Tunggul Dian Santoso, Sosok kreator perancang teknologi Genitech




Di sebut sebagai orang kreatif, itulah yang terjadi pada mas Tunggul Dian Santoso. Perancang teknolgi Genitech kelahiran Bengukulu, 8 januari 1989 ini memilih berhenti bekerja menjadi General Meneger di salah satu perusahaan swasta di Solo. Dirinya malah memilih berkarir sebagai Dosen Pembantu, mengembangkan penelitian teknologi Genitech, serta mengajar robotika di beberapa kampus Surakarta. Pilihannya tersebut bukan tanpa alasan, menurutnya, kreatifitas itulah yang mahal.
“Sekarang gini aja, kalo kita bekerja, okelah sebulan 20jt , tapi ya kita terus enggak bisa ngapa-ngapain, gak bisa ngembangin yang lain. Penelitian kita bisa terbengkalai, padahal tujuan awalnya kita nyari modal buat penelitian, tapi ya tetep habis mas, makanya setelah dua tahun aku kerja, mending keluar aja nih”. Katanya saat di temui di kampus Politeknik Pratama Mulia Surakarta (POLITAMA) , Senin (05/09/).
Genitech merupakan kepanjangan dari Gelombang Ultrasonik Berteknologi,”Teknologi ini merupakan generasi kedua karena telah mengalami penyempurnaan. Jika generasi pertama hanya untuk mengusir hama, saat ini sudah bisa digunakan untuk merangsang pertumbuhan padi.
Untuk lebih mengenal sosok perancang teknologi pengusir hama menggunakan teknologi suara ultrasonik ini, tim Ajisaka.co.id  berkesempatan mewancarai mas Tunggul Dian Santoso usai dirinya mengajar di kampus Politama Surakarta.
Bagaimana menjalani Proses perkuliahan dan menekuni hobi di bidang Robotika?
Hobi yang positif sangat rugi jika hanya di sia-siakan begitu saja tanpa ada kemauan untuk menekuni. Menurut mas Tunggul, kreatifitas menjadi seorang mahasiswa harus di bangun secara sungguh-sungguh. Apa saja harus dilakukan, jika berbicara peluang, jualan pulsa pun adalah peluang, itu juga menguntungkan. Yang penting mandiri. “Kebanyakan mahasiswa malu jika di suruh jualan-jualan kayak gitu, gapapa, ada jalan lain selain jualan. Kita bisa ikutan lomba-lomba karya ilmiah. Tingkat kabupaten maupun provinsi . Lumayan jika menang, bisa bayar kuliah sendiri. Tapi jika enggak mau juga berarti memang mahasiswa itu tidak mau kreatif.”Ungkap tunggul.
Sejak semester dua, dirinya sudah aktif dalam organisasi. Dekat dengan dosen, bahkan pernah ikut pihak perpustakaan kampus sebagai barcoding. Sejak semester dua itulah dirinya sudah belajar mandiri, tidak menggantungkan biaya dari orang tua. Ikut perpustakaan kampus menurutnya dilakukan untuk mengembangkan skill bersosial dan mencari pemasukan sampingan. Meski saat itu hanya di beri upah pihak perpustakaan sehari sepuluh ribu.
Apakah kegiatan ini di support oleh pihak Kampus?
Dulu awalnya saat mengajukan proposal mengikuti lomba robotika, pihak kampus tidak menerima proposal dengan alasan tidak ada dana pengembangan untuk kegiatan-kegiatan seperti itu. Tak berhenti disitu, dirinya harus tetap mengikuti lomba, akhirnya dana itu dia dapatkan dari orang tuanya sendiri . “ Tahap awal mas, masih cari biaya sendiri”. Ungkapnya.
Setelah pulang dengan membawa kemenangan, pada event-event selanjutnya malah di support pihak kampus. Dia mendapat bea siswa sampai akhir kuliah dari penelitian dan lomba.Sampe aku bingung ditanyain apa yang belum kebayar, perasaan sudah terbayar semua biaya kuliah.,” katanya.
Kapan mempunyai Ide pembuatan robotika?
Di awali pada tahun 2009, pada awalnya mas Tunggul mendapat tawaran untuk mengikuti lomba PKM dari dosen. Dengan latar belakang ayah sebagai seorang petani, ide yang di gagasnya bagaimana membuat alat untuk membantu para petani. Menurutnya, selama ini para petani sering mengeluhkan hama yang menyerang padi, rata-rata mereka mengusir hama dengan menambah dosis pestisida, sedang semakin lama, hama-hama padi juga semakin kebal dengan pestisida, petani pun semakin menambah dosis pestisida dan seterusnya.
Dari pengetahuan pertanian itulah, akhirnya mas tunggul berinovasi membuat alat pengusir hama. Mula-mula dia mencari alat pengusir nyamuk di rumahnya, lalu dia kembangkan menjadi alat pengusir hama padi.
Saat itu, dia hanya mengajukan proposal yang masih berbentuk gagasan ke Institut Pertanian Bogor (IPB ). Dari rangkaian penellitian RAM IPB, diantaranya pembekalan periset oleh para ahli di IPB, maka dirinya mulai melakukan penelitian. Dan ternyata, proposal penelitiannya tersebut di lirik oleh RAMP yayasan INOTEK Jakarta untuk dikembangkan lebih lanjut agar bisa digunakan oleh petani di Indonesia dan di produksi secara massal.
Pada tahun 2010 dirinya mengikuti tahap Pre-Monitoring, yakni mengubah ide menjadi prototipe.Hingga pada tahun 2012, dia  mendapatkan mentoring selama satu bulan, untuk mempelajari tentang suara-suara hama. Selama sebulan tersebut, dirinya mempelajari berbagai macam refrensi buku yang mempelajari dasar gelombang suara yang dapat menghalau hama.
“Pengalaman yang mengesankan, aku yang basicnya bukan petani, diwajibkan membaca buku-buku tentang hama yang tebalnya bukan main, tentang suara hama, membedakan jenis-jenisnya, pokonya lengkap tentang hama. Emang pusing kalo dianggap puising, haha”. Ujarnya.
Kok bisa mas tunggul menjadi pemateri dan memperkenalkan teknologi Genitech di kampus STT Pomosda?
Cerita dari mas Tunggul, awal mula menjadi pemateri teknologi Genitech di kampus STT Pomosda dan bertemu dengan salah satu dosen kampus STT Pomosda dari group pertanian di facebook.
Awalnya, salah satu teman menambahkannya ke group pertanian di facebook, meski awalnya dia kurang memerhatikan, akhirnya dia mengirimkan artikel teknologi Genitechnya. Mengulas sebuah teknologi yang bisa mengusir hama tanpa pestisida, proses pengembangan, serta mencari partner untuk bisa memajukan teknologi tersebut sampai bisa memproduksi secara massal. Dari gruup tersebut, ulasannya di respon oleh salah satu dosen STT Pomosda, Agustin Sukarsono. Kemudian komunikasi mereka berlanjut hingga akhirnya pak Agustin meminta mas Tunggul memperkenalkan teknologinya tersebut ke mahasiswannya.
Apa kesan seusai mengisi materi di pondok?
“Awalnya aku ragu nih, masak mau presentasi teknologi ke pesantren, setahu ku pesantren itu kan identik dengan buka kitab tutup kitab”. Kata mas tunggul.
Namun dirinya semakin yakin setelah melihat lingkungan yang penuh dengan tanaman vertikultur, menurutnya program yang dicanangkan oleh pimpinan Pomosda  tidak berorientasi bisnis semata, akan tetapi lebih memberdayakan para petani. Dengan fakta seperti itu, dirinya lebih ingin bekerja sama dengan pihak pondok terkait teknologi Genitechnya tersebut.
“Aku merasa cocok dengan programnya pondok, makannya aku lebih sangat senang kalo teknologi Genitech ini di kembangkan oleh teman-teman Pomosda, gak hanya Genitech saja, semua yang berkaitan dengan robotika aku pasti juga siap gabung”. Pungkasnya.
Namun, saat di tanya bagaimana prospek ke depan teknologi robotikanya di Pomosda,dirinya mengaku akan berkoordinasi lebih lanjut kepada pak Agustin.


Comments

  1. Pak Tunggul dian,

    memesan 2 unit Genitech Ultrasonic (Pengusir Hama walang sangit tanaman Padi)pada tanggl 15 sept 2016.
    Dari Perangkat unit tersebut, kami hanya baru menerima perangkat Komponen ; Tiang, speaker, panel surya + bracket, setelah konfirmasi atas penerimaan perangkat tersebut ke bapak,
    Masih ada kekurangan perangkat komponen ; Unit Electrical Ultrasonic, Battery+Controller, cable, dll.

    Mohon untuk feedback-nya atas kekurangan komponen tersebut, yang mana bapak terakhir menyatakan (via SMS/WA) akan siap di kirim tanggal 2 Maret 2016.

    Setelah itu kami sulit menghubungi bapak (Via Telepon, SMS, WA) tidak dijawab hingga saat ini.

    Besar Harapan bapak dapat menanggapi dan menyelesaikan masalah ini, atas perhatian nya terima kasih.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts