Cerpen | Kisah Beda, Bintaro
Cerpen | Kisah Beda, Bintaro
![]() |
ilustrasi ; pixabay |
Kereta terus berjalan.
Masinis duduk di ruang operasi. Seorang bocah tegak berdiri sambil sedikit
meloncat-loncat, mengibarkan baju seragamnya yang diikatkan kencang ke ranting
jati. Hari itu, Selasa 19 Oktober 1987.
SEORANG GADIS berdiri ditengah sesaknya aktifitas
stasiun Serpong. Orang-orang berdesakan, menyingkirkan tubuh gadis itu yang
masih berdiri di sana. Gadis itu masih tak bergeming saat operator memberi instruksi. Sementara mendung menutupi wajahnya
yang ayu, gadis itu tertunduk lesu.
Bunyi kereta berderit kencang, mengawali perjalanan KA
225 jurusan Rangkasbitung ke stasiun
Sudimara. Sekitar tiga ratusan orang
berjejal disana, memperlihatkan kesibukan penjual asongan, obrolan para penumpang dengan anggota keluarganya. Semuanya berkumpul
menjadi satu, menunggu sampainya perjalanan, dan bersegera mengais mimpi-mimpi
mereka, mencari nafkah.
Di salah satu kursi kereta , tampak gadis bermuka
sendu itu, lagi. Duduk terdiam mengganjal kepalanya dengan kedua tangan, setelah memasukkan selembaran kertas ke dalam saku
jaket kulitnya. Ia masih tak hirau akan ramainya suasana. Bahkan, ia sungguh
abai pada tawaran beraneka jajanan yang tersodor di depan mukanya bergantian.
“Urusan keluarga.” Jawabnya singkat, saat perempuan
gemuk yang duduk berdempetan dengannya bertanya.
Perempuan gemuk itu menjadi salah tingkah, kemudian
akhirnya ikut mematung di sepanjang perjalanan kereta. Diam seribu bahasa.
Seorang penjual asongan datang menawarkan dagangan, mengiba, kemudian
pergi dengan perasaan hampa. Begitu seterusnya.
Taka da yang mengira, jika gadis berusia 20an itu naik
kereta meninggalkan rumah orang tuanya, lantaran
tekanan yang terus melanda .
Sakit hati menahan perih, ketidak cocokan ide, juga
beda pendapat memang selalu saja memisahkan manusia. Begitu tepatnya gambaran
untuknya, lumrah jua jika kita dikatakan sebagai manusia yang penuh dosa. Maka,
meski seribu keraguan menggelayut angan, tak tentu arah dan tujuan, -pagi itu, gadis
yang belum tersebut namanya, pasrah pada kemana sampainya kereta
menjatuhkannya. Ia hanya berharap-harap
ragu pada alamat yang tertera di dalam surat yang baru saja ia simpan.
Kereta terus berjalan membelah kota. Ini sudah ke sepuluh
kali, jemari gadis itu menyisir rambutnya,
membuatnya tergerai ke belakang. Angin
kereta yang kencang,kadang jua lamban, mengibas-ngibas rambutnya yang panjang.
Saat angin mengempas pelan, segelintir rambut mendarat anggun di pipi sebelah kanan.
Satu jam sudah berlalu, gadis itu mencoba melupakan
masa lalu. Sekali lagi merogoh secarik kertas yang tertera nama Bayu. Maka,
lamat-lamat ia mengurai lipatan kertas itu, kembali membacanya dalam hati:
Dik
Siti Istiqomah tersayang, maafkan mas sudah membuatmu bimbang. Mas tahu
bagaimana perasaanmu saat ini, duri-duri kehidupan tertancap dihatimu sekian
lama, nanah pun mengendap. Mas juga tahu, kau sedang menungguku menghadap.
Dik
Siti sayang, mas paham bagaimana
kepercayaan kepada tuhan adalah hal yang tak mungkin ditentang, namun benarkah
cinta ini terlarang?
Dik
Siti, datanglah! Pintu keluarga mas terbuka untukmu. Mas tak bisa menjanjikan
kebahagiaanmu, namun satu hal yang perlu kamu tahu, keluargaku mau menerimamu.
Nb.
Datanglah pada alamat pengirim surat, salam rindu.
(***)
Hari masih pagi, pukul 07.30 WIB, saat tragedi Bintaro
terjadi. Bocah berseragam Sekolah Dasar yang sejak tadi berlari, kini berhenti.
Masih saat anak itu baru saja berhenti, mengatur nafas
yang tarik ulur tanpa henti, bocah itu baru menyadari, kerikil-kerikil tajam
menggoresi kaki. Namun kau tahu? Sesuatu yang besar telah terjadi! Ia pun ingin
berlari, membawa rasa sesal yang mengusik tiada henti.
12 Agustus 2017
Ditulis untuk memenuhi program kemandirian menulis
“one day one article”.
Cerpen by Amin Maulani
Comments
Post a Comment