Cerpen | Cerita Tentang Senjakala
Juli ke 18- Cerita
Tentang Senjakala
Tak banyak yang tahu
mengapa aku sering duduk melamun di sini. Berdiri di atas tanggul sekedar
memandangi sawah. Meski tidak luas dan di kelilingi gedung-gedung pencakar
langit. Rumput pun tak tumbuh di sana. Hanya gundukan tanah kering yang
sebentar lagi diganti material bangunan gedung-gedung, menyusul pencakar langit di kejauhan sana. Mataku bias memandang hamparan sawah kering
penuh retakan menganga di sana sini. Anak-anak asik bermain layang-layang. Ada
pula yang berebut bola di sana.
Biarkan saja orang-orang
yang berlalu lalang itu menganggapku gila. Toh betapa kasihannya mereka tidak
pernah tahu, bahwa setiap sore aku bisa menikmati surganya senja dunia. Warna
kuning kemilau yang melambangkan betapa tentram dunia. Awan yang berjalan
merangkak, dan asap-asap kecil yang mengepul di kejauhan sana, adalah miniatur
surga yang begitu mempesona.
Semilir angin terasa
mengempas-empaskan kemeja. Dingin nan sejuk serasa menusuk-nusuk uluh hati,
menjamah kekeringan jiwa, merasuk melalui pori-pori, kubiarkan
menjamah seluruh tubuhku. Merangsang gairahku menikmati syahdunya senja yang
seolah menggodaku untuk tak segera melewatinya begitu saja.
Kunikmati begitu saja
hingga terkadang malam harinya aku harus rela sekujur tubuhku memerah di keroki
Iyem, pembantuku. Aku tetap tegak berdiri, membiarkan suara klakson saling
menyahut di jalanan. Suara adzan di surau, seolah menuntaskan kekosonganku.
Senja hampir berlalu.
Pikiranku masih
melayang-layang, membawaku pada usia ke lima tahun, saat aku belum
mengenal istilah galau. Hanya ada istilah senang, saat Bapak mengangkat badanku
ke atas garu, dan bersenang-senang mengikuti sapi-sapi membajak
sawah. Seharian. Sedangkan saat sedihku, ketika lumpur terbang mengenai mataku
akibat ulah sapi-sapi itu. Namun biasanya Bapak langsung menggendongku menuju
sungai, membasuh mataku dari lumpur yang menempel di sana.
Pikiranku kembali pada
usia empat puluh tahun sejenak. Sebelum kembali melayang-layang menjelajahi
masa-masa seventeen.
Rina, gadis desa yang
sering kuajak bermain di sini. Sekedar melempari tanah kering ke tengah sawah.
Kami berlomba melemparinya, dan Rina tak pernah melempar jauh melampauiku. Dan
terkadang kami akan berhenti saat Rina menyerah. Kalah.
Saat itu, sapi-sapiku
sudah digantikan mesin-mesin traktor yang mulai ramai digemari penduduk. Entah
apa yang membuat orang-orang suka dengan robot itu. Padahal menurutku, robot
buatan Myanmar itu hanya mengganggu ketentramanku dikala senja. Berkoar memecah
kekhusukanku bercumbu dengan mega-mega. Aku rindu pada sapi-sapiku.
Pada usiaku yang ke
tujuh belasan, saat Senja yang temaram seperti saat ini. Padiku
masih tumbuh lebat menghijau. Sama hijaunya saat "aku" kecil menuntun sapi-sapi
dan berlama-lama pulang. Asik membiarkan sapi-sapi menikam rerumputan di sepanjang
pinggiran jalan. Sebelum cahaya matahari benar-benar tenggelam digantikan
lampu-lampu yang berpendar di kejauhan. Lalu tersadar dan buru-buru
mengandangkan sapi-sapi.
Pada usiaku yang ke tuju
belas, aku masih sering bertanya-tanya mengenai sapi-sapiku yang dibawa
orang-orang. Dimasukkannya ke dalam truk besar. Bapak hanya bilang; “Sapi
berevolusi menjadi robot. Sedang kotoran sapi disulap menjadi tanah pabrikan.
Hebatnya, lihatlah padimu yang tersentuh sedikit saja jimat itu. Ranum sekali
bukan?” Jawab Bapak sore itu.
“Kamu tidak usah
repot-repot mencari rumput. Kita bisa berduaan lebih lama di sini. Ayo main
lempar-lemparan lagi! Aku sanggup kok mengalahkanmu.” Kata Rina
menghiburku.
Kembali ke usia lima
tahunku, saat suatu senja hampir terbenam. Di sawah ini aku pernah menjadi
dokter untuk sapiku. Bapak memegangi talinya supaya sapi tidak lari. Aku
meloncat-loncat kegirangan melihat kegelisahan sapiku yang terus berputar
mengelilingi Bapak yang keringetan menahannya di sana. Sebelum akhirnya sapiku
merobohkan diri, lalu keluar sapi kecil yang imut penuh air ketuban dari
sela-sela rahimnya.
Usiaku yang ke tujuh
belas, di saat senja, Rina mendatangiku yang sedang berdiri mencumbui aroma
senja. Ia mengempaskan desahan nafas di telingaku. Sembari berbisik ia
berujar,” Ini senja terakhir aku menjadi pendengar cerita tentang senjakala
dan sapi-sapimu. Karena aku sadar selama ini hanya menjadi pelengkapmu
mencumbui senja dan memorimu.”
Dua puluh tiga tahun
sudah berlalu, tak mungkin Rina masih teringat tentang senja dan memori
sapi-sapi. Tak mungkin pula Rina masih menerima lelaki yang tak bisa berjalan
tanpa penyangga kaki, setelah kakinya patah tertabrak robot buatan Myanmar dua
puluh tiga tahun silam. Bukankah Rina tak ingin hidup susah mengurus orang yang
hanya punya kisah tentang senja? Lalu untuk apa di senja ini dia
datang. Mungkin saja hanya untuk mengusikku.
“Saya Iyem tuan. Siapa
Rina? Saya bawakan kursi roda. Mari pulang, hari sudah mulai gelap.”
Aku terkesiap saat tangan
Iyem melambai-lambai tepat di depan wajahku.
“Ow. Ternyata tuan pras
pernah dekat dengan perempuan juga.” Bisik Iyem sambil mendorong
kursi roda.
18 Juli 2017
Ditulis untuk
memenuhi program kemandirian "one day one article".
Comments
Post a Comment