Cerpen | Dimana kau buang aku (Cerpen Misteri)
Desa Wale, terletak di ujung pulau Sumatra Selatan, meski bergandengan dengan daerah Lampung, Daerah ini masih banyak terdapat hutan dan perkebunan, berhektar-hektar kebun karet dan sawit, di tambah luasnya sawah para petani membuat daerah ini terkendala transportasi. Sebelah utara dan selatan, terdapat tanaman Albasia milik Barito, Selatan terdapat sawah yang meluas milik penduduk, dan di timur terdapat perkebunan sawit dan karet, di situlah desa Wale. Dengan jumlah tiga puluh kepala keluarga, masyarakatnya sangat agamis. Menurut Jailani, sesepuh setempat, desa Wale di bangun oleh tokoh Islam yang mempunyai cita-cita anak cucu desa Wale menjadi pejuang Islam dan slalu menjunjung tinggi nama baik desa Wale.
Jailani pernah bercerita pada Marsini, anak gadisnya, "janganlah kencing sembarangan di desa Wale, bisa -bisa kau di buang oleh roh leluhur desa ini ke tengah hutan belantara, di buang ke sungai tua barat desa kita, kadang ada juga yang di buang di kuburan, belakan masjid Wale.Adab dan akhlaq harus dimiliki bagi setiap warga desa wale, menjadi takmir masjid, guyub rukun, gotong royong, menjaga jamaahnya, anak-anak wajib mengaji di masjid setiap sore sampai pagi, bagi orang tua yang tidak keberatan, anaknya dianjurkan tidur di masjid, agar si anak di latih menjadi pribadi yang mandiri, dan jika sewaktu-waktu si anak ingin meneruskan belajarnya mondok di pulau seberang, si anak sudah siap lahir batin".
***
Sinar mentari menyelinap merayap di meja tulis, memberikan rasa hangatnya . Sampai siang ini Udin masing terngiang teriakan suara pemuda berjubah yang kutemui dalam mimpi . Suara itu sepertinya sudah kudengar berulang-ulang. Tapi kapan? sampai detik ini aku belum bisa memecahkan misteri suara pemuda berjubah tersebut.
Jailani pernah bercerita pada Marsini, anak gadisnya, "janganlah kencing sembarangan di desa Wale, bisa -bisa kau di buang oleh roh leluhur desa ini ke tengah hutan belantara, di buang ke sungai tua barat desa kita, kadang ada juga yang di buang di kuburan, belakan masjid Wale.Adab dan akhlaq harus dimiliki bagi setiap warga desa wale, menjadi takmir masjid, guyub rukun, gotong royong, menjaga jamaahnya, anak-anak wajib mengaji di masjid setiap sore sampai pagi, bagi orang tua yang tidak keberatan, anaknya dianjurkan tidur di masjid, agar si anak di latih menjadi pribadi yang mandiri, dan jika sewaktu-waktu si anak ingin meneruskan belajarnya mondok di pulau seberang, si anak sudah siap lahir batin".
***
Sinar mentari menyelinap merayap di meja tulis, memberikan rasa hangatnya . Sampai siang ini Udin masing terngiang teriakan suara pemuda berjubah yang kutemui dalam mimpi . Suara itu sepertinya sudah kudengar berulang-ulang. Tapi kapan? sampai detik ini aku belum bisa memecahkan misteri suara pemuda berjubah tersebut.
"Puasa-puasa kok nglamun to le" Suara ibu Udin mengagetkan lamunannya. "Sana bantu-bantu mama ngupas kelapa", ucapnya sembari mengayuhkan sapunya dibawah meja . Udin masih menggeliat-geliat di kursi, sambil mengucek mata yang masih sembab karena dari pagi Udin hanya tidur untuk menghilangkan rasa lapar.
"Ini lo, setiap hari ibu sudah bilang, baju yang kotor dimasukin di tempatnya, jangan dibiarkan di kasur kayak gini. Dasar anak laki-laki". Gerutu ibu sembari membawa pakaian-pakaian kotor .
Udin pun masih duduk, hanya diam dan tetap duduk. "Ayo sini din" suara ibuku dari dapur seakan menarik tanganku untuk bangkit dari depan monitor.
Beginilah puasa ramdhan, hidup hanya untuk menunggu suara adzan magrib. Hanya tidur dan game yang Udin kerjakan. Dia juga tidak pernah melihat bagaimana wajah anak-anak yang kudengar suaranya di speaker mengaji di mushola setiap sore hari. Dengan rasa terpaksa dan malas, akhirnya Udin mencoba memaksa berjalan berduyun-duyun dan terseok menuju dapur belakang.
"Dapur belakang masih sepi, ruangan yang berukuran delapan meter persegi itu pun tampak sangat kotor, tak ada yang menjamah. Udin heran, "sepertinya ini bukan rumahku". Lama Udin tertegun memerhatikan ruangan kumuh ini, sedari tadi masih mematung di samping tumpukan kardus yang terdapat beberapa bangkai cicak yang sudah muli mengering.
***
Siang itu, Marsini terlihat resah, mondar-mandir di kampung Wale, anak laki-lakinya sedari kemarin belum jua pulang. Padahal, anaknya tak pernah keluar rumah. Dengan rasa cemas , Marsini berjalan menyusuri rumah-rumah tetangga, menanyakan keberadaan anaknya, sampai tiba dia bertemu Darman, teman akrab Udin dan kebetulan kemarin Darman yang mengajak Udin keluar. "Lho, tadi malem si Udin ikut tadarusan sama saya bu dhe. Kami sempet tidur bareng di masjid, tapi tadi subuh kita sudah gak lihat dia, saya kira sudah pulang". Darman keheranan saat ditanya Marsini.
Beginilah puasa ramdhan, hidup hanya untuk menunggu suara adzan magrib. Hanya tidur dan game yang Udin kerjakan. Dia juga tidak pernah melihat bagaimana wajah anak-anak yang kudengar suaranya di speaker mengaji di mushola setiap sore hari. Dengan rasa terpaksa dan malas, akhirnya Udin mencoba memaksa berjalan berduyun-duyun dan terseok menuju dapur belakang.
"Dapur belakang masih sepi, ruangan yang berukuran delapan meter persegi itu pun tampak sangat kotor, tak ada yang menjamah. Udin heran, "sepertinya ini bukan rumahku". Lama Udin tertegun memerhatikan ruangan kumuh ini, sedari tadi masih mematung di samping tumpukan kardus yang terdapat beberapa bangkai cicak yang sudah muli mengering.
***
Siang itu, Marsini terlihat resah, mondar-mandir di kampung Wale, anak laki-lakinya sedari kemarin belum jua pulang. Padahal, anaknya tak pernah keluar rumah. Dengan rasa cemas , Marsini berjalan menyusuri rumah-rumah tetangga, menanyakan keberadaan anaknya, sampai tiba dia bertemu Darman, teman akrab Udin dan kebetulan kemarin Darman yang mengajak Udin keluar. "Lho, tadi malem si Udin ikut tadarusan sama saya bu dhe. Kami sempet tidur bareng di masjid, tapi tadi subuh kita sudah gak lihat dia, saya kira sudah pulang". Darman keheranan saat ditanya Marsini.
saya dah mampir, nanti deh bacanya, kayanya sih cukupo menarik
ReplyDeleteButuh masukan pak nur
DeleteBagus nih ceritanya
ReplyDeleteTerimakasih sudah berkunjung
Deletesemoga si udin cepet kembali pulang
ReplyDelete