Agar Tulisan Memiliki Ruh
Juli ke 14-
Agar Tulisan Memiliki Ruh
Menjadi penulis
tentu memiliki visi dalam kepenulisannya.
Selama saya
membaca banyak jenis tulisan para penulis yang mampu menarik perhatian
khalayak, dan minimal diterima redaksi media massa. Saya merasakan adanya
sebuah kekuatan yang tersimpan dalam tulisan tersebut. Istilah yang saya
gunakan adalah ruh dalam tulisan.
Seorang penulis
yang mahir tentu akan mudah memberi kekuatan dalam tulisannya. Saya sendiri
menyukai jenis tulisan yang sederhana, permasalahan yang sederhana,
contoh-contoh, maupun proses penyelesaiannya juga di sampaikan dengan
sederhana. Jenis tulisan seperti ini mampu membuat pembaca klimaks dengan cara
perlahan setelah mendapatkan poin tulisan.
Sebelum lebih
jauh membahas tentang jenis tulisan, di sini saya hanya membaginya menjadi dua
jenis. Yaitu sederhana dan bertutur. Pembagian ini untuk memudahkan bagi pemula
memahami berbagai jenis tulisan, sebelum lebih jauh kita mengenal tentang jenis
tulisan fiksi dan nonfiksi, keduanya memiliki jenis yang bermacam-macam dan
teknik sendiri-sendiri.
Maka
pengelompokan fiksi atau nonfiksi terangkum dalam pemecahan jenis tulisan
sederhana dan bertutur. Dan karena kita membahas tentang kekuatan (ruh)
tulisan, maka tak apalah kita melupakan semua jenis tulisan berdasarkan kaidah
baku.
Berbanding terbalik
dengan tulisan sederhana namun kandas, Jenis tulisan bertutur kurasa memiliki
seninya sendiri. Bagaimana tulisan ini terkadang melibatkan pembaca untuk
merasakan, menghitung, dan lain sebagainya. Semangat yang kurasakan
menggebu-gebu.
Selanjutnya saya
mengkonversikan dua tulisan tersebut menjadi sebuah objek berupa media
penyampaian yang “memiliki ruh”. Karena bagaimanapun juga, ber-genre apapun
tulisannya, kita hanya perlu memberinya ruh agar tulisan menjadi hidup dan
mampu berkomunikasi dengan pembaca.
Bagaimana
caranya bagi para pemula?
Pertanyaan ini
sekaligus mewakili pertanyaan-pertanyaan yang mengawang di otak saya setiap
kali hendak menjelajahi tombol-tombol tulisan di notbook.
Dan untuk
menciptakan ruh dalam tulisan serta mencari jawaban atas pertanyaan
tersebut, akhirnya saya menemukan
beberapa point yang patut untuk di aplikasikan dan diabadikan dalam tulis kali
ini.
“Menciptakan
ruh dalam tulisan tidak cukup hanya
mempelajari teknik dan metode menulis, melainkan memperbanyak literasi,
berdialog dengan teman, menyimak kajian, mendengar masukan, peduli dengan
lingungan, merespon keadaan, dan belajar bersosial. ”
14 Juli 2017
Ditulis untuk
memenuhi program kemandirian "one day one article".
Comments
Post a Comment