah pun menghilang.
Saat aku menyadari Resah hilang, aku jadi bertanya-tanya, apakah aku selalu
berhalusianasi? Ah, baiknya besok namaku diganti saja Halusianasi, bukan
Solusi.
13 Agustus 2017
Ditulis untuk memenuhi program kemandirian menulis “one day
one article”.
Comments
Post a Comment