Cerpen | Nganjuk- Solo
Juli ke 20- Nganjuk-
Solo
Udara mulai
terasa dingin saat kakiku mendarat di terminal Solo. Dengen menenteng ransel
hitam berukuran besar, aku berjalan menelusuri setiap sudut terminal,
berbaur dengan orang-orang yang saling berebut mendahului. Mencari transportasi
pengganti.
Palembang-Nganjuk, pada
hari-hari seperti ini memang susah mencari bus antar provinsi. Biasanya- jika
berangkat sendiri-, aku selalu memilih menumpang bus Rosalia. Karena selain
bisa langsung turun di pasar Baron, ke-ajekan jadwal bus yang selalu sampai
ke kampus Pomosda pada malam hari menjadi opsi agar aku bisa langsung
mengempaskan tubuhku di kostan dan beristirahat hingga pagi.
Namun pada tahun baru kali
ini, tuntutanku sebagai ketua organisasi di kampus mengharuskanku berangkat
lebih dini. Dan terpaksa membiarkanku tersangkut di terminal Solo.
Aku terus berjalan
mencari ruang tunggu. Sesekali mataku liar mengawasi orang-orang yang berlalu
lalang di terminal. Wajah-wajah yang kosong, berjibaku dengan layar mini di
genggaman. Wajah yang beku dan pucat seperti mayat, berjalan beriringan namun
saling diam membisu. Orang-orang itu seolah berjejal diantara patung-patung
manusia yang lunak, menarik ransel-ransel tanpa suara. Hanya yang terdengar
suara klakson-klakson bus bernada telolet, suara desingan rem,
dan musik koplo yang masih menggema hingga kini. Seakan tak kehidupan selain mahluk mati. Mungkinkah ni yang disebut kota mati?
Mungkin tidak. Sebab di
seberang sana, beberapa laki-laki tak lelahnya berteriak mencari
penumpang. Mondar mandir seperti sedang kehilangan barang. Belum lama tadi,
salah satu diantara mereka berhasil menarik satu keluarga yang sedang
kebingungan kedalam bus. Setelah menerima selembaran uang puluhan ribu, ia
meneruskan berkoar di pinggir bus yang terparkir menunggu penumpang.
Di salah satu aktifitas
tanpa suara itulah mataku tersangkut. Terpaku pada seseorang yang sedang sibuk
dalam kekosongan di sana.
Aku tak tahu, mengapa
aku menjadi ingin memerhatikannya, gadis belia yang sedang sibuk melayani para
pembeli. Wajahnya yang imut saat sedang duduk menunggu, dan menjadi
terlihat dewasa saat sibuk meracik nasi pincuk lalu menyodorkannya pada setiap
orang yang memesan.
Lama mataku tertegun,
mencari penyebab mengapa dia terlihat istimewa bagiku. gadis kecil yang memakai celana
jeans ketat, kaos biru team sepak bola chealsea dirangkap jaket
merah, dan rambutnya dibiarkan tergerai kebelakang. Membuatku ingin
memerhatikannya lebih lama. Lalu kuputuskan mendekatinya, pura-pura memesan
nasi pincuk bersama orang-orang yang sedang kelaparan.
Keinginan untuk
mendekatinya seoalah tak membuahkan hasil, bahkan tatapan matanya serasa sangat
dingin saat menyodorkan sepincuk nasi, sedingin hawa malam ini. Lama kuhabiskan
sepincuk nasi sembari sesekali meliriknya. Dari sela-sela mataku mencuri
memandanginya, kutaksir gadis itu berusia 12-an. Oh. Salah. Mungkin lebih tepat
jika 9-an.
Waktu yang singkat
membuatku terbatas memandanginya, apalagi mengajaknya berbicara. Jam digital di
pergelangan menunjukkan pukul 00.00 tepat, saat bus Mira Solo-Surabaya siap
berangkat. Sekali tatapan mata kami bertemu. Kemudian aku memiliki keyakinan
penyebab mengapa aku tertarik dengan gadis itu.
Aku meningalkan gadis
itu tanpa mengetahui siapa dia, memilih meloncat ke dalam barisan kursi bus
Mira sebelum penumpang semakin berjejal dan harus rela berdiri sampai Nganjuk.
Empat jam kutaksir
sampai ke pasar Baron, kuputuskan menghubungi Zainal, teman kostan menjemputku
disana. Dan memang selalu tepat prediksiku. Zainal yang berselimut jaket hitam
sedang menahan hawa dingin dan rasa kantuk sudah tentu meminta upah . “Depan
Pasar Warujayeng pecelnya enak.” Kata Zainal di tengah perjalanan.
Dan entah tertanda apa
ini, si gadis imut yang kutemui malam tadi sudah berada di sana. Berdiri sibuk
dalam pekerjaannya yang terasa kosong. Menjadi pelayan orang-orang jalanan yang
sedang mencari sesuap nasi.
Aku berdiri termangu
mencoba mengenali gadis kecil berparas manis itu, memerhatikannya seksama. Mata
kuyunya yang sama, celana dan kaos yang dikenakannya sama, bahkan cara ia
menerima selembaran uang dari orang-orang pun sama. Benar-benar tak meleset
dari gadis manis yang kutemui di terminal Solo. Dan jika saja harus ada yang
berbeda, adalah tempat yang terpaut jarak yang cukup jauh. Antara Nganjuk-
Solo.
20 Juli 2017
Ditulis untuk memenuhi
program kemandirian "one day one article". Nantikan kelanjutan cerpen
ini pada episode selanjutnya.
Atau silahkan baca versi lengkap di SINI.
Atau silahkan baca versi lengkap di SINI.
Luar biasa keren.....
ReplyDeleteTInggal memaksimalkan setiap kalimat dan memadukannya menjadi kalimat yang efektif. Ide yang menarik sekali. Cihuy....!
Masukannya ane ambillll.... thanks man.
Delete