Cerpen | Mia
Juli ke 16- Mia
Sore itu, setelah
jamaah magrib usai. Pasar Martapura mengalami kemacetan. Tak seperti biasanya
Martapura macet. Usut punya usut, telah
terjadi tragedy memilukan . Seorang perempuan setengah baya menjadi pusat
tontonan massa. Semua tak berani mendekat.
Mereka hanya berusaha melihat mendekat, lalu pergi. Beberapa orang
hendak menolong, namun ciut nyali juga. Pergi.
Bagian tubuh dan
kepala perempuan itu sudah ditutupi daun pisang saat polisi datang ke TKP.
Sedang sopir fuso sudah lari entah kemana. Kontainer besar itu masih menyala di
pinggir jalan.
“Perempuan itu
bingung sejak tadi. Kayak sudah gila.” Ujar seseorang yang berada di
tengah-tengah kerumunan.
“Tadi masih beli
pulsa ke aku. Buat nyari anaknya yang minggat katanya.” Seorang laki-laki
gendut berkaos putih menimpali.
“Sudah diamankan
Pak Polisi.” Sambung yang lain. Disusul satu persatu kerumunan orang itu meninggalkan pusat keramaian.
(***)
Mia mendekap kedua
kakinya yang tertekuk merapat. Ia meringkuk di depan pintu toko menghindari
siraman air hujan yang semakin deras mengguyur. Sementara malam semakin larut,
membuat suasana pasar desa semakin mencekam.
Kaki gadis mungil
itu mulai gemeteran. Angin menghembuskan
percikan air hujan yang terasa sangat dingin. Membasuh sekujur tubuhnya. Sesekali
Mia menggigit ujung jari, merasakan dingin menusuk-nusuk tulang sumsum. Namun
hujan dan kencangnya angin seakan tak mau kompromi , mengguyur seluruh kota
dan merobohkaan beberapa baleho di pinggir jalan.
Mia mulai
menyerah. Kini tekatnya tidak pulang ke rumah mulai surut. Ia mulai memikirkan
cara mencari alasan agar Mama menerimanya malam ini dengan penuh rasa menyesal.
Bagaimanapun juga, mama yang salah. Dan ketika nanti Mama menemukan dirinya di
sini, mama akan langsung memeluknya erat-erat, menciumi rambutnya sembari
berujar ditelinganya, “Maafin Mama Mia. Mama yang salah. Ayo pulang
cantik?”
Hujan masih deras
mengguyur ruko-ruko, seolah ikut
membenci Mia malam itu. Saat Mia mengingat kejadian tadi sore. Mia urung hendak
melangkahkan kaki pulang. Mia membenci Mama yang selalu marah-marah. Ia benci dibilang sok cantik. Dan ia selalu
membenci disuruh-suruh menyapu, mengepel. Apalagi dimarahin cuma gara-gara
bercermin. “Bersolek kan wajar bagi anak perempuan.” Gumam Mia sambil meringkuk
kedinginan.
“Tiap hari
kerjaannya kok cumo ngaca bae. .. Dosa apo la aku punyo anak gadis pemalas mak
itu. Nyapu ogah-ogahan. Hape.. sajo kau tu, ketawa-ketiwi gak jelas samo lanangan. Inget kao tu betino Mia. Dak bagus
bersolek di depan kaca terus .” Suara Mamanya masih terngiang di telinganya.
Terdengar mengawang di langit-langit, seolah menghardiknya dari sela-sela ruko.
Hujan mulai reda.
Menyisakan gerimis kecil dan air yang menggenangi jalanan. Mia menatap jalanan
kejauhan yang masih lengang. Sunyi. Seolah tak ada kehidupan apapun selain
dirinya di tengah bangunan pasar.
“Mmmia!…”
Mia menoleh
kebelakang. Sepi. Tidak ada siapa-siapa di sini. Pandangan gadis itu berkeliling
mengawasi setiap sudut bangunan yang
terlihat suram. Hanya terdengar sesekali suara air menetes jatuh. Menciptakan
suara keheningan malam menusuk-nusuk keberanian gadis kecil itu yang mulai menciut.
“Mmmia….”
“Siapo?”
Perlahan-lahan Mia mengangkat kepala, menjauhkannya dari
telapak tangan yang sejak tadi menjadi bantalan. Tia-tiba saja bulu kuduknya
berdiri. Lehernya terasa panas dan kaku.
Suara detak jantung seakan terdengar
sampai ke telinga. Di ujung jalan, sosok wanita
berbaju putih . Semakin lama semakin
jelas dan mendekat. Sosok tersebut seperti melayang mendekatinya. Hingga semakin dekat, sosok wanita itu seperti tak asing bagi Mia.
Mia semakin kalap, namun kakinya tak bisa
sedikitpun digerakkan.
“Mmmia……..”
16 Juli 2017
Ditulis untuk memenuhi program kemandirian "one day one article". Sebuah cerpen yang dibuat secara ringkas. Semoga bermanfaat!
Meski hanya ringkas.... kamu memiliki kemampuan yang cemerlang, Sob! Ide cerita yang keren, bahkan untukku sekali pun. One Thumb Ups....!
ReplyDelete