Latihan Menulis Novel
Juli ke 19- Latihan Menulis Novel
Semburat cahaya mentari pagi berkilau kemerahan. -Menyinari
lautan yang terbentang, pepohonan yang rindang, dan rumah-rumah yang berjajar
rapi di perkampungan Arumanis-. Menyambut hari ke tiga idul fitri.
Pintu-pintu rumah mulai terbuka, orang-orang dengan
kesibukannya. Ada yang mulai menyapu halaman, menyirami tanaman, mencuci
pakaian, hingga sekedar duduk-duduk di halaman rumah menikmati segelas teh
panas.
Kurasa setiap orang membutuhkan kedamaian. Seperti
nyanyian burung-burung kutilang yang menari penuh pesona, merayu lawan jenis di
ranting-ranting pohon nangka, berkicau dan saling menyahut. Bagiku, tarian burung-burung adalah devinisi
kedamaian. Kedamaian yang jarang orang mau menyisihkan sedikit waktu untuk
menikmatinya.
Keluarga, sahabat, dan karir. Menjadi pelengkap memahami
tentang kedamaian. Namun ada hal yang sangat vital tentang perasaan damai yang
selalu kuingat. Dan hal itu adalah Tuhan. Tuhan akan bersama orang-orang yang
selalu mengingatinya. Begitu setidaknya yang ku tahu, salah satu pesan bopo
guru Kyai Tanjung yang selalu ku ingat-ingat.
Di halaman rumah yang menghampar luas. Tanaman tin
berjajar, zaitun, durian, jambu, dan beberapa jenis tanaman obat tumbuh hijau
dalam kantong-kantong polybag. Ditata berdasarkan jenis, berbaris rapi di
halaman. Paralon dijajar membentuk pagar mengelilingi halaman. Semua tumbuh
lebat. Tepat di tengah halaman, jalan masuk sepeda menuju ruang tamu berukuran
kurang dari dua meter. Di atas terpasang
waring yang membuat halaman semakin
terasa redup, berpadu dengan hijau daun nan lebat,membuat rumah serasa sejuk
dan teduh.
Di pojok halaman sengaja
kupasang sepasang kursi, agar setiap pagi aku dapat menikmati keindahan
tanaman menyambut hari. Dan kurasa, tanaman pun butuh motifasi di pagi ini. Aku
melangkah perlahan menuju kursi, merenggangkanya dari meja, lalu duduk
menyilangkan kaki dengan seluruh punggung yang ditopang kursi dan mata
terpejam.
Untuk kesekian kalinya aku menarik nafas dalam-dalam,
melepaskannya melalui hidung, hingga terdengar
suara gesekkan angin di dua dinding hidung yang mencorong. Aku mendesah.
(***)
Mataku terbuka oleh getaran hape di saku celana.
Buru-buru kurogoh saku dan melihat ke layar. Oh ternyata! Si dia ingin bicara
lagi dengan ku. Bukan! Bukan kekasih hati. Melainkan dia adalah mas Baehaki, salah
satu kakak yang saat ini bersama ibu di Sumatra. Lebaran pertama kemarin kami
hanya menelpon sesaat, sekitar lima menit untuk bicara ke tiga orang secara
bergiliran; Ibu, Kakak, dan kakak yang satunya.
Kurasa mas ku juga paham, meski aku selalu berbicara
dengan penuh suka cita akan masa depan kami, nadaku selalu berkoar-koar saat
membahas kami diujung telepon, namun sejatinya akupun butuh motifasi ekstra.
Kami sama-sama butuh motifasi, bagaimana kami harus belajar kreatif, mengurangi
rasa malas, dan… dan aku selalu mengajaknya agar kita memiliki pemikiran yang
visioner.
Entah paham atau belum, tepat atau belumnya kami dalam
memahami dawuh bopo kyai. Kami tetap
selalu berkomunikasi melalui telepon, berdiskusi tentang apa yang sudah kami
lakukan, atau sekedar menanyakan kesehatan ibu di rumah. Semua yang kami
lakukan karena kami sadar, kami butuh motifasi dalam menyembah.
Dengan alasan itu kami selalu berlama-lama membahas
tentang lakon. Bagaimana menangani
tikus-tikus yang sedang merajalela menggerogoti tanaman kami di desa. Aku
selalu was-was saat diajak musyawarah mas Baehaki. Dan aku selalu megingatkan
agar tidak membunuh tikus. Cukup mengusirnya saja.
Masih banyak jalan megusir hama. Tidak harus membunuhnya
secara keji. Kita bisa memberi pakan setiap hari dengan potongan singkong, menyemprotnya
dengan wangi-wangian serai, atau memasang cahaya di malam hari. Namun jika
tikus masih tetap saja mengacak-ngacak tanaman padi, bolehlah kita membunuhnya.
Dengan syarat mati tanpa darah.
Caranya, jika ketemu tikus yang sedang lewat kita bisa
langsung menjaring menggunakan jaring sederhana, lalu membekapnya hingga mati.
Tikus yang mati lalu direbus,airnya disemprotkan ke tanaman padi. Tujuanya agar
tikus yang lain mencium aroma tubuh temannya. Sifat tikus yang paham wilayah
yang lain akan menduga bahwa padi yang disemprot itu bukan wilayahnya.
Aku selalu khawatir jika mas Baehaki sudah tidak sabar
menangani tikus itu lalu mengambil jalan membunuhnya secara keji.
“Ya sudah di sambung nanti. Baterai ku mau drob!” Suara
mas Baehaki setiap mengakhiri perbincangan via telepon. Jika saja baterai tak
mengganggu percakapan kami, tentu setiap hari kami terus bercakap-cakap via
telepon. Kami akan sering-sering berbincang mengenai cara perawatan padi, kuliahku
di kota, atau sekedar bertanya kabar kesehatan ibu dan mas bae.
Sebelah mataku mengerdip silau melirik mentari yang
semakin meninggi. Hangat sinarnya menerpa kulit lengan yang telanjang tanpa
tutupan kain. Saat aku menghadap arah timur, wajahku mendongak mentari,
menerka-nerka jam alami dari mata kehidupan. Hari berganti siang, saat aku
menyadari ada yang terlupakan hari ini. Astaga!
(***)
Dengan tergesa-gesa aku mengeluarkan sepeda motor dari
dapur. Memutarnya dengan paksa menggunakan standar kiri, kuangkat kedua roda
sepeda motor dengaan standar, lalu memutarnya 180 derajat hingga motor
menghadap kea rah berlawanan.
Sampai di halaman depan, tombol start pada stir kanan ku
tekan. Mesin motor kini bergetar menyala, ku kocok gas hingga mengeluarkan
suara menderu-deru. Tak butuh menunggu lama, aku langsung meloncat di atas
motor, kaki kiriku sigap menginjak perseneleng, lalu gas ku tancap meninggalkan
rumah.
Sepeda motorku lincah melewati gerbang rumah, ku arahkan
setir menuju lajur kanan, melewati gang-gang perkampungan yang mulai rapat
orang berseliweran, sesekali ketekan tombl klakson saat berapasan dengan
orang-orang yang kukenal. Anak-anak usil
melempar kerikil, ada yang berteriak “orang gila!”
Aku tak peduli, aku terus menarik gas hingga terlihat
gapura perbatasan kota. Setengah jam berlalu, kini aku memperlambat laju motor.
Terlihat di kejauhan beberapa petugas berseragam hijau
sedang mengatur lalu lintas. Aku mendadak menginjak rem, hendak balik arah.
Jalanan yang ramai membatku tak bisa serta merta memutar arah. Salah seorang ppetugas meniup peluit,
tangannya melambai-lambai, tanda menyuruhku berhenti di pinggir.
“Selamat siang bapak!” Polisi itu memberikan hormat. Ia
melepas kaca mata hitam, lalu memperhatikan motorku dengan teliti.
“Selamat siang.” Tanganku meraih kunci motor. Mematikan
mesin.
“Tahu kesalahan bapak apa?”
“Tahu ndan” Jawabku singkat.
“Baik, jika bapak sudah tahu kesalahan bapak saya tdak
perlu menjelaskan tentang tata tertib
berkendara dan keselamatan para pengendara. Boleh lihat surat-surat kendaran
bapak!” Pinta polisi itu meneruskan. Telapak tanganya disodorkan menengadah
tepat di depan mukaku, tanda memnita surat-surat.
“Maaf ndan, ini tadi saya buru-buru mau jemput adik saya
dari Surabaya.” Spontan aku menukas pak polisi.
“Iya saya tahu.Tapi boleh saya minta tunjukkan
surat-surat anda?” Suara polisi itu seperti meminta.
Perlahan tanganku merogoh saku celana kanan. Astaga!
Mengapa aku sampai tak sadar jika yang ku kenakan celana kolor yang ku pakai
tidur tadi malam.
Polisi itu hanya geleng-geleng kepala. “Gini saja, karena bapak tidak membawa surat-surat
kendaraan serta kartu identitas, motor bapak teerpaksa kami bawa.” “Naik kan
motor ini ke mobil”. Seru polisi itu pada salah seatu petugas yang sedari tadi
berdiri menjaga kami. “ Siap ndan!”
“Tapi ndan, wah jangan ndan ini tadi saya sudah telat mau
ke terminal. Gimana nasib adik saya?” Aku merengek , mencoba mempertahankan
motorku yang siap di angkut. “Damai saja ndan, damai.”
“Ayo naikkan ke mobil pak!” Seru polisi itu tak
memedulikan rengekanku. “Siap ndan!”
Dua polisi sigap menarik motorku. Satu orang menuntun
hingga ban depan nyaris mepet ke kolbak mobil. Satu orang lain mendorong motor
dari belakang. Dengan hati-hati kedua polisi itu berhasil menaikkan motor di
atas mobil kijang yang di desain mobil patrol.
“Ndan, saya gimana ndan!” Aku memastikan nasibku. “ Masa
main ambil-ambil kaya kayak preman. Saya dari jauh ndan gak mungkin pulang
jalan kaki, saya uga gak bawa ongkos untuk naik ojek ke rumah. Adik
saya gimana ndan!” “ Ndan!” Aku meracau di tengah-tengah kerumunan
orang-orang yang kena tilang. Nasib ang
tak memihak kepadaku yang lupa tidak mempersiapkan surat-surat kendaraan, tidak
membawa dompet maupun hape.
Aku mondar mandir di kerumunan orang-orang yang sama-sama
terkena tilang. Satu dua diantara mereka kulihat bisa melanjutkan perjalanan
dengan menunjukkan surat-surat kendaraan, ada juga yang menjulurkan beberapa
lembar uang kertas sebelum melanjutkan perjalanan.
Kepanikanku semakin menjadi-jadi. Semua petugas yang sedari tadi seolah-olah
mengeroyokku kini tak satupun yang memerdulikanku. Mereka semua sibuk
mengintrogasi para pengendara yang berhasil mereka hentikan. “Jam dua
belas. Operasi selesai.” Salah satu
petugas berteriak memberi isyarat.
Spontan para polisi menghentikan operasinya, salah seorang petugas berjalan ke
tengah aspal mengambil banner bertuliskan operasi, menaikkan ke atas pick up. Beberapa yang lain langsung meloncat ke atas
mobil patrol masing-masing, sebagian lagi langsung menujju motor patrol polisi,
memasang kaca mata hitam, memakai helm dan menguncinya, lalu meninjak souble
star motor patrol.
Suara mesin-mesin bergemuruh membuat kebisingan di terik
mentari siang itu, rombongan petugas langsung menancap gas. Menyisakan asap
dari knalpot yang mengepul, meninggalkan mata-mata memandang kecewa.
Orang-orang berkerumun sembari berbisik, bertanya. “Kena
berapa kam?” Tanya seorang di sebelahku. Aku hanya terdiam balik memerhatikan
orang-orang tersebut yang sepertinya kini perhatiannya mulai tertuju padaku.
Seorang laki-laki berusia sekitar empat puluhan, berbadan
besar memakai jaket kulit yang di biarkan tidak di kancingkan resletingnya
menghampiriku. “Masnya sepertinya sedang butuh banuan?” Taanya laki-laki itu.
Tangan kanannya masih menenteng helm full face yng terlihat sudah agak buram.
“Tadi saya rencananya mau jemput adik saya dari Surabaya
pak. Karena saya telat, saya lupa bawa handpone, bawa dompet. Jadi saya lupa
bawa SIM. Harusnya saya saampai ke terminal pukul sebelas tadi, enggak tahu
bagaimana nasib adik saya. Dia pasti kebingungan mencari saya.”
“Apa mending saya anter masnya ini ke rumah. Biar nanti
ketika sampai rumah bisa menghubung lagi adiknya?” Ujar laki-laki itu. Sesaat
aku masih tertegun, lalu berlahan-lahan kepalaku mengangguk pelan smabil
berjalan menuju motor yang terparkir di pinggir jalan.
Lelaki itu mendahului naik motor, ia segera memasang helm
di kepalanya. Aku mengikutinya dari belakang. “Jalan pak!” Seruku agak keras.
Laki-laki itu mengangguk untuk kemudian kakinya menekan perseneleng, tangan
kananya perlahan menarik gas, melepaskan dengan hati-hati kopling di tangan
sebelah kiri. Untuk sekejab motor itu melaju menyusuri jalanan perkampungan
kota Nganjuk.
(***)
Seorang adis remaja terlihat kebingungan di tengah-engah
terminal. Sedari tadi mencoba menghindari tawaran para lelaki yang mencoba
mendekatinya. Mulai dari penjual buah salak, calo, tukang ojek, hingga para
pengemis. Ia melangkah sambil menunduk, memandangi seksama layar telepon
genggamnya, ransel besar terpasang di belakang. Sesekali pengendara motor
menyalakan klakson padanya. Ia terus
berjalan keluar terminal, melewati para pedagang kaki lima, tukang becak yang
berjajar, menuju pom yang berada tak jauh dari terminal.
Ia berjalan menuju musola Pom, dengan hati-hati
meletakkan tas ransel di dekat pintu musola. Setelah duduk beberapa saat,
wanita itu beringsut menuju toilet, menyingsingkan celana, lalu mengambil air
wudhu.
Namun kaget yang menggejolak, saat wanita itu menemui
bahwa ransel besarnya raib di tempatnya. Ia gelagapan tak menentu, sejurus
kemudian ia melangkah menghampiri orang-orang yang sedang duduk-duduk di
parkiran Pom. Namun ia urung melanjutkan dan memutar badan, berniat menanyai
petugas SPBU yang sedang menata rumput di taman SPBU.
“Pak tas saya hilang! “ Ungkapnya tidak sabaran.
“Apa Neng?” Lelaki paruh baya itu menoleh. Dengan wajah
yang lugu ia meninggalkan pekerjaannya lalu mendekti gadis yang mengajaknya
bicara.
“Hilang di mana Neng?”
“Tadi saya taruh di deket pintu musola. Pas saya habis
dari toilet sudah hilang.” Sela wanita itu tak sabaran. Wajahnya memperlihatkn
epanikan. Keringat membanjiri kerut lehernya, sesekali ia menyeka dengan
punggung telapak tangannya.
“Waduh. Ini masalah serius. Sebelumnya ini belum pernah
dialami loh Neng. Bagaimana ya…? Apa gini saja. Eneng tunggu di sini saya ke
official biar dilihatkan rkaman CCTV-nya.” Katanya sambil meletakkan celurit
kecil di atas kotak sampah SPBU. Lalu menuju kantor .
Seperti anak ayam bersama induknya wanita itu membuntuti
petugas SPBU menuju kontor SPBU. Ia berjalan berjingkat dibelakang pria itu,
jari-jarnya saling meremas. Keningnya pun terus mengeluarkan peluh yang
merembes. Ia menunggu didepan kantor, melihat petugas yang bercakap-cakap
didalam. Maka setelah beberapa saat mereka saling berckap, salah satu petugas
memberi isyarat, melihat rekaman CCTV. Sementara mempersilahkan wanita itu
menunggu di ruang tamu.
“Boleh lihat KTPnya Mbak?” Tanya petugas SPBU menyodorkan
tangan. Wanita itu meraba-raba kantong celananya mencari sesuatu. Kepanikan pun
terlihat di raut mukanya. Keningnya yang mengkerut, menggigit bibir. “Maaf, KTP
saya juga didalam ransel saya.” “Namanya siapa kalau boleh tah?” “Ralin.” “Dari
mana mau kemana” Tanya petugas itu lagi. Perempuan tu mengkerutkan keningnya.
“Begini Pak ceritanya.” Ralin lalu menceritakan semua
perjalanan yang dia alami hari itu. Mulai dari dia yang belum tahu alamat rumah
baru keluarganya di Nganjuk. Bahwa dia
tidak bisa menghubungi kakaknya sejak pagi. Lalu sampai kronologi kehilangan
ransel yang dialaminya. Petugas itu mendengarkan antusias.
Setelah beberapa saat petugas yang sedang mengecek
rekaman CCTV memanggil. “Sudah ketemu yang maling.” Ralin langsung mendekat.
Lalu petugas itu memutar rekaman CCTV. “Astaga! Inikah si pengemis tadi!” Ujar
Ralin kemudian. “Bisa lihat arahnya keana gak?” Paksa Ralin. Petugas itu berjau
sebentar, lalu memutar rekaman dan menunjukkannya pada Ralin. “Ini. Kearah
timur. Mungkin ke alun-alun.” Jawab petugas itu mencoba berasumsi.
Maka karena berpikiran tidak memiliki ongkos untuk bayar
becak. Ia berlari-lari kecil menuju alun-alun. Napasnya mulai terengah-engah
saat ia hampir sampai ke alun-alun. Dan benar saja, dia melihat seorang wanita
berjalan cepat membawa ransel. Ralin semakin meningkatkan tempo larinya, napas
yang menderu tak dirasakannya. Dadanya hanya terasa dingin, terik mentari yang
mulai menyengatpun tak terasa. Ujarnya dalam hati, mumpung wanita itu belum
menoleh ebelakang, maka dia terus mengejar.
Wanita itu menoleh dan terlihat kaget saat melihat Ralin
sudah didekatnya. Seketika mengambil langkah seribu. Namun perempuan itu kalah
karena Ralin sudah berhasil meraih ranselnya. “Maling…!!! Teriak Ralin keras.
Wajah wanita itu semakin panik. Terlebih saat melihat orang-orang berhamburan
mendekati mereka berdua.
Tanpa menunggu lama wanita itu berlari. Orang-orang
meneriakkan maling padanya. Maka seluruh orang-orang yang berada di alun-alun
ikut berhamburan mengejar. Tukang mie ayam, penjual wayangan, pejaga mainan,
tukang bakso, puluhan anak berseragam putih abu-abu yang sedang latihan baris
berbaris pun tak mau ketinggalan, ikut mengejar wanita itu. Ralin susah payah
melihat nasib wanita yang kini jauh dihajar warga. Ia berjibaku dengan
orang-orang yang saling desak iingin memukuli wanita itu.
Kegaduhan itu membuat sejumlah petugas kepolisian yang
berjaga berlarian mendekat, mencoba membubarkan. Salah satu polisi menerobos
masuk. Ia mikut berjejal menuju pusat kerumunan, berteriak membubarkan. Namun
orang-orang seakan tak peduli, lalu
terpaksa polisi itu melepaskan tmbakan peringatan beberapa kali keudara.
Baru lah perempuan itu mulai menampaak tergeletak di
pinggir jalan alun-alun. Mulutnya penuh darah segar yang erus mengalir,
rambutnya acak-acakan, baju lusuh robek-robek, dan bagian tubuh lain penuh luka
lebam. Petugas polisi lalu mengangkat tubuh wanita itu, memanggil ambulan. Ia
sibuk berkomentar dengan suara yang keluar dari hatip.
Nganjuk 2017
Tulisan ini hanya hasil dari pelatihan menulis novel saja.
Comments
Post a Comment