Korelasi mahasiswa, tugas akhir dan masa depan

Mahasiswa Dok.pri
      Harus di akui, pengelolaan lulusan sarjana di Indonesia masih jauh dari pemberdayaan atau sedang mengalami dilema. Data yang di himpun Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2014 menunjukkan, berjumlah  688.680 orang (9,5 persen) total pengangguran yang merupakan alumni perguruan tinggi. pengangguran paling tinggi  merupakan Universitas bergelar S-1 sejumlah 495.143 orang. Angka pengangguran terdidik pada 2014 itu meningkat dibandingkan pengangguran lulusan perguruan tinggi pada 2013 yang hanya 8,36 persen (619.288 orang) dan pada 2012 sebesar 8,79 persen (645.866 orang).
Bukan tanpa alasan, hal ini terjadi ketimpangan antara Universitas asal mahasiswa dan jumlah serapan tenaga kerja yang siap pakai  oleh perusahaan Industri tidak sebanding sama sekali. Iinillah yang menjadi alasan dampak lulusan sarjana saban tahun semakin bertambah dan memprihatinkan, 
Sebagai seorang sarjana maupun calon sarjana, bagaiamanakah kita menyikapi hal demikian. 
Tulisan ini kurang lebihnya akan membahas hubungan mahasiswa dan perkembangan peradaban. Bagaimana mensinergikan kegiatan kita sebagai pelajar, menyelesaikan tahab belajar, serta mempersiapkan apa yang harus kita lakukan setelah melewati proses belajar di perguruan tinggi berupa Tugas Akhir / Skripsi.
<<Korelasi mahasiswa dengan Tugas Akhir>>
     Apa hubungannya tugas akhir dengan masa depan? mungkin tidak ada. Karena perusahaan tidak membutuhkan hasil laporan selama kita di perkuliahan, dan jelas berbeda materi yang kita dapatkan  di perusahaan dengan materi kuliah. Namun, tugas akhir berhubungan dengan pribadi mahasiswa itu sendiri. Ini rincianya
Seberapa seriuskah kita belajar di kelas? lalu seberapa jauh kita berkontribusi dengan elemen masyarakat, asosiasi lembaga, komunitas dan lainya. Seberapa banyak kita bisa memberi usulan dari wawasan yang kita dapatkan dari kuliah. Jika hal ini kurang, lalu pertanyaan selanjutnya, seberapa banyak kita menjawab soal-soal di kegiatan akademik. Membuat proposal, makalah, UTS, UAS, Prakerin, dan tentunya Tugas Akhir. Jika hal ini masih membuat kita pusing, pertanyaan yang menunggu, apa yang dapat kita lakukan setelah selesai kuliah.
Pengalaman penulis yang saat ini masih kuliah di Sekolah Tinggi Pomosda (STT Pomosda ) yang berada di Jl. KH. Wachid Hasyim No.304 Nganjuk, Jatim mungkin tidak teralu banyak berbeda dengan mahasiswa yang lain, Namun selama hampir empat tahun mengenyam pendidikan disini, penulis mempunyai beberapa perspektif tentang Tugas Akhir sebagai berikut :

  • Tugas Akhir adalah masa yang harus kita lewati sebagai tolok ukur kapada diri kita, seberapa banyak kita memahami jurusan yang kita ambil, seberapa serius kita menyelesaikannya, seberapa sering kita konsultasi dengan dosen.
  • Tugas akhir itu sederhana, sesederhana kita menimbang keputusan untuk melakukan sesuatu, mempresentasikan ke orang lain dan mempertanggungjawabkannya.
  • Membaca semua buku-buku yang berhubungan dengan jurusan yang kita ambil, akan sangat membantu kita menyelesaikan tugas akhir meski kita pada saat kuliah tidak memahami materinya.
  • Menyelesaikan tugas akhir, sama dengan menyelesaikan masalah-masalah yang sering kita hadapi setiap hari.
  • Dengan demikian, erat kaitan tugas akhir dengan masadepan mahasiswa dan tolak ukur seberapa dewasa kita menerima penghargaan sebagai sarjana yang siap memajukan kesejahteraan nusa dan bangsa.
<< Korelasi mahasiswa dengan masa depan>>
    Masa depan adalah apa yang kita lakukan saat ini, jika kita bersungguh-sungguh menjadi pelajar yang baik, tahu porsi dan memiliki tujuan, masa depan kita tidak jauh apa yang kita impikan. Mana ada orang sukses berbagi pengalaman bermalas-malasnya, mana ada orang sukses berbagi pengalaman masa muda dengan bermain-main kisah kasmaranya dan berganti pasangan dan lain-lain. Kenyataan, mereka yang sukses, berbagi kisahnya dengan sering belajar, sering membaca, mencari tahu hal-hal yang orang lain bahkan tidak peduli. Kita ambil contoh menteri kelautan dan perikanan Susi Pudji Astuti yang kebanyakan orang heran dengan orang yang tidak lulus SMA, namun banyak yang tidak melihat sisi edukasinya, yang ternyata beliau belajarnya melebihi mereka yang mengenyam pendidikan disekolah, Bu menteri sedari dulu suka membaca buku, dan yang dipelajari buku-buku yang kebanyakan temanya tidak memahami.
Atau kisah Soekarno, yang sehari bisa menghabiskan 7 buah buku, dan lain-lain yang semuanya ternyata butuh belajar ekstra dan konsisten.
Demikian, bagaimanakah mahasiswa ikut andil memajukan Perekonomian agar tidak terjadi ketimpangan seperti saat ini.Padahal, Indonesia saat ini sedang mendapatkan bonus demografi, jika di barengi dengan lulusan berkompeten harusnya akan menjadikan negara indonesia memperkuat perekonomian, menjadi posisi teratas seluruh negara di dunia. 
Bonus demografi di tahun 2020-2030 haruslah kita siapkan sebaik mungkin. Hal inilah yang menjadi tantangan para calon wisudawan Indonesia untuk lebih produktif mengembangkan sains dan teknolgi.
Baca juga :  Pendidikan berkarakter

Comments

Popular Posts