CONTOH PROPOSAL TUGAS AKHIR (TA) PENGENDALIAN PAKAN KAMBING ETAWA DENGAN METODE MATERIAL REQUIREMENT PLANNING (MRP)
PENGENDALIAN PAKAN KAMBING
ETAWA DENGAN METODE MATERIAL REQUIREMENT PLANNING (MRP)
(Studi Kasus Di Peternakan Etawa Pomosda, Nganjuk)
PROPOSAL
TUGAS AKHIR
PROGRAM
SARJANA (S1)
Disusun Oleh :
Amin Maulani
5021201002
PROGRAM STUDI TEKNIK
INDUSTRI
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI
PONDOK MODERN SUMBER DAYA
AT-TAQWA
STT – POMOSDA NGANJUK
2016
PROPOSAL
TUGAS AKHIR
A. JUDUL
PENGENDALIAN PAKAN KAMBING
ETAWA DENGAN METODE PTSA DAN MATERIAL REQUIREMENT PLANNING (MRP) (Studi Kasus Di Peternakan Etawa Pomosda, Nganjuk)
ABSTRAK
Kambing merupakan ternak
ruminansia kecil yang memiliki nilai ekonomis cukup tinggi terutama dalam
penyediaan sumber protein hewani. Pakan adalah salah satu sumber daya yang
memiliki peran strategis dalam produksi kambing. Kondisi pakan (kualitas dan
kuantitas) yang tidak mencukupi kebutuhan, menyebabkan produktivitas ternak
menjadi rendah. Salah satu teknologi pakan yang dapat diterapkan oleh peternak
yaitu teknologi pakan komplit. Pakan komplit merupakan campuran berbagai bahan
pakan dengan kandungan nutrien yang sesuai kebutuhan ternak. Namun belum
diketahui berapa kebutuhan protein yang diperlukan untuk pertumbuhan kambing etwa
. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pakan
komplit dengan taraf protein berbeda pada pertambahan bobot badan kambing etawa
yang dipelihara secara intensif.. Parameter yang diamati meliputi pertambahan
bobot badan, konsumsi pakan, dan konversi pakan. Hasil sidik ragam
memperlihatkan bahwa perlakuan pakan komplit pada taraf protein berbeda tidak
berpengaruh nyata terhadap rataan pertambahan bobot badan, konsumsi pakan dan
konversi pakan. Namun pakan komplit dengan kandungan protein yang lebih rendah
cenderung memperlihatkan pertambahan bobot badan yang lebih tinggi.
Penelitian ini juga bertujuan untuk
merencanakan pakan padat nutrisi pada peternakan etawa Pomosda. Ketika melihat
permasalahan yang sering dihadapi oleh peternak kambing misalnya persediaan
pakan yang kurang tepat diterapkan dalam peternakan yang bersangkutan. Dengan
diadakan penelitian ini, akan dapat memprioritaskan suplay pakan yang
bernutrisi untuk kambing. Disamping itu, sistem MRP dirancang untuk membuat
persediaan pakan hijauan dan konsentrat secara balance, tidak terjadi matrial
handling disalah satu pakan sehingga sesuai dengan standar operasional prosedur
(SOP). Rumusnya, pakan pokok = hijauan, pakan pendukung = konsentrat.
Analisis yang digunakan adalah
menggunakan perhitungan material
requirement planning (MRP) dengan menentukan terlebih dahulu jadwal
pemberian pakan, kemudian dianalisa dengan menggunakan metode MRP untuk
mengetahui perencanaan pakan bernutrisi, administratif, dan menentukan lead
time (waktu jeda pemberian pakan).
Kata Kunci : Kambing etawa, pakan
komplit, konsumsi pakan, konversi pakan, pakan bernutrisi, MRP
B. JADWAL
KEGIATAN
No.
|
Uraian
kegiatan
|
Waktu
Pelaksanaan
|
|||||||||||||||||||||||
Mei
|
Juni
|
Juli
|
Agustus
|
September
|
Oktober
|
||||||||||||||||||||
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
||
1
|
Proposal TA
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2
|
Bab I
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3
|
Bab II
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
4
|
Bab III
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
5
|
Bab IV
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
6
|
Bab V
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
7
|
Evaluasi
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
C. ISI
BAB
1 PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Berbekal dari pengalaman
yang diperoleh dari Praktek Kerja Lapangan (PKL), dan dilanjutakan dalam
penelitian karya ilmiah, yang dalam penyusunannya terdapat beberapa metode dan
obserfasi, didukung dengan mengikuti pelatihan serta seminar nasional peternakan
se-Indonesia, kami mencoba menggali masalah yang timbul dan mencari solusi yang
diperlukan dalam proses tatalaksana pemeliharaan ternak. Oleh sebab itu,
penelitian ini akan bermanufer meningkatkan produktifitas peternakan dengan
menjaga pakan yang lengkap administasi atau memenuhi kebutuhan hewan.
Ternak kambing khususnya
kambing Peranakan Etawa (PE), merupakan salah satu sumberdaya penghasil bahan
makanan berupa daging dan susu yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi, dan
penting artinya bagi masyarakat. Seiring hal tersebut peternakan kambing
memiliki peluang yang cukup besar dengan semakin sadarnya masyarakat akan
kebutuhan gizi yang perlu segera dipenuhi.
Kambing banyak dipelihara
oleh penduduk pedesaan (Hendro, 2015). Dijelaskan lebih lanjut, alasannya
pemeliharaan kambing lebih mudah dilakukan daripada ternak ruminansia besar.
Kambing cepat berkembang biak dan pertumbuhan anaknya juga tergolong cepat
besar. Menurut Hendro (2015), nilai ekonomi, sosial, dan budaya beternak
kambing sangat nyata. Dijelaskan lebih lanjut, besarnya nilai sumber daya bagi
pendapatan keluarga petani bisa mencapai 14-25 % dari total pendapatan keluarga
dan semakin rendah tingkat per luasan lahan pertanian, semakin besar nilai
sumber daya yang diusahakan dari beternak kambing. Pendapatan dan nilai tambah
beternak kambing akan semakin nyata jika kaidah-kaidah usaha peternakan
diperhatikan. Kaidah-kaidah itu antara lain penggunaan bibit yang baik,
pemberian pakan yang cukup dari segi gizi dan volume, tatalaksana pemeliharaan
yang benar, serta memperhatikan permintaan dan kebutuhan pasar.
Kambing merupakan hewan
ruminansia yang sudah di domestikasi sejak 7000 tahun lalu setelah kuda &
domba.
Kambing berasal dari
daerah Asia Barat dan Persia, dan mulai dibudidayakan sejak tahun 7000-8000 SM.
Dalam perkembangannya kambing hasil domestikasi ini menyebar ke berbagai
pelosok dan beradaptasi menghasilkan nilai fungsional berbeda - beda yaitu ada yang cocok sebagai kambing
pedaging,kambing penghasil susu, diambil bulunya maupun kambing penghasil susu
sekaligus daging.
Dari hasil adaptasi ini
muncul lah berbagai species dan karakter spesifik diberbagai daerah, hasilnya
kambing Etawa dari Jamnapari India, kambing Apin dari pegunungan Alpen di
Swiss, kambing Saanen dari Swiss, kambing Anglo Nubian dari Nubian timur laut
Afrika, kambing Beetel dari Rawalpindi
dan Lahore,Pakistan serta di Punjab, India.
Namun demikian dari
banyaknya jenis kambing yang ada di dunia kambing Etawa dari India adalah yang
paling terkenal, hal ini disebabkan karena kambing Etawa merupakan kambing
unggul dwiguna yang sangat potensial sebagai penghasil daging dan susu.
Kambing Etawa, masuk ke
Indonesia pertama kali di bawa oleh orang Belanda pada tahun 1920-an, orang
Belanda tersebut membawa banyak kambing Etawa pertamakali ke Pulau Jawa,
tepatnya di Jogyakarta. Kambing ini lebih terkenal sebagai kambing perah /
penghasil susu, dimana saat itu kambing ini di sebut dengan kambing Benggala /
kambing Jamnapari sesuai dengan asalnya di India.
Selanjutnya kambing Etawa
ini dikembangbiakkan di daerah perbukitan Menoreh sebelah barat Jogyakarta dan
di Kaligesing, Purworejo. Seiring dengan perjalanan waktu terjadilah perkawinan
silang antara kambing Etawa dengan kambing lokal, ( seperti kambing Jawarandu
atau kambing Kacang,) dan ternyata keturunan yang dihasilkan lebih bagus
daripada kambing lokal.
Keturunan hasil
persilangan kambing Etawa dengan kambing Jawarandu atau kambing Kacang oleh
masyarakat disebut keturunan Etawa atau Peranakan Etawa.Terkenal dengan
sebutan kambing Peranakan Etawa atau
kambing PE.
Daerah Kaligesing di
Purworejo, Jawa Tengah hingga saat ini merupakan daerah sentra utama peternakan
kambing PE, karena daerah ini berhawa dingin dan memiliki potensi hijauan
melimpah sehingga sangat cocok untuk kambing PE, jika membicarakan kambing PE,
sebagian besar masyarakat langsung teringat daerah ini, sehingga tidak salah
jika kambing PE menjadi trademark daerah Kaligesing.
Kambing adalah hewan dwi
guna, yaitu sebagai penghasil susu dan sebagai penghasil daging (Williamson dan
Payne, 1993). Kambing PE adalah bangsa kambing yang paling populer dan dipelihara secara luas di India dan Asia
Tenggara (Devendra dan Burns, 1994). Ciri-ciri kambing PE adalah warna bulu
belang hitam putih atau merah dan coklat putih, hidung melengkung, rahang bawah
lebih menonjol, jantan dan betina memiliki tanduk, telinga panjang terkulai,
memiliki kaki dan bulu yang panjang (Sosroamidjojo, 1991). Kambing PE telah
beradaptasi terhadap kondisi dan habitat
Indonesia (Hendro, 2015).
Sistem pemeliharaan secara ekstensif
umumnya dilakukan di daerah yang mahal dan sulit untuk membuat kandang, kondisi
iklim yang menguntungkan, dan untuk daya tampung kira-kira tiga sampai dua
belas ekor kambing per hektar (Williamson dan Payne 1993). Sistem pemeliharaan
secara ekstensif, induk yang sedang bunting dan anak-anak kambing yang belum
disapih harus diberi persediaan pakan yang memadai (Devendra dan Burns, 1994).
Rata-rata pertambahan bobot badan kambing yang dipelihara secara ekstensif
dapat mencapai 20-30 gram per hari (Hendro, 2015).
Sistem MRP dikembangkan untuk membantu peternakan
etawa Pomosda mengatasi kebutuhan akan item-item dependent secara lebih baik dan efisien. Disamping itu, sistem MRP
dirancang untuk membuat persediaan
produk untuk mengatur aliran bahan baku dan persediaan dalam proses hingga
sesuai dengan jadwal. Menurut Pontas M.
Paredede (2005:476), beberapa manfaat dan keuntungan penggunaan MRP adalah
(1) untuk menurunkan jumlah sediaan yang dibutuhkan, (2) pengurangan
masa tunggu pembuatan dan pemesanan,(3) pemenuhan jadwal yang lebih tepat, (4)
peningkatan kehematan.
Menurut Daft (2006 : 630) peran penting persediaan dalam analoginya
mengenai bebatuan dan air. Analogi jepang mengenai bebatuan dan air
mendiskripsikan pemikiran saat ini tentang pentingnya persediaan. Air sungai
adalah persediaan dalam organisasi, semakin tinggi air maka para pengelola tidak perlu mengkhawatirkan bebatuan. Ketika
air mulai turun, bebatuan mulai nampak. Begitupun dalam perusahaan, ketika
persediaan mulai turun, masalah mengenai proses produksi mulai nampak.
Peternakan etawa Pomosda merupakan salah
satu Unit Pelaksana Teknis yang bergerak dalam pengembangan kambing Peranakan
Etawa (PE). Dalam proses produksinya Peternakan Etawa Pomosda (PEP) menggunakan
dua metode, yaitu penggemukan dan perah susu. Pada periode Januari-Desember
2015 lalu, penjualan susu mencapai 100 Liter dan 100 anakan.
Permasalahan yang sering terjadi di
Peternakan Etawa Pomosda adalah kurang optimalnya pemberian pakan bernutrisi
disebabkan kekurangan lahan pakan untuk hijauan, sehingga terjadi minimalisir
hijauan, penguatan fermentasi, serta penambahan suplemen makanan. Dengan
pembuatan pakan fermentasi yang kurang memenuhi protein yang dibutuhkan hewan
dan kurangnya lahan hijauan, oleh karena itu penulis dalam tugas akhir ini
memberi judul PENGENDALIAN PAKAN BERNUTRISI DENGAN
METODE PTSA DAN MATERIAL RUQUIREMENT
PLANNING (MRP) PADA PETERNAKAN ETAWA POMOSDA.
1.2 Rumusan Masalah
Permasalahan yang dibahas
dalam penelitian tugas akhir ini adalah :
1. Bagaimana
membangun manajemen perawatan pada peternakan kambing etawa Pomosda
2. Bagaimana
merawat dan menjaga pola pakan agar lebih efisien
3.
Bagaimana manajemen perencanaan pakan
skala besar menggunakan konsep Material
Requirement Planning (MRP)
1.3 Tujuan
Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini mempunyai tujuan :
1. Membangun
manajemen perawatan yang amanah
2. Efisiensi
perawatan dengan memberi pola pakan yang strategis
3. Menerapkan
Material Requirement Planning (MRP)
pada Peternakan Etawa Pomosda
1.4 Batasan
Masalah
Batasan-batasan yang
dipergunakan dalam penelitian tugas akhir ini adalah :
1. Dilakukan
identifikasi awal untuk membatasi obyek penelitian hanya pada departemen
produksi yang paling berpengaruh terhadap aspek lingkungan peternakan.
2. Penelitian
dilakukan hanya terhadap kegiatan proses pemberian pakan yang berpengaruh
terhadap pertumbuhan kambing.
3. Penelitian
hanya dilakukan pada stock pakan kering, pakan hijauan, fermentasi dan gizi.
4. Penelitian hanya menggunakan konsep Material Requirement Planning (MRP) dari proses pemberian pakan
bernutrisi.
BAB 2
LANDASAN TEORI
Dalam bab ini dijelaskan
mengenai teori-teori pendukung diantaranya mengenai lingkungan, pakan alternatif,
super HMT, dan juga konsep Material
Requirement Planning (MRP). Yang diambil dari literature yang berkaitan
dengan penelitian yang dilakukan.
2.1 Lingkungan
Lingkungan
didenfinisikan sebagai kesatuaan ruang dengan semua benda, daya, kedaan dan
mahluk hidup, termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya yang mempengaruhi
kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya.
(sunu, 2001)
2.2 Pakan Alternatif
negara kita merupakan negara kepulauan terbanyak, yang memiliki
berbagai macam ragam ekosistem baik hutan, tanah, rumput, dan lain-lain. Oleh
sebab itu hampir disetiap daerah memiliki berbagai macam jenis pakan, salah
satu pakan alternatif kambing adalah limbah industri, karna selain pakan
hijauan, kambing juga menyukai pakan yang berasal dari limbah pertanian. Limbah
industri yang dapat dijadikan pakan antara lain seperti ampas tahu, ampas
tempe, ampas singkong, bungkil kedelai, bungkil kacang tanah, dedak padi, dan
dedak jagung. Sementara contoh limbah pertanian antara lain seperti jerami
padi, jerami jagung, daun singkong, daun nangka dan limbah kelapa.
2.3 Pakan tambahan
Pakan tambahan berguna untuk memenuhi kebutuhan mineral dan
meningkatkan nafsu makan. Selain itu, pakan tambahan ini bermanfaat untuk
menutupi kekurangan zat gizi yang terdapat pada hijauan. Sumber pakan tambahan
berupa campuran mineral (mineral
mix) dari garam dapur, kapur, dan premix.
2.4 Super HMT
Hijauan Makanan Ternak (HMT)
adalah salah satu material pokok yang sangat menunjang perkembangan kambing,
dengan memberikan pola yang baik akan menghasilkan produk susu dan anakan yang
baik pula. Jenis HMT yang biasa diberikan ternak adalah kelor,
indigofera, gamal, turi, dedi, kalasan, dadap, mahoni, randu, kaliandra, lamtoro, daun nangka,
rumput–rumputan dan lain-lain. Daun yang tidak boleh diberikan ke ternak
bunting adalah randu, trembesi, daun kacang panjang, waru, bunga sepatu. Untuk
lamtoro gung pemberian ke ternak jangan sampai kena air/embun. Efek dari pemberian tersebut usus lengket,
nafsu makan berkurang, bila terpaksa diberikan harus dicampur dengan pakan
lain.
Untuk mencukupi kebutuhan pakan ternak bila full HMT maka caranya harus adlibitum.
Kecuali bila ditambah dengan pakan pendukung yang syarat akan standart
kebutuhan pakan ternak maka pemberian HMT cukup 2 kali sehari.
2.5 Pola Ternak Sehat dan Amanah (PTSA)
Sebuah Unit Pelaksana Teknis (UPT) dalam
wadah Yayasan Lil Muqorobien bagian wujud nyata dari MPPW berfungsi sebagai
sarana secara legalitas kegiatan – kegiatan dalam bidang usaha, pemberdayaan
dan pengembangan potensi bagi warga jamaah atau kerabat baik itu di bidang SDM,
jasa, perdagangan, pertanian, peternakan, perikanan, dan lain sebagainya juga
sebagai elemen pendamping dan pembinaan yang dalam pelaksanaannya profesional
dan selalu berkiblat pada Dawuh Guru, sumpah dan janji serta kaidah 9 yang
mempunyai tujuan membangun sebuah kebersamaan dan kekeluargaan pada konsep sedulur
sinoro wedi pada wujud bebarengan ing suko kulo, yang selalu berpedoman dan
mengedepankan pada musyawarah, koordinasi dan komunikasi.
2.6
Konsep Material Requirement Planning (MRP)
Bahan baku atau pakan
merupakan faktor produksi yang sangat penting karena bahan baku adalah
penunjang berlangsungnya kegiatan produksi. Apabila terjadi kekurangan nutrisi
pakan atau bahkan kehabisan (stock out), maka proses produksi akan
berhenti. Sebaliknya jika terjadi kelebihan bahan baku yang berada dalam gudang
maka akan mengakibatkan naiknya biaya-biaya terkait dengan bahan baku tersebut.
Maka dari itu pengadaan persediaan pakan perlu diperhitungkan, dikendalikan,
direncanakan agar proses produksi tetap lancar dan stabil tanpa ada
keterlambatan pertumbuhan kambing (Material Handling)i atau adanya kenaikan
biaya bahan baku.
MRP didasarkan pada
permintaan dependen. Permintaan dependen adalah permintaan yang disebabkan oleh
permintaan terhadap item level yang lebih tinggi. Misalnya permintaan akan
mesin cacah rumput, merupakan permintaan
dependen yang tergantung pada permintaan otomobil. MRP digunakan pada berbagai
industri terutama yang berkarakteristik job-shop,
yakni industri yang memproduksi sejumlah produk dengan menggunakan peralatan
produksi yang relatif sama.
Metode yang
tepat untuk melakukan
hal tersebut adalah Materiall Requirement Planning (MRP),
karena MRP memiliki manfaat yaitu “dapat digunakan untuk perencanaan dan
pengendalian item barang (komponen) yang tergantung pada item-item ditingkat
(level) yang lebih tinggi”(Nasution,2003:127) MRP akan sangat membantu apabila
diterapkan dalam perencanaan kebutuhan pakan yang dalam permintaan tiap
komponen tersebut tergantung pada jumlah produk akhir yang dihasilkan.
Sebelum melangkah lebih jauh , perlu kita
ketahui terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan MRP menurut Daft ( 2006 : 634
) MRP adalah system pengendalian dan perencanaan persediaan yang bergantung
pada permintaan yang menjadwalkan jumlah yang tepat dari semua material yang
dibutuhkan untuk mendukung produk akhir yang diinginkan.
Dalam penerapanya, metode
Material Requirement Planing
(MRP)
mempertimbangkan adanya tenggang
waktu (lead time) pemesanan maupun proses produksi
suatu komponen. Sehingga kapan komponen harus dipesan atau diproduksi bisa
ditetapkan.
2.7 Manfaat Material Requirement Planning (MRP)
1.
Membantu perencanaan kapasitas
ternak
2.
Peningkatan pemanfaatan fasilitas
dan tenaga kerja
3.
Perencanaan dan penjadwalan pakan
yang lebih baik
4.
Tanggapan yang lebih cepat terhadap
perubahan dan pergeseran pasar
5.
Memperluas dan mengurangi lahan
pakan .
6.
Memberikan catatan kemajuan ke
manajer, sehingga manajer lebih mudah membuat keputusan.
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian tugas akhir ini
memerlukan suatu kerangka penelitian yang sistematis dan terarah berdasarkan
permasalahan yang ditinjau agar proses penelitian dan hasil yang diperoleh
nantinya tepat pada sasaran. Kerangka penelitian ini selanjutnya disebut
metodologi penelitian. Pada bab ini akan dijelaskan tahapan-tahapan dalam
pelaksanaan penelitian.
3.1 Tahap
Identifikasi
Tahap
identifikasi merupakan langkah awal dari proses penelitian yang dilakukan. Pada
tahap ini dilakukan pengidentifikasian masalah dan dilanjutkan dengan penetapan
tujuan serta manfaat penelitian. Studi kepustakaan dilakukan untuk memperoleh
teori-teori pendukung yang akan digunakan untuk menyelesaikan permasalahan yang
dihadapi dan menggali informasi yang berkaitan dengan penelitian dan juga
model-model apa yang dapat digunakan dalam konsep Material Requirement Planning (MRP)
3.2 Obyek Penelitian
Penelitian ini
dilakukan di Peternakan Etawa Pomosda Kecamatan Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk.
Yang memelihara kambing peranakan etawa (PE).
3.2 Indentifikasi
Masalah
Permasalahan yang
diangkat dalam penelitian tugas akhir ini adalah mengenai konsep Material Requirement Planning (MRP)yang
terintegrasi pada Peternakan Kambing Etawa Pomosda, Tanjunganom, Nganjuk.
3.3 Teknik
Pengumpulan Data
Adapun teknik
pengumpulan data yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini, yaitu :
1. Studi
Lapangan
Dalam
penelitian ini penulis melakukan kegiatan berupa :
a.
Observasi
Studi
lapangan atau observasi dilakukan dengan langsung mendatangi lokasi yang akan
diteliti. Observasi bertujuan untuk mengetahui dan memahami kondisi nyata dari
obyek penelitan dengan melihat sistem permasalahan maupun proses produksi yang
berkaitan dengan penelitian tugas akhir yang dilakukan.
b. Sharing
Pihak
manajemen kandang sangat terbuka dan memberikan penulis keleluasaan berupa
forum terbuka yang membahas berbagai problem kandang, baik perawatan, perah
susu, pakan serta administrasi.
c. Studi
Dokumenter
Studi dokumenter dilakukan untuk
mempelajari dokumen-dokumen dan arsip yang ada di perusahaan atau pihak lain
yang berkenaan dengan masalah dalam penelitian yang dilakukan oleh penulis.
2. Studi
Pustaka
Studi kepustakaan
dilakukan untuk memperoleh berbagai informasi mengenai teori-teori yang dapat
digunakan untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi, serta mengembangkan
pengetahuan dan wawasan dari peneliti.
Studi kepustakaan dilakukan dengan mengikuti pelatihan, workshop, membaca
literatur-literatur maupun jurnal-jurnal yang ilmiah yang relevan dengan
permasalahan yang dihadapi dalam penelitian tugas akhir.
3.4 Seleksi
Data
Seleksi
data dilakukan untuk mengetahui data mana yang memang benar-benar dibutuhkan
dan data yang paling penting untuk mendukung dalam melakukan penelitian oleh
penulis, baik data dalam bentuk angka ataupun informasi.
3.5
Pengolahan Data
Setelah
penulis mendapat data, baik dalam bentuk angka atau informasi, penulis mengolah
data dengan menganalisis menggunakan metode Material Requirement Planning (MRP) yaitu mengolah data output
input stock pakan perhari di Peternakan Etawa Pomosda . Cara mengolah data persediaan
barang dengan mendesain ulang proses pemberian pakan untuk meraih perbaikan maksimal
dalam ukuran performansi yang efisien, guna menambah nilai fungsi dan nilai tambah
pada pemberian pakan tersebut.
BAB 4 ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
4.1 Pengadaan pakan
Keterangan
:
Pakan
yang diberikan dapat terdiri dari
1. Fermentasi
2. Campuran bekatul,ampas tahu,kulit kopi
3. Hijauan
Dengan pola pemberian di lakukan dua
kali dalam sehari yaitu :
1. Pagi
jam 08.00,Campuran ampas tahu,bekatul,kulit kopi dengan takaran rata di campur
dengan air yang di beri Pupuk cair Manutta gold.
2. Siang
hari jam 13.00 pemberian air kedelai
3. Sore
jam 16.00 pemberian hijauan. Pemberian hijauan ini di perbanyak dengan
perkiraan habis pada pagi hari atau dengan tujuan agar malam hari kembing tetap
makan.
Pemberian jarak pada pemberian pakan ini
bertujuan agar ada waktu untuk pengunyahan ke dua pada ternak. Dan memerlukan
waktu minimal 7 jam jarak pemberian pakan . Akan tetapi untuk pakan fermentasi
bisa lebih pendek karna sudah terproses dalam fermentasi tersebut. Oleh karena
itu,para peternak penggemukan biasanya menggunakan metode full fermentasi pada
ternak.
4.2 Analisis Dengan Metode Material
Requirement Planning
Dengan
adanya kerjasama dengan perusahaan tahu, peternak dapat memberikan sarana
logistik pada kambing. Biasanya pakan tersebut rutin kita ambil untuk pakan
pendukung, dan harga yang relatif lebih murah sehingga dapat meminimasi
pengeluaran. Diperlukan pengendalian persediaan (pembelian – penyimpanan –
penjualan) pakan kambing yang tepat agar peternak mampu memberikan sarana
logistik dalam menyediakan kebutuhan pakan kambing untuk plasma – plasma mitra.
Dalam penelitian ini menggunakan metode MRP (Material Requirement Planning)
untuk menentukan jumlah persediaan pakan kambing, kapan pemesanannya sehingga
dapat mendukung kelancaran operasional. Dalam metode MRP menggunakan teknik lot
sizing lot-for-lot karena sesuai dengan entitas bisnis, teknik ini selalu
melakukan perhitungan kembali (dinamis), terutama jika ada perubahan dalam
kebutuhan bersih. Penelitian ini menggunakan ukuran biaya sediaan pakan kambing
di Peternakan Etawa Pomosda pada periode Mei tahun 2016. Perhitungan antara
kebijakan perusahaan dengan menggunakan metode MRP mengalami penurunan sehingga
dapat melakukan efisiensi biaya sebesar Rp1.000.000,- yang awalnya total biaya
persediaannya sebesar Rp3.000.000,- turun menjadi Rp2.0000.000,-..
BAB 5 PENUTUP
Sebagai akhir dari penulisan
tugas akhir ini dapat ditarik kesimpulan dari keseluruhan isi untuk dapat
dipergunakan sebagai alternatif atau jalan keluar dari permasalahan maupun
kekurangan yang timbul, berkaitan dengan penulisan tugas akhir ini. Sehingga
kesimpulan yang didapat nantinya bisa menjadi sebuah harapan atau saran yang
bermanfaat kepada semua pihak.
Demikian proposal tugas
akhir ini penulis buat. Penulis menyadari masih banyak kekurangan dengan segala
keterbatasan pengetahuan dan kemampuan penyusunan ini. Semoga bermanfaat baik
bagi penulis dan bagi pembaca.
REF. JURNAL atau TUGAS AKHIR TERKAIT
No.
|
Judul
|
Pengarang
|
1.
|
Materi pelatihan peternakan kambing domba
Indonesia di Kediri
|
Ir. Sumanto
|
2.
|
PTSA Pomosda
|
Ad/Art Taliati Pomosda
|
3.
|
Metode Ramalan Kuantitatif
|
J Supranto, M.A
|
4.
|
Sistem Informasi Manajemen
|
Raymond McLeod, Jr
|
5.
|
Statistical Methods
|
Edward, Allen, L.,
|
DAFTAR PUSTAKA
Ascher, William, forecasting, on Approisal for Policy-maker,
The Johns Hopkins, University Press, (Second Printing), 1979
Bulter, William,
F,; Kavesh, Robert, A; Platt, B., (Ed), Metholds
and Techniques of Bussines Forecasting, Prentice-Hall, Inc.,
Supranto, J. M.A,. Metode Riset dan Aplikasinya dalam
Pemasaran, Lembaga penerbit Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia, Edisi kelima,
Jakarta 1992
Raymond McLeod, Jr Sistem Informasi Manajemen,. ,. Editor
Hardi Sukardi MBA., SE (MM-UI)
Marrel, James, ManajemenDecision and The Rol of Forecasting,
Penguin books, 1972
Comments
Post a Comment