Belajar Menjadi Manusia Seutuhnya

Belajar Menjadi Manusia Seutuhnya

Bagaimanakah menjadi manusia seutuhnya yang sering ditekankan Bapak Kyai Tanjung?

Oh. Aku yang malam ini sudah mulai mengantuk. Dan tulisan ini merupakan artikel ke dua setelah sebelumnya tulisanku yang membahas tentang pendidikan, kutinggalkan sementara demi membuat artikel  baru yang tidak memaksa. Maka dengan mulut yang sesekali menganga, mengeluarkan ranjau mematikan nyamuk-nyamuk yang sedang terbang didepan, ku tarik lagi laptop dan kumainkan jariku lagi, mejamahi setiap huruf yang tertata rapi di sana.

Demi tulisan ini pula, inginku menggambar sebuah keinginan menjadi manusia cerdas. Pandainya mengalah, cerdas mencari solusi, visioner, tidak ada istilah rumit namun semua masalah pada dasarnya sederhana, pandai me-manage diri dan lingkungan, tidak mudah larut, berkomitmen, cekatan, kreatif, entreprenheurship, sosialis, dan memiliki jiwa kepemimpinan.

Menjadi manusia seutuhnya, yang tidak melupakan asal jati diri manusia.

Lelah juga menuruti penyakit hati. Iri dengki datang silih berganti, ingin, ingin, dan keinginan yang menyiksa hati. Benar-benar melelahkan, menguras perasaan . Kadang merasa ingin di mengerti, kadang tak mau mengerti, lebih sering disusupi dengki.

Oh. Malam yang sepi, berteman nyanyian cicak dan detak jarum jam yang terus berputar. Tak terasa, haripun akan berganti. Biarkan tulisan ini menyambut angka Sembilan belas di kalender Mahdi. Tak berhenti aku menikmati detik demi detiknya pergantian hari.

Menjadi manusia seutuhnya, menjadi pribadi yang mau diajari tentang makna hidup yang hakiki.
Kemudian untuk esok hari, semoga hari yang kujalani berjalan pada garis lurus. Dimulai dari pagi hari, menjalankan rutinitas wajib lalu berjibaku dengan manusia-manusia di poto kopi. Projek tulisanku selanjutnya akan membuat  cerita pendek-yang targetnya jadi dalam sehari- dengan membawa pesan tentang kehidupan sehari-hari.

Aku akan mengawalinya dengan observasi di kala pagi, mencari refrensi disiang hari, membuat mind map di sore hari lalu  menulisnya, malam dilakukan proses finishing dan revew.  Dengan catatan tidak mengurangi kegiatan yang lain. (Paragraf ini merupak proses pembelajaran me-manage diri. Karena yang pernah saya baca; kita harus punya gambaran hari esok- apa yang akan kita kerjakan).

Sedangkan pelajaran yang kudapat hari ini adalah kedengkian yang menyiksa hati, dan yang tentu selalu terulang dan terulang adalah bagaimana kita pandai mengatur waktu, kapan dan bagaimana kita harus menyikapi hal-hal yang sederhana namun tetap masih terabaikan oleh kita. Oh.  Selain jadwal yang menjad molor……

19 Juli 2017

Catatan : Anda tidak akan menemukan poin solusi dalam pembahasan yang saya buat menjadi judul diatas. Namun saya masih berharap apa yang saya tulis bermanfaat bagi para pembaca.

Comments

Popular Posts