CONTOH PROPOSAL TUGAS AKHIR (TA) PENGENDALIAN PAKAN KAMBING ETAWA DENGAN METODE MATERIAL REQUIREMENT PLANNING (MRP)



PENGENDALIAN PAKAN KAMBING ETAWA DENGAN METODE MATERIAL REQUIREMENT PLANNING (MRP)
(Studi Kasus Di Peternakan Etawa Pomosda, Nganjuk)

PROPOSAL TUGAS AKHIR
PROGRAM SARJANA (S1)
 







Disusun Oleh :
Amin Maulani
5021201002



PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI
PONDOK MODERN SUMBER DAYA AT-TAQWA
STT – POMOSDA NGANJUK
2016

PROPOSAL TUGAS AKHIR

A.     JUDUL
PENGENDALIAN PAKAN KAMBING ETAWA DENGAN METODE PTSA DAN MATERIAL REQUIREMENT PLANNING  (MRP) (Studi Kasus Di Peternakan Etawa Pomosda, Nganjuk)
ABSTRAK
Kambing merupakan ternak ruminansia kecil yang memiliki nilai ekonomis cukup tinggi terutama dalam penyediaan sumber protein hewani. Pakan adalah salah satu sumber daya yang memiliki peran strategis dalam produksi kambing. Kondisi pakan (kualitas dan kuantitas) yang tidak mencukupi kebutuhan, menyebabkan produktivitas ternak menjadi rendah. Salah satu teknologi pakan yang dapat diterapkan oleh peternak yaitu teknologi pakan komplit. Pakan komplit merupakan campuran berbagai bahan pakan dengan kandungan nutrien yang sesuai kebutuhan ternak. Namun belum diketahui berapa kebutuhan protein yang diperlukan untuk pertumbuhan kambing etwa . Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pakan komplit dengan taraf protein berbeda pada pertambahan bobot badan kambing etawa yang dipelihara secara intensif.. Parameter yang diamati meliputi pertambahan bobot badan, konsumsi pakan, dan konversi pakan. Hasil sidik ragam memperlihatkan bahwa perlakuan pakan komplit pada taraf protein berbeda tidak berpengaruh nyata terhadap rataan pertambahan bobot badan, konsumsi pakan dan konversi pakan. Namun pakan komplit dengan kandungan protein yang lebih rendah cenderung memperlihatkan pertambahan bobot badan yang lebih tinggi.
Penelitian ini juga bertujuan untuk merencanakan pakan padat nutrisi pada peternakan etawa Pomosda. Ketika melihat permasalahan yang sering dihadapi oleh peternak kambing misalnya persediaan pakan yang kurang tepat diterapkan dalam peternakan yang bersangkutan. Dengan diadakan penelitian ini, akan dapat memprioritaskan suplay pakan yang bernutrisi untuk kambing. Disamping itu, sistem MRP dirancang untuk membuat persediaan pakan hijauan dan konsentrat secara balance, tidak terjadi matrial handling disalah satu pakan sehingga sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP). Rumusnya, pakan pokok = hijauan, pakan pendukung = konsentrat.
Analisis yang digunakan adalah menggunakan perhitungan material requirement planning (MRP) dengan menentukan terlebih dahulu jadwal pemberian pakan, kemudian dianalisa dengan menggunakan metode MRP untuk mengetahui perencanaan pakan bernutrisi, administratif, dan menentukan lead time (waktu jeda pemberian pakan).
Kata Kunci : Kambing etawa, pakan komplit, konsumsi pakan, konversi pakan, pakan bernutrisi, MRP
B.   JADWAL KEGIATAN
No.
Uraian kegiatan
Waktu Pelaksanaan
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
Proposal TA
























2
Bab I
























3
Bab II
























4
Bab III
























5
Bab IV
























6
Bab V
























7
Evaluasi

























C.    ISI
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Berbekal dari pengalaman yang diperoleh dari Praktek Kerja Lapangan (PKL), dan dilanjutakan dalam penelitian karya ilmiah, yang dalam penyusunannya terdapat beberapa metode dan obserfasi, didukung dengan mengikuti pelatihan serta seminar nasional peternakan se-Indonesia, kami mencoba menggali masalah yang timbul dan mencari solusi yang diperlukan dalam proses tatalaksana pemeliharaan ternak. Oleh sebab itu, penelitian ini akan bermanufer meningkatkan produktifitas peternakan dengan menjaga pakan yang lengkap administasi atau memenuhi kebutuhan hewan.
Ternak kambing khususnya kambing Peranakan Etawa (PE), merupakan salah satu sumberdaya penghasil bahan makanan berupa daging dan susu yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi, dan penting artinya bagi masyarakat. Seiring hal tersebut peternakan kambing memiliki peluang yang cukup besar dengan semakin sadarnya masyarakat akan kebutuhan gizi yang perlu segera dipenuhi.
Kambing banyak dipelihara oleh penduduk pedesaan (Hendro, 2015). Dijelaskan lebih lanjut, alasannya pemeliharaan kambing lebih mudah dilakukan daripada ternak ruminansia besar. Kambing cepat berkembang biak dan pertumbuhan anaknya juga tergolong cepat besar. Menurut Hendro (2015), nilai ekonomi, sosial, dan budaya beternak kambing sangat nyata. Dijelaskan lebih lanjut, besarnya nilai sumber daya bagi pendapatan keluarga petani bisa mencapai 14-25 % dari total pendapatan keluarga dan semakin rendah tingkat per luasan lahan pertanian, semakin besar nilai sumber daya yang diusahakan dari beternak kambing. Pendapatan dan nilai tambah beternak kambing akan semakin nyata jika kaidah-kaidah usaha peternakan diperhatikan. Kaidah-kaidah itu antara lain penggunaan bibit yang baik, pemberian pakan yang cukup dari segi gizi dan volume, tatalaksana pemeliharaan yang benar, serta memperhatikan permintaan dan kebutuhan pasar.
Kambing merupakan hewan ruminansia yang sudah di domestikasi sejak 7000 tahun lalu setelah kuda & domba.
Kambing berasal dari daerah Asia Barat dan Persia, dan mulai dibudidayakan sejak tahun 7000-8000 SM. Dalam perkembangannya kambing hasil domestikasi ini menyebar ke berbagai pelosok dan beradaptasi menghasilkan nilai fungsional berbeda -  beda yaitu ada yang cocok sebagai kambing pedaging,kambing penghasil susu, diambil bulunya maupun kambing penghasil susu sekaligus daging.
Dari hasil adaptasi ini muncul lah berbagai species dan karakter spesifik diberbagai daerah, hasilnya kambing Etawa dari Jamnapari India, kambing Apin dari pegunungan Alpen di Swiss, kambing Saanen dari Swiss, kambing Anglo Nubian dari Nubian timur laut Afrika, kambing Beetel dari Rawalpindi  dan Lahore,Pakistan serta di Punjab, India.
Namun demikian dari banyaknya jenis kambing yang ada di dunia kambing Etawa dari India adalah yang paling terkenal, hal ini disebabkan karena kambing Etawa merupakan kambing unggul dwiguna yang sangat potensial sebagai penghasil daging dan susu.
Kambing Etawa, masuk ke Indonesia pertama kali di bawa oleh orang Belanda pada tahun 1920-an, orang Belanda tersebut membawa banyak kambing Etawa pertamakali ke Pulau Jawa, tepatnya di Jogyakarta. Kambing ini lebih terkenal sebagai kambing perah / penghasil susu, dimana saat itu kambing ini di sebut dengan kambing Benggala / kambing Jamnapari sesuai dengan asalnya di India.
Selanjutnya kambing Etawa ini dikembangbiakkan di daerah perbukitan Menoreh sebelah barat Jogyakarta dan di Kaligesing, Purworejo. Seiring dengan perjalanan waktu terjadilah perkawinan silang antara kambing Etawa dengan kambing lokal, ( seperti kambing Jawarandu atau kambing Kacang,) dan ternyata keturunan yang dihasilkan lebih bagus daripada kambing lokal.
Keturunan hasil persilangan kambing Etawa dengan kambing Jawarandu atau kambing Kacang oleh masyarakat disebut keturunan Etawa atau Peranakan Etawa.Terkenal dengan sebutan  kambing Peranakan Etawa atau kambing  PE.
Daerah Kaligesing di Purworejo, Jawa Tengah hingga saat ini merupakan daerah sentra utama peternakan kambing PE, karena daerah ini berhawa dingin dan memiliki potensi hijauan melimpah sehingga sangat cocok untuk kambing PE, jika membicarakan kambing PE, sebagian besar masyarakat langsung teringat daerah ini, sehingga tidak salah jika kambing PE menjadi trademark daerah Kaligesing.
Kambing adalah hewan dwi guna, yaitu sebagai penghasil susu dan sebagai penghasil daging (Williamson dan Payne, 1993). Kambing PE adalah bangsa kambing yang paling populer  dan dipelihara secara luas di India dan Asia Tenggara (Devendra dan Burns, 1994). Ciri-ciri kambing PE adalah warna bulu belang hitam putih atau merah dan coklat putih, hidung melengkung, rahang bawah lebih menonjol, jantan dan betina memiliki tanduk, telinga panjang terkulai, memiliki kaki dan bulu yang panjang (Sosroamidjojo, 1991). Kambing PE telah beradaptasi  terhadap kondisi dan habitat Indonesia (Hendro, 2015).
Sistem pemeliharaan secara ekstensif umumnya dilakukan di daerah yang mahal dan sulit untuk membuat kandang, kondisi iklim yang menguntungkan, dan untuk daya tampung kira-kira tiga sampai dua belas ekor kambing per hektar (Williamson dan Payne 1993). Sistem pemeliharaan secara ekstensif, induk yang sedang bunting dan anak-anak kambing yang belum disapih harus diberi persediaan pakan yang memadai (Devendra dan Burns, 1994). Rata-rata pertambahan bobot badan kambing yang dipelihara secara ekstensif dapat mencapai 20-30 gram per hari (Hendro, 2015).
Sistem MRP dikembangkan untuk membantu peternakan etawa Pomosda mengatasi kebutuhan akan item-item dependent secara lebih baik dan efisien. Disamping itu, sistem MRP dirancang untuk  membuat persediaan produk untuk mengatur aliran bahan baku dan persediaan dalam proses hingga sesuai dengan jadwal.  Menurut Pontas M. Paredede (2005:476), beberapa manfaat dan keuntungan penggunaan  MRP adalah  (1) untuk menurunkan jumlah sediaan yang dibutuhkan, (2) pengurangan masa tunggu pembuatan dan pemesanan,(3) pemenuhan jadwal yang lebih tepat, (4) peningkatan kehematan.
Menurut Daft (2006 : 630) peran penting persediaan dalam analoginya mengenai bebatuan dan air. Analogi jepang mengenai bebatuan dan air mendiskripsikan pemikiran saat ini tentang pentingnya persediaan. Air sungai adalah persediaan dalam organisasi, semakin tinggi air maka para pengelola  tidak perlu mengkhawatirkan bebatuan. Ketika air mulai turun, bebatuan mulai nampak. Begitupun dalam perusahaan, ketika persediaan mulai turun, masalah mengenai proses produksi mulai nampak.
Peternakan etawa Pomosda merupakan salah satu Unit Pelaksana Teknis yang bergerak dalam pengembangan kambing Peranakan Etawa (PE). Dalam proses produksinya Peternakan Etawa Pomosda (PEP) menggunakan dua metode, yaitu penggemukan dan perah susu. Pada periode Januari-Desember 2015 lalu, penjualan susu mencapai 100 Liter dan 100 anakan.
Permasalahan yang sering terjadi di Peternakan Etawa Pomosda adalah kurang optimalnya pemberian pakan bernutrisi disebabkan kekurangan lahan pakan untuk hijauan, sehingga terjadi minimalisir hijauan, penguatan fermentasi, serta penambahan suplemen makanan. Dengan pembuatan pakan fermentasi yang kurang memenuhi protein yang dibutuhkan hewan dan kurangnya lahan hijauan, oleh karena itu penulis dalam tugas akhir ini memberi judul PENGENDALIAN PAKAN BERNUTRISI DENGAN METODE PTSA DAN MATERIAL RUQUIREMENT PLANNING (MRP) PADA PETERNAKAN ETAWA POMOSDA.
1.2  Rumusan Masalah
Permasalahan yang dibahas dalam penelitian tugas akhir ini adalah :
1.    Bagaimana membangun manajemen perawatan pada peternakan kambing etawa Pomosda
2.    Bagaimana merawat dan menjaga pola pakan agar lebih efisien
3.    Bagaimana manajemen perencanaan pakan skala besar menggunakan konsep Material Requirement Planning (MRP)

1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini mempunyai tujuan :
1.  Membangun manajemen perawatan yang amanah
2.  Efisiensi perawatan dengan memberi pola pakan yang strategis
3.  Menerapkan Material Requirement Planning (MRP) pada Peternakan Etawa Pomosda

1.4 Batasan Masalah
Batasan-batasan yang dipergunakan dalam penelitian tugas akhir ini adalah :
1.  Dilakukan identifikasi awal untuk membatasi obyek penelitian hanya pada departemen produksi yang paling berpengaruh terhadap aspek lingkungan peternakan.
2.  Penelitian dilakukan hanya terhadap kegiatan proses pemberian pakan yang berpengaruh terhadap pertumbuhan kambing.
3.  Penelitian hanya dilakukan pada stock pakan kering, pakan hijauan, fermentasi dan gizi.
4.  Penelitian hanya menggunakan konsep Material Requirement Planning (MRP) dari proses pemberian pakan bernutrisi.

BAB 2  LANDASAN TEORI

Dalam bab ini dijelaskan mengenai teori-teori pendukung diantaranya mengenai lingkungan, pakan alternatif, super HMT, dan juga konsep Material Requirement Planning (MRP). Yang diambil dari literature yang berkaitan dengan penelitian yang dilakukan.
2.1  Lingkungan

            Lingkungan didenfinisikan sebagai kesatuaan ruang dengan semua benda, daya, kedaan dan mahluk hidup, termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya. (sunu, 2001)
2.2 Pakan Alternatif

            negara kita merupakan negara kepulauan terbanyak, yang memiliki berbagai macam ragam ekosistem baik hutan, tanah, rumput, dan lain-lain. Oleh sebab itu hampir disetiap daerah memiliki berbagai macam jenis pakan, salah satu pakan alternatif kambing adalah limbah industri, karna selain pakan hijauan, kambing juga menyukai pakan yang berasal dari limbah pertanian. Limbah industri yang dapat dijadikan pakan antara lain seperti ampas tahu, ampas tempe, ampas singkong, bungkil kedelai, bungkil kacang tanah, dedak padi, dan dedak jagung. Sementara contoh limbah pertanian antara lain seperti jerami padi, jerami jagung, daun singkong, daun nangka dan limbah kelapa.
2.3 Pakan tambahan

Pakan tambahan berguna untuk memenuhi kebutuhan mineral dan meningkatkan nafsu makan. Selain itu, pakan tambahan ini bermanfaat untuk menutupi kekurangan zat gizi yang terdapat pada hijauan. Sumber pakan tambahan berupa campuran mineral (mineral mix) dari garam dapur, kapur, dan premix.
2.4 Super HMT
Hijauan Makanan Ternak (HMT) adalah salah satu material pokok yang sangat menunjang perkembangan kambing, dengan memberikan pola yang baik akan menghasilkan produk susu dan anakan yang baik pula. Jenis HMT yang biasa diberikan ternak adalah kelor, indigofera, gamal, turi, dedi, kalasan, dadap, mahoni,  randu, kaliandra, lamtoro, daun nangka, rumput–rumputan dan lain-lain. Daun yang tidak boleh diberikan ke ternak bunting adalah randu, trembesi, daun kacang panjang, waru, bunga sepatu. Untuk lamtoro gung pemberian ke ternak jangan sampai kena air/embun.   Efek dari pemberian tersebut usus lengket, nafsu makan berkurang, bila terpaksa diberikan harus dicampur dengan pakan lain.
Untuk mencukupi kebutuhan pakan ternak bila full HMT maka caranya harus adlibitum. Kecuali bila ditambah dengan pakan pendukung yang syarat akan standart kebutuhan pakan ternak maka pemberian HMT cukup 2 kali sehari.
2.5 Pola Ternak Sehat dan Amanah (PTSA)

Sebuah Unit Pelaksana Teknis (UPT) dalam wadah Yayasan Lil Muqorobien bagian wujud nyata dari MPPW berfungsi sebagai sarana secara legalitas kegiatan – kegiatan dalam bidang usaha, pemberdayaan dan pengembangan potensi bagi warga jamaah atau kerabat baik itu di bidang SDM, jasa, perdagangan, pertanian, peternakan, perikanan, dan lain sebagainya juga sebagai elemen pendamping dan pembinaan yang dalam pelaksanaannya profesional dan selalu berkiblat pada Dawuh Guru, sumpah dan janji serta kaidah 9 yang mempunyai tujuan membangun sebuah kebersamaan dan kekeluargaan pada konsep sedulur sinoro wedi pada wujud bebarengan ing suko kulo, yang selalu berpedoman dan mengedepankan pada musyawarah, koordinasi dan komunikasi.

2.6 Konsep Material Requirement Planning (MRP)

Bahan baku atau pakan merupakan faktor produksi yang sangat penting karena bahan baku adalah penunjang berlangsungnya kegiatan produksi. Apabila terjadi kekurangan nutrisi pakan atau bahkan kehabisan (stock out), maka proses produksi akan berhenti. Sebaliknya jika terjadi kelebihan bahan baku yang berada dalam gudang maka akan mengakibatkan naiknya biaya-biaya terkait dengan bahan baku tersebut. Maka dari itu pengadaan persediaan pakan perlu diperhitungkan, dikendalikan, direncanakan agar proses produksi tetap lancar dan stabil tanpa ada keterlambatan pertumbuhan kambing (Material Handling)i atau adanya kenaikan biaya bahan baku.
MRP didasarkan pada  permintaan dependen. Permintaan dependen adalah permintaan yang disebabkan oleh permintaan terhadap item level yang lebih tinggi. Misalnya permintaan akan mesin cacah rumput,  merupakan permintaan dependen yang tergantung pada permintaan otomobil. MRP digunakan pada berbagai industri terutama yang berkarakteristik job-shop, yakni industri yang memproduksi sejumlah produk dengan menggunakan peralatan produksi yang relatif sama.
Metode  yang  tepat  untuk  melakukan  hal  tersebut  adalah Materiall Requirement Planning (MRP), karena MRP memiliki manfaat yaitu “dapat digunakan untuk perencanaan dan pengendalian item barang (komponen) yang tergantung pada item-item ditingkat (level) yang lebih tinggi”(Nasution,2003:127) MRP akan sangat membantu apabila diterapkan dalam perencanaan kebutuhan pakan yang dalam permintaan tiap komponen tersebut tergantung pada jumlah produk akhir yang dihasilkan.
       Sebelum melangkah lebih jauh , perlu kita ketahui terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan MRP menurut Daft ( 2006 : 634 ) MRP adalah system pengendalian dan perencanaan persediaan yang bergantung pada permintaan yang menjadwalkan jumlah yang tepat dari semua material yang dibutuhkan untuk mendukung produk akhir yang diinginkan.
       Dalam  penerapanya,  metode  Material  Requirement  Planing
(MRP)  mempertimbangkan  adanya  tenggang  waktu  (lead  time) pemesanan maupun proses produksi suatu komponen. Sehingga kapan komponen harus dipesan atau diproduksi bisa ditetapkan.
2.7 Manfaat Material Requirement Planning (MRP)

1.    Membantu perencanaan kapasitas ternak
2.    Peningkatan pemanfaatan fasilitas dan tenaga kerja
3.    Perencanaan dan penjadwalan pakan yang lebih baik
4.    Tanggapan yang lebih cepat terhadap perubahan dan pergeseran pasar
5.    Memperluas dan mengurangi lahan pakan .
6.    Memberikan catatan kemajuan ke manajer, sehingga manajer lebih mudah membuat keputusan.
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian tugas akhir ini memerlukan suatu kerangka penelitian yang sistematis dan terarah berdasarkan permasalahan yang ditinjau agar proses penelitian dan hasil yang diperoleh nantinya tepat pada sasaran. Kerangka penelitian ini selanjutnya disebut metodologi penelitian. Pada bab ini akan dijelaskan tahapan-tahapan dalam pelaksanaan penelitian.
3.1      Tahap Identifikasi

Tahap identifikasi merupakan langkah awal dari proses penelitian yang dilakukan. Pada tahap ini dilakukan pengidentifikasian masalah dan dilanjutkan dengan penetapan tujuan serta manfaat penelitian. Studi kepustakaan dilakukan untuk memperoleh teori-teori pendukung yang akan digunakan untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi dan menggali informasi yang berkaitan dengan penelitian dan juga model-model apa yang dapat digunakan dalam konsep Material Requirement Planning (MRP)
3.2 Obyek Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Peternakan Etawa Pomosda Kecamatan Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk. Yang memelihara kambing peranakan etawa (PE).
3.2  Indentifikasi Masalah

Permasalahan yang diangkat dalam penelitian tugas akhir ini adalah mengenai konsep Material Requirement Planning (MRP)yang terintegrasi pada Peternakan Kambing Etawa Pomosda, Tanjunganom, Nganjuk.
3.3  Teknik Pengumpulan Data

Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini, yaitu :
1.    Studi Lapangan
Dalam penelitian ini penulis melakukan kegiatan berupa :
a.    Observasi
Studi lapangan atau observasi dilakukan dengan langsung mendatangi lokasi yang akan diteliti. Observasi bertujuan untuk mengetahui dan memahami kondisi nyata dari obyek penelitan dengan melihat sistem permasalahan maupun proses produksi yang berkaitan dengan penelitian tugas akhir yang dilakukan.

b. Sharing
Pihak manajemen kandang sangat terbuka dan memberikan penulis keleluasaan berupa forum terbuka yang membahas berbagai problem kandang, baik perawatan, perah susu, pakan serta administrasi.

c. Studi Dokumenter
Studi dokumenter dilakukan untuk mempelajari dokumen-dokumen dan arsip yang ada di perusahaan atau pihak lain yang berkenaan dengan masalah dalam penelitian yang dilakukan oleh penulis.
2.    Studi Pustaka
Studi kepustakaan dilakukan untuk memperoleh berbagai informasi mengenai teori-teori yang dapat digunakan untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi, serta mengembangkan pengetahuan dan wawasan dari  peneliti. Studi kepustakaan dilakukan dengan mengikuti pelatihan, workshop, membaca literatur-literatur maupun jurnal-jurnal yang ilmiah yang relevan dengan permasalahan yang dihadapi dalam penelitian tugas akhir.
3.4  Seleksi Data

Seleksi data dilakukan untuk mengetahui data mana yang memang benar-benar dibutuhkan dan data yang paling penting untuk mendukung dalam melakukan penelitian oleh penulis, baik data dalam bentuk angka ataupun informasi.
3.5         Pengolahan Data

Setelah penulis mendapat data, baik dalam bentuk angka atau informasi, penulis mengolah data dengan menganalisis menggunakan metode Material Requirement Planning (MRP) yaitu mengolah data output input stock pakan perhari di Peternakan Etawa Pomosda . Cara mengolah data persediaan barang dengan mendesain ulang proses pemberian pakan untuk meraih perbaikan maksimal dalam ukuran performansi yang efisien, guna menambah nilai fungsi dan nilai tambah pada pemberian pakan tersebut.



BAB 4 ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

4.1  Pengadaan pakan
Keterangan :
Pakan yang diberikan dapat terdiri dari
1.  Fermentasi
2.  Campuran bekatul,ampas tahu,kulit kopi
3.  Hijauan
Dengan pola pemberian di lakukan dua kali dalam sehari yaitu :
1.  Pagi jam 08.00,Campuran ampas tahu,bekatul,kulit kopi dengan takaran rata di campur dengan air yang di beri Pupuk cair Manutta gold.
2.  Siang hari jam 13.00 pemberian air kedelai
3.  Sore jam 16.00 pemberian hijauan. Pemberian hijauan ini di perbanyak dengan perkiraan habis pada pagi hari atau dengan tujuan agar malam hari kembing tetap makan.
Pemberian jarak pada pemberian pakan ini bertujuan agar ada waktu untuk pengunyahan ke dua pada ternak. Dan memerlukan waktu minimal 7 jam jarak pemberian pakan . Akan tetapi untuk pakan fermentasi bisa lebih pendek karna sudah terproses dalam fermentasi tersebut. Oleh karena itu,para peternak penggemukan biasanya menggunakan metode full fermentasi pada ternak.
4.2 Analisis Dengan Metode Material Requirement Planning

Dengan adanya kerjasama dengan perusahaan tahu, peternak dapat memberikan sarana logistik pada kambing. Biasanya pakan tersebut rutin kita ambil untuk pakan pendukung, dan harga yang relatif lebih murah sehingga dapat meminimasi pengeluaran. Diperlukan pengendalian persediaan (pembelian – penyimpanan – penjualan) pakan kambing yang tepat agar peternak mampu memberikan sarana logistik dalam menyediakan kebutuhan pakan kambing untuk plasma – plasma mitra. Dalam penelitian ini menggunakan metode MRP (Material Requirement Planning) untuk menentukan jumlah persediaan pakan kambing, kapan pemesanannya sehingga dapat mendukung kelancaran operasional. Dalam metode MRP menggunakan teknik lot sizing lot-for-lot karena sesuai dengan entitas bisnis, teknik ini selalu melakukan perhitungan kembali (dinamis), terutama jika ada perubahan dalam kebutuhan bersih. Penelitian ini menggunakan ukuran biaya sediaan pakan kambing di Peternakan Etawa Pomosda pada periode Mei tahun 2016. Perhitungan antara kebijakan perusahaan dengan menggunakan metode MRP mengalami penurunan sehingga dapat melakukan efisiensi biaya sebesar Rp1.000.000,- yang awalnya total biaya persediaannya sebesar Rp3.000.000,- turun menjadi Rp2.0000.000,-..
BAB 5 PENUTUP

Sebagai akhir dari penulisan tugas akhir ini dapat ditarik kesimpulan dari keseluruhan isi untuk dapat dipergunakan sebagai alternatif atau jalan keluar dari permasalahan maupun kekurangan yang timbul, berkaitan dengan penulisan tugas akhir ini. Sehingga kesimpulan yang didapat nantinya bisa menjadi sebuah harapan atau saran yang bermanfaat kepada semua pihak.
Demikian proposal tugas akhir ini penulis buat. Penulis menyadari masih banyak kekurangan dengan segala keterbatasan pengetahuan dan kemampuan penyusunan ini. Semoga bermanfaat baik bagi penulis dan bagi pembaca.
REF. JURNAL atau TUGAS AKHIR TERKAIT
No.
Judul
Pengarang
1.
Materi pelatihan peternakan kambing domba Indonesia di Kediri
Ir. Sumanto
2.
PTSA Pomosda
Ad/Art Taliati Pomosda
3.
Metode Ramalan Kuantitatif
J Supranto, M.A
4.
Sistem Informasi Manajemen
Raymond McLeod, Jr
5.
Statistical Methods
Edward, Allen, L.,
DAFTAR PUSTAKA
Ascher, William, forecasting, on Approisal for Policy-maker, The Johns Hopkins, University Press, (Second Printing), 1979
Bulter, William, F,; Kavesh, Robert, A; Platt, B., (Ed), Metholds and Techniques of Bussines Forecasting, Prentice-Hall, Inc.,
Supranto, J. M.A,. Metode Riset dan Aplikasinya dalam Pemasaran, Lembaga penerbit Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia, Edisi kelima, Jakarta 1992
Raymond McLeod, Jr Sistem Informasi Manajemen,. ,. Editor Hardi Sukardi MBA., SE (MM-UI)
Marrel, James, ManajemenDecision and The Rol of Forecasting, Penguin books, 1972


Comments

Popular Posts