Cerpen | Nganjuk- Solo

Juli ke 20- Nganjuk- Solo
 
pixabi.free
Udara  mulai terasa dingin saat kakiku mendarat di terminal Solo. Dengen menenteng ransel hitam berukuran besar, aku berjalan menelusuri setiap  sudut  terminal, berbaur dengan orang-orang yang saling berebut mendahului. Mencari transportasi pengganti.

Palembang-Nganjuk, pada hari-hari seperti ini memang susah mencari bus antar provinsi. Biasanya- jika berangkat sendiri-, aku selalu memilih menumpang bus Rosalia. Karena selain bisa langsung turun di pasar Baron, ke-ajekan jadwal bus yang selalu  sampai ke kampus Pomosda pada malam hari menjadi opsi agar aku bisa langsung mengempaskan tubuhku di kostan dan beristirahat hingga pagi.

Namun pada tahun baru kali ini, tuntutanku sebagai ketua organisasi di kampus mengharuskanku berangkat lebih dini. Dan terpaksa membiarkanku tersangkut di terminal Solo.

Aku terus berjalan mencari ruang tunggu. Sesekali mataku liar mengawasi orang-orang yang berlalu lalang di terminal. Wajah-wajah yang kosong, berjibaku dengan layar mini di genggaman. Wajah yang beku dan pucat seperti mayat, berjalan beriringan namun saling diam membisu. Orang-orang itu seolah berjejal diantara patung-patung manusia yang lunak, menarik ransel-ransel tanpa suara. Hanya yang terdengar suara klakson-klakson bus bernada telolet, suara desingan rem, dan musik koplo yang masih menggema hingga kini. Seakan tak kehidupan selain mahluk mati. Mungkinkah ni yang  disebut kota mati?

Mungkin tidak. Sebab di seberang sana,  beberapa laki-laki tak lelahnya berteriak mencari penumpang. Mondar mandir seperti sedang kehilangan barang. Belum lama tadi, salah satu diantara mereka berhasil menarik satu keluarga yang sedang kebingungan kedalam bus. Setelah menerima selembaran uang puluhan ribu, ia meneruskan berkoar di pinggir bus yang terparkir menunggu penumpang.

Di salah satu aktifitas tanpa suara itulah mataku tersangkut. Terpaku pada seseorang yang sedang sibuk dalam kekosongan di sana.

Aku tak tahu, mengapa aku menjadi ingin memerhatikannya, gadis belia yang sedang sibuk melayani para pembeli. Wajahnya yang imut saat sedang duduk menunggu,  dan menjadi terlihat dewasa saat sibuk meracik nasi pincuk lalu menyodorkannya pada setiap orang yang memesan.

Lama mataku tertegun, mencari penyebab mengapa dia terlihat istimewa bagiku. gadis kecil yang memakai celana jeans ketat,  kaos biru team sepak bola chealsea dirangkap jaket merah, dan rambutnya dibiarkan tergerai kebelakang. Membuatku ingin memerhatikannya lebih lama. Lalu kuputuskan mendekatinya, pura-pura memesan nasi pincuk bersama orang-orang yang sedang kelaparan.

Keinginan untuk mendekatinya seoalah tak membuahkan hasil, bahkan tatapan matanya serasa sangat dingin saat menyodorkan sepincuk nasi, sedingin hawa malam ini. Lama kuhabiskan sepincuk nasi sembari sesekali meliriknya. Dari sela-sela mataku mencuri memandanginya, kutaksir gadis itu berusia 12-an. Oh. Salah. Mungkin lebih tepat jika 9-an.

Waktu yang singkat membuatku terbatas memandanginya, apalagi mengajaknya berbicara. Jam digital di pergelangan menunjukkan pukul 00.00 tepat, saat bus Mira Solo-Surabaya siap berangkat. Sekali tatapan mata kami bertemu. Kemudian aku memiliki keyakinan penyebab mengapa aku tertarik dengan gadis itu. 
Aku meningalkan gadis itu tanpa mengetahui siapa dia, memilih meloncat ke dalam barisan kursi bus Mira sebelum penumpang semakin berjejal dan harus rela berdiri sampai Nganjuk.

Empat jam kutaksir sampai ke pasar Baron, kuputuskan menghubungi Zainal, teman kostan menjemputku disana. Dan memang selalu tepat prediksiku. Zainal yang berselimut jaket hitam sedang menahan hawa dingin dan rasa kantuk sudah tentu meminta upah . “Depan Pasar Warujayeng pecelnya enak.” Kata Zainal di tengah perjalanan.

Dan entah tertanda apa ini, si gadis imut yang kutemui malam tadi sudah berada di sana. Berdiri sibuk dalam pekerjaannya yang terasa kosong. Menjadi pelayan orang-orang jalanan yang sedang mencari sesuap nasi.

Aku berdiri termangu mencoba mengenali gadis kecil berparas manis itu, memerhatikannya seksama. Mata kuyunya yang sama, celana dan kaos yang dikenakannya sama, bahkan cara ia menerima selembaran uang dari orang-orang pun sama. Benar-benar tak meleset dari gadis manis yang kutemui di terminal Solo. Dan jika saja harus ada yang berbeda, adalah tempat yang terpaut jarak yang cukup jauh. Antara Nganjuk- Solo.

20 Juli 2017

Ditulis untuk memenuhi program kemandirian "one day one article". Nantikan kelanjutan cerpen ini pada episode selanjutnya.
Atau silahkan baca versi lengkap di SINI.

Comments

  1. Luar biasa keren.....
    TInggal memaksimalkan setiap kalimat dan memadukannya menjadi kalimat yang efektif. Ide yang menarik sekali. Cihuy....!

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts