Cerpen | Cerita Tentang Senjakala

Juli ke 18- Cerita Tentang Senjakala

pixaby.free

Tak banyak yang tahu mengapa aku sering duduk melamun di sini. Berdiri di atas tanggul sekedar memandangi sawah. Meski tidak luas dan di kelilingi gedung-gedung pencakar langit. Rumput pun tak tumbuh di sana. Hanya gundukan tanah kering yang sebentar lagi diganti material bangunan gedung-gedung, menyusul pencakar langit di kejauhan sana. Mataku bias memandang  hamparan sawah  kering penuh retakan menganga di sana sini. Anak-anak asik bermain layang-layang. Ada pula yang berebut bola di sana.

Biarkan saja orang-orang yang berlalu lalang itu menganggapku gila. Toh betapa kasihannya mereka tidak pernah tahu, bahwa setiap sore aku bisa menikmati surganya senja dunia. Warna kuning kemilau yang melambangkan betapa tentram dunia. Awan yang berjalan merangkak, dan asap-asap kecil yang mengepul di kejauhan sana, adalah miniatur surga yang begitu mempesona.

Semilir angin terasa mengempas-empaskan kemeja. Dingin nan sejuk serasa menusuk-nusuk uluh hati, menjamah kekeringan  jiwa, merasuk melalui pori-pori, kubiarkan menjamah seluruh tubuhku. Merangsang gairahku menikmati syahdunya senja yang seolah menggodaku untuk tak segera melewatinya begitu saja.

Kunikmati begitu saja hingga terkadang malam harinya aku harus rela sekujur tubuhku memerah di keroki Iyem, pembantuku. Aku tetap tegak berdiri, membiarkan suara klakson saling menyahut di jalanan. Suara adzan di surau, seolah menuntaskan kekosonganku. Senja hampir berlalu.

Pikiranku masih melayang-layang, membawaku  pada usia ke lima tahun, saat aku belum mengenal istilah galau. Hanya ada istilah senang, saat Bapak mengangkat badanku ke atas garu, dan bersenang-senang mengikuti sapi-sapi membajak sawah. Seharian. Sedangkan saat sedihku, ketika lumpur terbang mengenai mataku akibat ulah sapi-sapi itu. Namun biasanya Bapak langsung menggendongku menuju sungai, membasuh mataku dari lumpur yang menempel di sana.

Pikiranku kembali pada usia empat puluh tahun sejenak. Sebelum kembali melayang-layang menjelajahi masa-masa seventeen.

Rina, gadis desa yang sering kuajak bermain di sini. Sekedar melempari tanah kering ke tengah sawah. Kami berlomba melemparinya, dan Rina tak pernah melempar jauh melampauiku. Dan terkadang kami akan berhenti saat Rina menyerah. Kalah.

Saat itu, sapi-sapiku sudah digantikan mesin-mesin traktor yang mulai ramai digemari penduduk. Entah apa yang membuat orang-orang suka dengan robot itu. Padahal menurutku, robot buatan Myanmar itu hanya mengganggu ketentramanku dikala senja. Berkoar memecah kekhusukanku bercumbu dengan mega-mega. Aku rindu pada sapi-sapiku.

Pada usiaku yang ke tujuh belasan, saat Senja yang temaram seperti saat ini.  Padiku masih tumbuh lebat menghijau. Sama hijaunya saat "aku" kecil menuntun sapi-sapi dan berlama-lama pulang. Asik membiarkan sapi-sapi menikam rerumputan di sepanjang pinggiran jalan. Sebelum cahaya matahari benar-benar tenggelam digantikan lampu-lampu yang berpendar di kejauhan. Lalu tersadar dan buru-buru mengandangkan sapi-sapi.

Pada usiaku yang ke tuju belas, aku masih sering bertanya-tanya mengenai sapi-sapiku yang dibawa orang-orang. Dimasukkannya ke dalam truk besar. Bapak hanya bilang; “Sapi berevolusi menjadi robot. Sedang kotoran sapi disulap menjadi tanah pabrikan. Hebatnya, lihatlah padimu yang tersentuh sedikit saja jimat itu. Ranum sekali bukan?” Jawab Bapak sore itu.

“Kamu tidak usah repot-repot mencari rumput. Kita bisa berduaan lebih lama di sini. Ayo main lempar-lemparan  lagi! Aku sanggup kok mengalahkanmu.” Kata Rina menghiburku.

Kembali ke usia lima tahunku, saat suatu senja hampir terbenam. Di sawah ini aku pernah menjadi dokter untuk sapiku. Bapak memegangi talinya supaya sapi tidak lari. Aku meloncat-loncat kegirangan melihat kegelisahan sapiku yang terus berputar mengelilingi Bapak yang keringetan menahannya di sana. Sebelum akhirnya sapiku merobohkan diri, lalu keluar sapi kecil yang imut penuh air ketuban dari sela-sela rahimnya.

Usiaku yang ke tujuh belas, di saat senja, Rina mendatangiku yang sedang berdiri mencumbui aroma senja. Ia mengempaskan desahan nafas di telingaku. Sembari berbisik ia berujar,” Ini senja terakhir aku menjadi pendengar cerita tentang senjakala dan sapi-sapimu. Karena aku sadar selama ini hanya menjadi pelengkapmu mencumbui senja dan memorimu.”

Dua puluh tiga tahun sudah berlalu, tak mungkin Rina masih teringat tentang senja dan memori sapi-sapi. Tak mungkin pula Rina masih menerima lelaki yang tak bisa berjalan tanpa penyangga kaki, setelah kakinya patah tertabrak robot buatan Myanmar dua puluh tiga tahun silam. Bukankah Rina tak ingin hidup susah mengurus orang yang hanya punya kisah tentang senja? Lalu  untuk apa di senja ini dia datang. Mungkin saja hanya untuk mengusikku.

“Saya Iyem tuan. Siapa Rina? Saya bawakan kursi roda. Mari pulang, hari sudah mulai gelap.”
Aku terkesiap saat tangan Iyem melambai-lambai tepat di depan wajahku.

“Ow. Ternyata tuan pras pernah dekat dengan perempuan juga.” Bisik  Iyem sambil mendorong kursi roda.

18 Juli 2017

Ditulis untuk memenuhi program kemandirian "one day one article". 


Comments

Popular Posts