Ngeli neng Ora Keli

Juli ke 11- Ngeli neng Ora Keli

Peradaban manusia terus berevolusi.

Derasnya arus perubahan zaman begitu cepat meninggalkan manusia yang tak mampu mengikuti oase kehidupan. Setiap detik waktu berjalan memaksa manusia bertahaan hidup, menemukan inovasi, mengembangkan teknologi, dan saling berebut kejayaan. Jika tahun 2000 keberadaan teknologi masih tergolong stagnan, di tahun 2017 ini perkembangannya dirasakan begitu  luar biasa menanjak. Hal inilah yang saya sebut “meninggalkan manusia yang tidak mau mengikuti  tren perkembangan zaman.”

Di satu sisi fenomena semacam ini menuntut kita memiliki kecakapan berpikir  continue, bersaing dengan teknologi guna mendapatkan kejayaan hidup. Agar kita ikut mengukir sejarah, berevolusi ditengah berkembangnya teknologi. Di sisi lain, banyak kelompok yang mencemaskan ganasnya perkembangan teknologi yang terus dilahirkan, menjadi mahluk baru dalam sejarah. Sekaligus yang melatarbelakangi penulisan ini ‘‘Ngeli neng Ora Keli”, sebuah peribahasa Jawa yang jika diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia mengandung pengertian:  “Mengontrol  Diri di Tengah Arus Zaman.”

Orang Jawa khususnya, dan orang Indonesia pada umumnya memiliki beberapa periode sejarah, yaitu;  Periode pra-sejarah, periode Hindu dan Budha, periode Islam, Periode Kolonial,  dan periode Kemerdekaan.

Periode pra-sejarah misalnya yang diperkirakan jutaan tahun silam, perkembangannya selalu berhubungan dengan arus globalisasi. Misalnya, percampuran antara suku jawa dengan suku-suku Lingga, Cina Chou, Yunan, India, Thailand, Turki, Arab, dan Campa. Dilanjutkan dengan silih bergantinya kepercayan orang jawa dari zaman Hindu dan Budha menjadi zaman Islam. Kemudian dilanjutkan masa kolonial dan yang saat ini, zaman modern. Saya tidak bisa meramal kehidupan suku jawa seratus tahun dari sekarang.

Kita hanya perlu memerhatian dan mempergunakan secara maksimal, Kemampuan “Ngeli neng Ora Keli”, -yang sebenarnya sudah menjadi sifat alami masyarakat -. Banyak pengamat sosial yang menyayangkan anak-anak muda kurang menyukai gamelan tradisional. Banyak kaum sastrawan yang menyayangkan anak-anak muda tidah paham sastra klasik jenis kakawin, suluk, kidung, babad, serat, dan Wirid. Banyak juga orang tua yang meresahkan anak-anak muda tidak memiliki unggah-ungguh.

Banyak namun tidak semua, karena masih banyak orang tua yang bangga dengan kaum muda yang telah berhasil memperkenalkan budaya keramahannya kepada masyarakat internasional. Banyak pula orang berbangga pada anak-anak muda yang mengkombinasikan kebudayaan dengan teknologi, menjadi produk baru bernama modern.
Pada akhirnya kita tidak bisa memungkiri adanya perubahan peradaban pada setiap periode. Jika “Ngeli neng Ora Keli” diorientasikan keluhuran, seperti spiritual, karakter dan adab, kita tidak mudah gundah oleh terpaan dunia teknologi yang semakin merambah ke pelosok Nusantara. Alih-alih semakin menumbuh kembangkan kompetisi kearifan (terdengar seperti klise. Namun  ya begitu).

Pondok Sufi 10/07/2017.
Ditulis untuk memenuhi program kemandirian “one day one article.” Materi diambil dari buku –Asal-usul & Sejarah Orang Jawa- dan disajikan menurut secuil pemahaman dari  petunjuk  Bapak Kyai Tanjung dalam kajian Ilmu An-Nubuwah.


Comments

Popular Posts