Mengenal Alam Bawah Sadar
Juli ke 13- Mengenal
Alam Bawah Sadar
Melalui serangkaian eksperimen, para ahli saraf (neurolog) telah mengidentifikasi adanya empat level pada otak. Yaitu Beta (14-100 hz), dimana pada posisi ini otak mengalami keadaan sadar penuh dan didomnasi oleh logika. Ini kondisi normal yang kita alami sehari-hari. Alpha (8-13.9 hz) dimana dalam keadaain ini otak kita berada dalam kondisi khusu’, relaks, meditative, nyaman, dan ikhlas. Theta (4-7.9 hz) dimana kondisi seperti ini otak berada dalam zona sangat khusu’, keheningan yang mendalam, deep-meditation. Dhelta (0,1-3,9 hz) dimana dalam keadaan ini otak berada dalam keadaan terendah. Ini terdeteksi saat kita dalam keadaan tidur. Dalam keadaan terendah otak memproduksi human growth hormone yang baik bagi kesehatan kita. Jika seseorang tidur dalam keadaan Dhelta yang stabil, kualitas tidurnya sangat baik.
Hasil penelitian ini juga menyimpulkan bahwa proses penumbuhan keyakinan sangat positif terjadi apabila kita berada pada posisi alpha (atau juga tetha). Jika kita merajut dan memvisualisasikan keyakinan pada kondisi tersebut, maka rajutan tersebut akan benar-benar menembus alam bawah sadar kita.
Pertanyaannya sekarang, bagaimana kita bisa selalu dalam keadaan alpha?Jika kita mengacu pada penelitian diatas, kita akan mendapatkan poin bahwa; saat otak dalam keadaan bermeditasi (ingat kepada Tuhan), tren postif akan memproduksi ide-ide dan gagasan yang cemerlang. Adanya penyelesaian masalah secara obyektif terkait permasalahan individu, organisasi, manajemen, maupun sosial bisa terproduksi sangat baik.
Dari penelitian diatas pula dapat dimengerti tentang keutamaan mengingati keberadaan Tuhan. Karena dengan demikian tubuh tidak mudah lelah dan otak akan mampu memproduksi gagasan-gagasan yang sangat baik. Hal ini sangat selaras dengan petuah Bapak Kyai Tanjung yang selalu mengingatkan para murid agar selalu ingat kepada Tuhan. Dimanapun kita berada dan dalam keadaan apa saja, bekerja, belajar, apalagi beribadah. Lebih lanjutnya terkait teknik menjalani rutinitas dibarengi ingat kepada Tuhan bisa dibuka di www.jatayu.or.id. Atau juga bisa melihat video kajian tentang ilmu An-Nubuwah di youtube chanel dengan keyword “Kyai Tanjung”.
Saya menjadi teringat tentang kisah-kisah sufi yang saya dapatkan ketika saya masih berada di pondok salaf. Kisah-kisah yang mengisahkan orang-orang sufi yang mendedikasikan seluruh hidupnya hanya untuk mendekat kepada Tuhan. Di mana orang-orang sufi demi mendekatkan diri kepada Tuhan sampai tak tidur satu hari satu malam. Menurut versi yang berbeda orang-orang sufi tidurnya hanya sekitar lima menit. Lima menit yang setara tidur normalnya orang-orang biasa.
Dari dua gambaran diatas saya mencoba memberi asusmsi bahwa di zaman modern saat ini, masih berlaku perilaku orang-orang sufi yang tertulis di dalam kisah-kisah kitab kuno (salaf). Karena dengan mengerti proses kinerja otak menurut para ahli di atas, tidur selama lima menit cukuplah mendapatkan kualitas tidur yang stabil.
Tanaamu aini wa llaa tanaamu qalbi menjadi logis jika dipahami secara sains.
Lalu bagaimanakah
dengan kinerja otak kita? Berapa lamakah waktu yang kita butuhkan untuk
mengistirahatkan diri selama dua puluh empat jam? Dan seberapa jauh tren
positif otak mampu menguasai jagat
priadi ( termasuk ide-ide cemerlang maupun konsistensi)?Banyak pakar
mengatakan bahwa ideal tidur sehari semalam bagi seseorang adalah delapan jam.
Mari coba hitung; 6,5 jam untuk malam
hari. 1,5 jam di siang hari. Dari hitungan ini kita bisa mengetahui tentang
ideal tidur dimulai pukul 22.00 sampai 04.30. Siangnya masih ada waktu 1,5 jam
bisa diambil pukul 13.00-14.30. Lumayan banyak bukan?
Kemudian kita juga perlu mengetahui adanya alarm otomatis di dalam tubuh kita. Alarm itu akan berfungsi jika kita mem-formatnya dan menjadi kebiasaan. Saya terbiasa tidur malam hingga pukul 00.00. Maka alarm ini bisa saya manfaatkan mengurangi waktu tidur saya dari delapan jam menjadi enam jam jika saya bisa bangun konsisten puku 04.30. Petunjuk Bapak Kyai Tanjung, membentuk kebiasaan positif idealnya selama empat puluh hari.
Saya menjadi teringat pada kajian Bapak Kyai Tanjung tentang akal pikiran. Tuhan akan mengutuk seorang hamba jika menjalankan perintah beragama tanpa menggunakan akal dan pikirannya. Oleh karenanya dalam penutupan kali ini saya juga akan menggunakan sebuah kalimat dari Bapak Kyai Tanjung yang sangat menginspirasi bagi saya, kurang lebihnya seperti ini.
“Jika otak selalu digunakan untuk berfikkir, maka akan membentuk galir-galir yang akan membuat manusia menjadi cerdas. Maka bertafakurlah.”
12 Juli 2017
Ditulis untuk memenuhi program kemandirian "one day one article". Materi diambil dari -websait strategi manajemen.net- dan disajikan menurut secuil pemahaman dari petunjuk Bapak Kyai Tanjung dalam kajian ilmu An-Nubuwah.
Melalui serangkaian eksperimen, para ahli saraf (neurolog) telah mengidentifikasi adanya empat level pada otak. Yaitu Beta (14-100 hz), dimana pada posisi ini otak mengalami keadaan sadar penuh dan didomnasi oleh logika. Ini kondisi normal yang kita alami sehari-hari. Alpha (8-13.9 hz) dimana dalam keadaain ini otak kita berada dalam kondisi khusu’, relaks, meditative, nyaman, dan ikhlas. Theta (4-7.9 hz) dimana kondisi seperti ini otak berada dalam zona sangat khusu’, keheningan yang mendalam, deep-meditation. Dhelta (0,1-3,9 hz) dimana dalam keadaan ini otak berada dalam keadaan terendah. Ini terdeteksi saat kita dalam keadaan tidur. Dalam keadaan terendah otak memproduksi human growth hormone yang baik bagi kesehatan kita. Jika seseorang tidur dalam keadaan Dhelta yang stabil, kualitas tidurnya sangat baik.
Hasil penelitian ini juga menyimpulkan bahwa proses penumbuhan keyakinan sangat positif terjadi apabila kita berada pada posisi alpha (atau juga tetha). Jika kita merajut dan memvisualisasikan keyakinan pada kondisi tersebut, maka rajutan tersebut akan benar-benar menembus alam bawah sadar kita.
Pertanyaannya sekarang, bagaimana kita bisa selalu dalam keadaan alpha?Jika kita mengacu pada penelitian diatas, kita akan mendapatkan poin bahwa; saat otak dalam keadaan bermeditasi (ingat kepada Tuhan), tren postif akan memproduksi ide-ide dan gagasan yang cemerlang. Adanya penyelesaian masalah secara obyektif terkait permasalahan individu, organisasi, manajemen, maupun sosial bisa terproduksi sangat baik.
Dari penelitian diatas pula dapat dimengerti tentang keutamaan mengingati keberadaan Tuhan. Karena dengan demikian tubuh tidak mudah lelah dan otak akan mampu memproduksi gagasan-gagasan yang sangat baik. Hal ini sangat selaras dengan petuah Bapak Kyai Tanjung yang selalu mengingatkan para murid agar selalu ingat kepada Tuhan. Dimanapun kita berada dan dalam keadaan apa saja, bekerja, belajar, apalagi beribadah. Lebih lanjutnya terkait teknik menjalani rutinitas dibarengi ingat kepada Tuhan bisa dibuka di www.jatayu.or.id. Atau juga bisa melihat video kajian tentang ilmu An-Nubuwah di youtube chanel dengan keyword “Kyai Tanjung”.
Saya menjadi teringat tentang kisah-kisah sufi yang saya dapatkan ketika saya masih berada di pondok salaf. Kisah-kisah yang mengisahkan orang-orang sufi yang mendedikasikan seluruh hidupnya hanya untuk mendekat kepada Tuhan. Di mana orang-orang sufi demi mendekatkan diri kepada Tuhan sampai tak tidur satu hari satu malam. Menurut versi yang berbeda orang-orang sufi tidurnya hanya sekitar lima menit. Lima menit yang setara tidur normalnya orang-orang biasa.
Dari dua gambaran diatas saya mencoba memberi asusmsi bahwa di zaman modern saat ini, masih berlaku perilaku orang-orang sufi yang tertulis di dalam kisah-kisah kitab kuno (salaf). Karena dengan mengerti proses kinerja otak menurut para ahli di atas, tidur selama lima menit cukuplah mendapatkan kualitas tidur yang stabil.
Tanaamu aini wa llaa tanaamu qalbi menjadi logis jika dipahami secara sains.
Kemudian kita juga perlu mengetahui adanya alarm otomatis di dalam tubuh kita. Alarm itu akan berfungsi jika kita mem-formatnya dan menjadi kebiasaan. Saya terbiasa tidur malam hingga pukul 00.00. Maka alarm ini bisa saya manfaatkan mengurangi waktu tidur saya dari delapan jam menjadi enam jam jika saya bisa bangun konsisten puku 04.30. Petunjuk Bapak Kyai Tanjung, membentuk kebiasaan positif idealnya selama empat puluh hari.
Saya menjadi teringat pada kajian Bapak Kyai Tanjung tentang akal pikiran. Tuhan akan mengutuk seorang hamba jika menjalankan perintah beragama tanpa menggunakan akal dan pikirannya. Oleh karenanya dalam penutupan kali ini saya juga akan menggunakan sebuah kalimat dari Bapak Kyai Tanjung yang sangat menginspirasi bagi saya, kurang lebihnya seperti ini.
“Jika otak selalu digunakan untuk berfikkir, maka akan membentuk galir-galir yang akan membuat manusia menjadi cerdas. Maka bertafakurlah.”
12 Juli 2017
Ditulis untuk memenuhi program kemandirian "one day one article". Materi diambil dari -websait strategi manajemen.net- dan disajikan menurut secuil pemahaman dari petunjuk Bapak Kyai Tanjung dalam kajian ilmu An-Nubuwah.
Comments
Post a Comment