Memaknai Level Pendidikan
Juli ke 19- Memaknai Level
Pendidikan
Ow. Tak terasa lima tahun sudah
kulewati masa-masa menjadi mahasiswa di lingkungan kampus, setelah tiga tahun
sebelumnya berstatus sebagai santri salaf. Sembilan tahun sebelumnya
lagi, kulewati hari-hariku dengan menyandang status sebagai “anak sekolahan”.
Bukan masalah banyaknya status yang
disandang, bukan pula banyaknya jenis sosial budaya yang dijejaki. Lebih dari
itu, semua proses perjalanan yang menuntunku sampai saat ini memberiku kesan,
bahwa; Semua perjalanan merupakan bagian dari proses pembelajaran
menuju pelabuhan kehidupan. Maka, setiap hendak melangkahkan kaki menuju
pelabuhan yang dituju, kita akan mengawali dengan satu langkah pertama. Begitu
berartinya awal mula bagi sebuah proses, hingga sedetikpun waktu yang
kita gunakan untuk melangkah akan benar-benar terasa hilang jika kita
mengabaikannya.
Sembilan tahun sekolah, tiga
tahun nyantri, ditambah lima tahun ngampus atau-
nyantri modern lebih tepatnya- merupakan sebuah perjalananan. Jika selama ini
perjalanan itu dihentikan paksa oleh sistem yang di buat-buat oleh manusia,
dibatasi dengan birokrasi-birokrasi yang disetujui para penyelenggara secara
turun temurun. Maka sampai saat ini, benarkah pelabuhan kehidupan sudah
kutapaki? Atau setidaknya, tujuan yang ku kejar sudah tercapai? Sementara tiga
fase diatas seolah menjadi bangunan yang terpisah menjadi pelabuhan junior,
pelabuhan senior, dan pelabuhan master senior.
Saya sendiri menjadi ragu pada akhir
dari sebuah proses belajar yang selama ini terletak pada angka 6,
9,12, S1, S2, dan S3. Atau semuanya akan bermuara pada status senioritas dan
sebutan istimewa seperti “Kakak, Tuan, dan Master.” Maka jika demikian, tuntas
sudah fase demi fase yang kita arungi selama ini.
Petunjuk dari Bapak Kyai
Tanjung tentang sebuah perjuangan. Bahwa harus betul-betul
mengetahui mana yang diperjuangkan, supaya tidak menjadi salah arah dan tidak
akan sampai pada tujuan itu sendiri.
Pendidikan diproses setiap detak
jarum jam bergerak. Maka saya pikir, sedetikpun kejadian yang kita alami akan
benar-benar mampu merubah sikap dan perilaku.
Malam ini, begitu sulitnya saya
menggambarkan apa yang tergambar di benak mengenai sebuah tujuan yang harus
diperjuangkan, yang dalam prosesnya tentu tak luput dari belajar, mempelajari,
atau diajari. Tak bosan-bosannya saya tuangkan kedalam gurat pena dan semoga
pembaca pun tak menjadi bosan.
19 Juli 2017
Ditulis untuk
memenuhi program kemandirian "one day one article".
Comments
Post a Comment